Lepat Gayo Aceh, Kuliner Tradisional yang Menguatkan Ukhuwah di Bulan Ramadhan
Sabtu, 21 Februari 2026 | 16:30 WIB
Aceh Tengah, NU Online
Masyarakat Tanah Gayo, Aceh, memiliki tradisi khas menyambut Ramadhan dengan saling menghantarkan makanan. Di wilayah dataran tinggi yang meliputi Kabupaten Gayo Lues, Aceh Tengah, dan Bener Meriah, kebiasaan ini menjadi bagian dari budaya guyub yang terus terjaga hingga kini.
Salah satu kuliner yang identik dengan tradisi tersebut ialah Lepat Gayo. Penganan tradisional ini dibuat dari campuran labu, ketan, atau singkong yang dihaluskan, kemudian dicampur gula aren dan air. Adonan dibungkus daun pisang, dikukus hingga matang, lalu diasapi untuk menghasilkan aroma khas sekaligus memperpanjang daya simpan.
Bagi masyarakat Gayo, lepat bukan sekadar makanan berbuka puasa. Menjelang dan selama Ramadhan, hampir setiap rumah membuat lepat dalam jumlah banyak untuk dibagikan atau ditukarkan dengan tetangga. Tradisi saling mengantar ini menghadirkan suasana hangat dan mempererat silaturahim.
Baca Juga
Berwisata Kuliner di Pasar Ramadhan
Tokoh agama setempat, Tgk. Mursyidin, menilai tradisi tersebut selaras dengan ajaran Islam tentang ukhuwah dan berbagi.
“Ramadhan mengajarkan kita memperkuat silaturahim dan memperbanyak sedekah. Tradisi lepat ini menjadi bentuk nyata nilai itu dalam budaya masyarakat Gayo,” ujarnya, Sabtu (21/2/2026).
Menurutnya yang juga Wakil Ketua MPJ Aceh Tengah, kebiasaan saling menghantarkan makanan menjadi momentum saling memaafkan sebelum memasuki bulan suci. Interaksi dari rumah ke rumah membuka ruang dialog dan memperkuat harmoni sosial.
Pandangan serupa disampaikan Tgk. Iswadi Laweung atau Abah Iswadi, pemerhati budaya dan sosial keagamaan dari UNISAI Samalanga. Ia menyebut Lepat Gayo sebagai warisan kultural yang memiliki dimensi kuliner, sosial, sekaligus spiritual.
“Dalam tradisi seperti ini, kita melihat bagaimana agama dan budaya berjalan beriringan. Nilai-nilai Islam diterjemahkan ke dalam praktik sosial yang membumi,” katanya.
Menurut Abah Iswadi, makanan dalam tradisi tersebut menjadi medium dakwah kultural. Tanpa ceramah panjang, masyarakat belajar tentang berbagi, kebersamaan, dan saling menghormati.
Ia juga menekankan pentingnya pelestarian kuliner tradisional di tengah arus modernisasi. Generasi muda, katanya, perlu diberi ruang untuk mengenal dan mengembangkan warisan leluhur tanpa menghilangkan nilai aslinya.
Secara rasa, Lepat Gayo menawarkan perpaduan manis dan legit dari gula aren dengan tekstur lembut bahan dasar labu atau ketang. Aroma daun pisang yang menyatu dengan proses pengasapan menciptakan cita rasa khas yang menjadi identitas kuliner Ramadhan di Tanah Gayo.
Tradisi Lepat Gayo menunjukkan bahwa nilai kebersamaan tetap terjaga melalui cara-cara sederhana. Di setiap bungkus daun pisang itu, tersimpan doa dan harapan akan keberkahan Ramadhan serta harmoni antara agama dan budaya yang terus diwariskan antargenerasi.