Nasional

Lesbumi PBNU Gelar Muktamar Kebudayaan dan Rakornas VII 2026 di Tambakberas Jombang

Kamis, 4 Juni 2026 | 08:00 WIB

Lesbumi PBNU Gelar Muktamar Kebudayaan dan Rakornas VII 2026 di Tambakberas Jombang

Muktamar Kebudayaan Lesbumi. (Foto: dok Lesbumi)

Jakarta, NU Online

Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (Lesbumi PBNU) akan menyelenggarakan Muktamar Kebudayaan Indonesia di Universitas KH A Wahab Hasbullah (Unwaha), Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.


Kegiatan bertajuk Kembali ke Akar: Menguatkan Fondasi Kebudayaan NU dalam Krisis Peradaban Global itu akan berlangsung pada 12-14 Juni 2026.


Informasi tersebut tertuang dalam Surat Nomor 131/B.2/LESBUMI/V/2026 yang ditandatangani Ketua Lesbumi PBNU KH M Jadul Maula dan Sekretaris Umum Inaya Wulandari Wahid, serta ditujukan kepada pengurus Lesbumi di berbagai daerah.


“Iya, benar,” ujar Ketua Lesbumi PBNU KH M. Jadul Maula saat dikonfirmasi NU Online, Rabu (3/6/2026).


Muktamar Kebudayaan Indonesia bertujuan membedah relevansi dan aktualisasi jati diri keulamaan para muassis NU di era negara-bangsa modern.


Selain itu, forum tersebut juga ditujukan untuk merumuskan manifestasi Jihad Peradaban dalam merespons krisis geopolitik global serta mengkaji tata kelola negara pascaamandemen UUD 1945 dalam kaitannya dengan spirit Pembukaan UUD 1945.


Lebih jauh, muktamar ini juga akan membahas titik temu fikih lingkungan dengan realitas konsesi tambang yang diterima NU pada 2024, sekaligus mengembangkan pemikiran Aswaja An-Nahdliyah dalam menghadapi persaingan teknologi yang terus berkembang.


Dalam Muktamar Kebudayaan Indonesia, terdapat lima komisi yang akan membahas sejumlah isu strategis.


Pertama, Komisi Khittah yang membahas jati diri keulamaan di ruang sekuler dengan meninjau kembali Qanun Asasi NU.


Kedua, Komisi Geopolitik yang mengangkat tema Resolusi Jihad dalam Pusaran Konflik Global sebagai kontekstualisasi Fatwa Jihad 1945 dalam perspektif jihad peradaban.


Ketiga, Komisi Kenegaraan yang membahas konsistensi antara Piagam Jakarta dan Pembukaan UUD 1945 dengan dinamika ketatanegaraan pascaamandemen.


Keempat, Komisi Ekologi dan Organisasi yang mengkaji fikih tambang serta dilema kebijakan antara keputusan haram tambang tahun 2015 dan konsesi tambang yang diterima NU pada 2024.


Kelima, Komisi Aswaja dan Teknologi yang membahas epistemologi Aswaja sebagai landasan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.


Kegiatan ini akan dihadiri budayawan, seniman, dan cendekiawan Lesbumi se-Indonesia, perwakilan PWNU dan PCNU, akademisi, pengamat sosial-politik, aktivis lingkungan, serta pemerhati sejarah dan hukum tata negara.


Adapun luaran yang diharapkan dari Muktamar Kebudayaan Indonesia adalah lahirnya Manuskrip Kebudayaan 2026 yang berisi rekomendasi strategis bagi PBNU dan Pemerintah RI.


Selain itu, akan disusun Manifesto Kembali ke Akar sebagai pernyataan sikap kebudayaan atas berbagai isu kontemporer, Buku Putih Pemikiran yang memuat esai dan analisis dari lima komisi, serta Perencanaan Strategis sebagai arah gerakan kultural Lesbumi NU ke depan.


Panitia berharap muktamar ini tidak hanya menjadi ruang diskusi, tetapi juga momentum bagi NU untuk meneguhkan perannya sebagai penjaga nilai-nilai moral dan kebudayaan bangsa.


“Dengan kembali ke akar, kita berharap menemukan kekuatan untuk tumbuh lebih tinggi tanpa tercerabut dari bumi tempat kita berpijak,” pungkas Kiai Jadul Maula.