LKNU dan Arsinu Susun Peta Jalan Digitalisasi Layanan Kesehatan NU
Jumat, 4 September 2026 | 08:00 WIB
Para pembicara dan peserta Silatnas Lembaga Kesehatan NU se-Indonesia di Unipdu Peterongan, Jombang, Jawa Timur, pada Sabtu (29/8/2026) (Foto: LKNU)
Jakarta, NU Online
Jaringan layanan kesehatan Nahdlatul Ulama (NU) mulai diarahkan untuk memasuki era layanan kesehatan berbasis digital. Penguatan Rekam Medis Elektronik (RME), pemanfaatan kecerdasan buatan (AI), pelaksanaan Cek Kesehatan Gratis (CKG), hingga pengembangan klinik berbasis pesantren menjadi sejumlah agenda yang mengemuka dalam konsolidasi lembaga kesehatan NU.
Agenda tersebut menjadi salah satu hasil Silaturahim Nasional Lembaga Kesehatan NU se-Indonesia yang mempertemukan Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) dan Asosiasi Rumah Sakit Nahdlatul Ulama (Arsinu) di kampus Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (Unipdu) Peterongan, Jombang, Jawa Timur, pada Sabtu, 29 Agustus 2026 lalu..
Forum tersebut menghasilkan peta jalan kolaborasi antara jaringan kesehatan NU dan sejumlah pemangku kepentingan untuk enam bulan ke depan. Peta jalan itu mencakup pemetaan kesiapan pesantren dan fasilitas kesehatan NU, pelaksanaan CKG serta skrining komunitas hingga tindak lanjutnya, dan penguatan kesiapan RME serta mutu data fasilitas kesehatan NU.
Ketua LK PBNU periode 2021–2026 sekaligus Ketua Umum Arsinu, dr HM Zulfikar As'ad (Gus UFIK) menilai penguatan jaringan dan sinergi menjadi bagian penting dalam memperluas khidmah NU di bidang kesehatan.
"Forum tersebut juga menyoroti kebutuhan fasilitas kesehatan NU untuk beradaptasi dengan transformasi digital dalam ekosistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)," ujarnya dalam rilis yang diterima NU Online, Kamis (3/9/2026).
Direktur Teknologi Informasi BPJS Kesehatan Setiaji, menjelaskan digitalisasi layanan kesehatan diarahkan untuk memperluas jangkauan masyarakat sekaligus menghubungkan layanan yang selama ini berjalan secara terpisah, mulai dari pesantren, kader, puskesmas, klinik, rumah sakit hingga kanal JKN.
Menurutnya, digitalisasi tidak dimaksudkan untuk menggantikan peran kiai, pengurus, santri, tenaga kesehatan, maupun relawan. "Sebaliknya, teknologi diharapkan menjadi sarana untuk memperkuat jejaring layanan yang telah tumbuh di lingkungan NU," kata Setiaji.
Ia juga menyoroti pentingnya pemanfaatan AI dan percepatan penerapan RME di fasilitas kesehatan NU. Dalam konteks tersebut, santri didorong turut menjadi penggerak transformasi digital di lingkungan pesantren.
RME Jadi Kebutuhan Fasilitas Kesehatan NU
Direktur Pelayanan BPJS Kesehatan dr Abdi Kurniawan Purba menegaskan RME menjadi kebutuhan penting dalam proses klaim JKN. Hal tersebut sejalan dengan integrasi RME dan SATUSEHAT dalam pengelolaan klaim JKN.
Ia mendorong rumah sakit anggota Arsinu segera mempercepat penerapan RME sekaligus meningkatkan kualitas data fasilitas kesehatan.
Selain digitalisasi, Abdi juga mendorong pengembangan klinik rawat inap sebagai bagian dari upaya meningkatkan mutu pelayanan dan mengurangi klaim yang tertunda.
Dari sisi perumahsakitan, Ketua Persi Jawa Timur dr. Bangun T. Purwaka menekankan pentingnya membangun rumah sakit NU yang bermutu, efisien, dan berkelanjutan.
Ia menjelaskan, tatanan rumah sakit saat ini harus berpijak pada tiga pilar, yakni bermutu, efisien, dan berkelanjutan. "Rumah sakit dituntut memberikan layanan sesuai standar, mengelola biaya secara efisien, sekaligus menjaga keberlangsungan sumber daya dalam jangka panjang," kata Bangun.
Ia juga mendorong perubahan pola pikir pembiayaan dari “biaya ditambah margin sama dengan harga” menuju lean thinking. Dengan pendekatan tersebut, margin diperoleh melalui efisiensi biaya tanpa mengorbankan mutu layanan.
Menurutnya, akreditasi rumah sakit dan sistem rujukan berbasis kompetensi juga penting agar pelayanan kesehatan tidak tumpang tindih. Ia mengajak jejaring rumah sakit dan klinik NU menjadikan kolaborasi dan sinergi sebagai strategi baru dalam membangun ekosistem layanan kesehatan NU dari hulu hingga hilir.