LSP Pagar Nusa Jalani Asesmen Penuh BNSP untuk Perkuat Kualitas SDM
Senin, 26 Oktober 2026 | 07:00 WIB
Asesmen penuh terhadap Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Pagar Nusa dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) di kantor LSP Pagar Nusa, Jalan Dempo Nomor 3, Pegangsaan, Menteng, Jakarta, Ahad (25/10/2026). (Pagar Nusa)
Jakarta, NU Online
Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Pagar Nusa menjalani asesmen penuh dalam rangka pengajuan lisensi awal dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) di kantor LSP Pagar Nusa, Jalan Dempo Nomor 3, Pegangsaan, Menteng, Jakarta, Ahad (25/10/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari ikhtiar Pagar Nusa memperkuat kualitas sumber daya manusia melalui pengembangan sistem penjaminan kompetensi.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Pagar Nusa sekaligus Dewan Pengarah LSP Pagar Nusa Muchamad Nabil Haroen mengatakan, pengembangan lembaga sertifikasi memiliki arti strategis dalam menghubungkan pengalaman di lapangan dengan standar kompetensi yang jelas.
“Kita sedang membangun jembatan antara pengalaman yang tumbuh di lapangan dengan standar kompetensi yang jelas dan proses penilaian yang terpercaya,” ujar pria yang akrab disapa Gus Nabil tersebut.
Baca Juga
Gus Maksum, Sang Pendekar Pagar Nusa
Menurutnya, banyak orang telah belajar dan mengabdi selama bertahun-tahun. Pengalaman itu perlu memperoleh ruang pengakuan melalui mekanisme pembuktian kompetensi yang tertib. Sementara itu, kekurangan yang ditemukan perlu menjadi dasar untuk menentukan arah peningkatan kemampuan.
Gus Nabil menegaskan bahwa penguatan kompetensi merupakan bagian dari tanggung jawab organisasi kepada masyarakat. Setiap orang yang menjalankan pekerjaan atau pelayanan harus memiliki kemampuan yang dapat dipertanggungjawabkan.
“Bagi kami, kompetensi harus dapat dibuktikan. Orang yang menjalankan suatu tugas perlu memiliki pengetahuan yang memadai, keterampilan yang teruji, serta sikap kerja yang dapat dipertanggungjawabkan,” tuturnya.
Ia berharap pengembangan LSP dapat meningkatkan mutu SDM, memperkuat budaya profesional, serta membuka ruang pengabdian yang semakin luas bagi kader dan masyarakat.
Berakar pada Pendidikan Pesantren
Gus Nabil menjelaskan, pengembangan LSP Pagar Nusa memiliki landasan nilai yang tumbuh dalam tradisi pesantren. Pagar Nusa lahir dan berkembang melalui keteladanan para kiai serta pendidikan yang menyatukan ilmu, keterampilan, dan akhlak.
“Di tempat latihan, seorang murid belajar gerakan sekaligus belajar disiplin. Ia belajar memiliki keberanian sekaligus mengendalikan diri. Ia belajar menjadi kuat sekaligus memahami tanggung jawab atas kekuatannya,” ungkapnya.
Nilai-nilai tersebut, lanjutnya, perlu tercermin dalam pengembangan kelembagaan. Kecakapan harus berjalan bersama kejujuran, tanggung jawab, dan kesadaran untuk memberikan manfaat kepada sesama.
Ia menghubungkan ikhtiar tersebut dengan ajaran pesantren untuk menjaga amanah dan menyerahkan urusan kepada ahlinya. Orang yang kompeten perlu memperoleh pengakuan melalui proses yang dapat dipercaya, sedangkan mereka yang masih membutuhkan peningkatan kemampuan perlu mendapatkan arah perbaikan yang jelas.
Menjaga Integritas Sertifikasi
Dalam arahannya, Gus Nabil menekankan tiga perhatian utama bagi pengelola LSP Pagar Nusa, yakni integritas penilaian, konsistensi pelaksanaan sistem, dan keterbukaan terhadap evaluasi.
Ia menegaskan bahwa keputusan sertifikasi harus didasarkan pada bukti kompetensi. Nama besar organisasi justru menjadi tanggung jawab untuk memenuhi standar secara sungguh-sungguh.
“Setiap keputusan sertifikasi harus bertumpu pada bukti kompetensi. Kedekatan pribadi, jabatan organisasi, maupun lamanya seseorang bergabung tidak boleh menggantikan proses penilaian,” tegasnya.
Menurutnya, sertifikat membawa kepercayaan peserta, lembaga pengguna, dan masyarakat. Karena itu, proses sertifikasi harus dilaksanakan secara jujur, objektif, dan dapat ditelusuri.
“Sertifikat adalah amanah. Di baliknya ada kepercayaan peserta, lembaga pengguna, dan masyarakat. Kepercayaan tersebut harus kita rawat melalui proses yang jujur, objektif, dan dapat ditelusuri,” jelasnya.
Gus Nabil juga mengingatkan agar perangkat kelembagaan benar-benar diterapkan dalam pekerjaan sehari-hari. Hal itu mencakup pembagian tanggung jawab, pelaksanaan tugas asesor sesuai kewenangan, pemeliharaan perangkat asesmen, dan ketertiban rekaman pelaksanaan.
Selain itu, peserta perlu memperoleh informasi yang jelas, perlakuan yang adil, serta kesempatan menyampaikan keluhan maupun banding sesuai prosedur. “Saya ingin LSP Pagar Nusa tumbuh menjadi lembaga yang mutu pelayanannya dapat dirasakan dan konsistensinya dapat diperiksa,” ujarnya.
Tindak Lanjut Asesmen
Asesmen penuh tersebut melibatkan tim BNSP yang terdiri atas Muhammad Nur Hayid sebagai ketua tim, Wulan Dhari sebagai anggota, serta Wahyu Yudowibowo sebagai observer.
Dalam penutupan kegiatan, Muhammad Nur Hayid menekankan bahwa asesmen merupakan bagian dari perjalanan pengembangan lembaga. Ia meminta pengelola segera mengoordinasikan tindak lanjut hasil asesmen untuk memperkuat kesiapan LSP.
“Ini awal dari sebuah perjalanan,” ujarnya.
Ketua LSP Pagar Nusa M. Nashrul Fani, yang akrab disapa Boni, menyatakan kesiapan jajaran pengelola untuk menindaklanjuti hasil asesmen. Masukan tim BNSP menjadi bahan penyempurnaan tata kelola dan sistem penjaminan mutu lembaga.
“Seluruh catatan kami terima sebagai bahan pembenahan untuk memperkuat tata kelola dan sistem penjaminan mutu lembaga,” katanya.
Ia menegaskan komitmen pengelola untuk menyiapkan penyelenggaraan sertifikasi yang dapat dipercaya. Tindak lanjut dilakukan melalui koordinasi dan pembagian tugas internal agar perbaikan dapat diselesaikan secara terarah.
“Kami berkomitmen menjalankan proses sertifikasi secara profesional, akuntabel, dan tidak berpihak,” tuturnya.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Wakil Ketua Umum PP Pagar Nusa Edy Junaedi serta jajaran pengelola LSP, di antaranya Ajeng Eksa Priasni dari manajemen mutu, Yudhi Triawan dari komite skema, dan Manajer Sertifikasi Agus Bahauddin.
Gus Nabil berpesan agar seluruh pengelola mengikuti proses evaluasi secara terbuka dan menjadikannya sebagai kesempatan memperkuat lembaga. “Apabila terdapat temuan atau kekurangan, mari kita perbaiki secara bertanggung jawab. Dari proses seperti inilah lembaga akan tumbuh lebih matang,” pesannya.
Asesmen penuh ini merupakan tahapan dalam proses pengajuan lisensi awal LSP Pagar Nusa. Pengelola selanjutnya menindaklanjuti hasil asesmen sesuai prosedur BNSP sebelum penetapan hasil akhir proses lisensi.