Nasional

Maju Calon Ketua Umum PBNU, Gus Yusuf Soroti Tata Kelola Organisasi dan Penguatan Pesantren

Jumat, 24 Juli 2026 | 17:00 WIB

Maju Calon Ketua Umum PBNU, Gus Yusuf Soroti Tata Kelola Organisasi dan Penguatan Pesantren

KH Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf). (Foto: NU Online/Suwitno)

Jakarta, NU Online

Pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo Magelang, Jawa Tengah, KH Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf) menyatakan kesiapannya maju sebagai calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada Muktamar Ke-35 NU.


Pencalonannya mendapat dukungan dari 23 Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) se-Jawa Tengah dalam kegiatan Lamaran Agung Maklumat Dukungan PCNU Jawa Tengah kepada KH Muhammad Yusuf Chudlori yang digelar di Aula Pondok Pesantren API Tegalrejo, Magelang, Sabtu (18/7/2026).


Kegiatan tersebut dihadiri para kiai, pengurus NU, aktivis NU, serta alumni sejumlah pesantren, di antaranya Pondok Pesantren Lirboyo, Pondok Pesantren API Tegalrejo, dan Pondok Pesantren Al-Falah Ploso.


Selain Gus Yusuf, sejumlah nama juga masuk dalam bursa calon Ketua Umum PBNU menjelang Muktamar Ke-35 NU. Mereka antara lain Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), Menteri Agama KH Nasaruddin Umar, Wakil Ketua Umum PBNU KH Zulfa Mustofa, Pengasuh Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar KH Abdussalam Shohib (Gus Salam), Ketua PWNU Jawa Timur KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah KH Abdul Ghaffar Rozin (Gus Rozin), serta mantan Ketua Umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) Hery Haryanto Azumi.


Gus Yusuf mengatakan, keputusannya maju sebagai calon Ketua Umum PBNU berangkat dari keprihatinan para kiai sepuh terhadap dinamika yang terjadi di tubuh Nahdlatul Ulama.


"Saya berawal dari dinamika di NU yang menjadikan para kiai sepuh turun gunung, memfasilitasi pertemuan di Ploso untuk islah, di Tebuireng, sampai akhirnya di Lirboyo," ujarnya dalam wawancara bersama NU Online di Jakarta beberapa waktu lalu.


Ia menjelaskan, namanya mulai dimunculkan sebagai calon Ketua Umum PBNU dalam Musyawarah Besar di Pondok Pesantren Lirboyo.


"Di situlah nama saya mulai muncul. Ketika musyawarah kubro di Lirboyo, para masyayikh dan PCNU datang. Semangatnya sama, ingin muktamar besok menjadi muktamar yang solutif," katanya.


Menurut Gus Yusuf, forum tersebut menghendaki Muktamar Ke-35 NU menjadi momentum menyelesaikan berbagai persoalan internal organisasi.


"Pokoknya muktamar yang menyelesaikan konflik. Makanya muncul semangat harus dimunculkan figur yang bebas konflik. Itu di Lirboyo," ujarnya.


Setelah itu, kata Gus Yusuf, dirinya mendapat dorongan dari alumni Himpunan Alumni Santri Lirboyo (Himasal) serta para pengurus cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) di Jawa Tengah.


"Maka teman-teman alumni Himasal meminta saya, teman-teman PCNU Jawa Tengah meminta saya, 'Gus, sudah saatnya njenengan ke NU. Njenengan sudah saatnya ke NU,'" tuturnya.


Berbekal dorongan tersebut, ia menyatakan mantap maju sebagai bentuk khidmah kepada NU.


"Saya bismillah niat khidmah di PBNU. Apa yang saya punya tentu niat. Kedua, saya banyak berkiprah, semoga ada manfaatnya untuk perbaikan ke depan," katanya.


Soroti Tata Kelola Organisasi

Selama lima bulan terakhir, Gus Yusuf mengaku telah bersilaturahmi ke sekitar 23 PWNU dan ratusan PCNU. Selain itu, ia juga sowan kepada para masyayikh, kiai sepuh, serta berziarah ke makam para muassis NU.


Menurutnya, salah satu aspirasi yang paling banyak disampaikan para pengurus cabang ialah perlunya pembenahan tata kelola organisasi.


"Kalau dari pengurus PCNU, ya tentang tata kelola organisasi. Organisasi sebesar NU ini tidak boleh diurus secara serampangan, suka-suka sendiri. Kita ini sudah punya Qanun Asasi, AD/ART, tinggal konsistensi pelaksanaannya yang belum ada," ujarnya.


Ia menilai tata kelola organisasi harus dijalankan secara transparan, terbuka, dan berpijak pada aturan organisasi agar seluruh warga NU dapat berkhidmah dengan baik.


"Ini yang diinginkan PC dan PWNU, transparan, terbuka, gampang, jangan mempersulit," katanya.


Sementara itu, saat bersilaturahmi dengan para kiai sepuh, Gus Yusuf mengaku memperoleh pesan agar PBNU memberikan perhatian lebih besar kepada pesantren.


"Kalau kiai-kiai pesannya, urus pesantren dengan benar. Ini pesantren sedang menghadapi era transisi atau transformasi. Dampingi pesantren. Enggak usah cerita program jauh-jauh, urus pesantren dengan benar. Ini pesan kiai sepuh yang saya sowani," ujarnya.


Gus Yusuf juga mengungkapkan bahwa dirinya telah lama berkhidmah di Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) hingga Desember 2025. Namun, setelah diminta para kiai untuk kembali mengabdi di NU, ia memutuskan mengundurkan diri dari partai.


"Saya memang lama khidmah di PKB sampai kemarin bulan Desember. Ketika saya dipanggil dan didawuhi para kiai untuk ke NU, maka saya akan mundur dari PKB," katanya.


Ia menegaskan seluruh kader NU harus memperoleh hak yang sama dalam proses organisasi. "Saya merasa hak kader semuanya harus diberikan hak yang sama," ujarnya.


Menurut Gus Yusuf, hal terpenting dalam Muktamar Ke-35 NU adalah membangun semangat bersama untuk memperbaiki organisasi.


"Yang terpenting, muktamar ini semangatnya ayo bareng-bareng memperbaiki NU. Kita kasih ruang semua, jangan saling mencegat," katanya.


Profil Singkat

KH Muhammad Yusuf Chudlori lahir di Magelang pada 9 Juli 1973. Ia merupakan Pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo, Magelang, pesantren yang pernah menjadi tempat Presiden Keempat RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menimba ilmu.


Pondok Pesantren API didirikan oleh KH Chudlori pada 15 September 1944. Awalnya pesantren tersebut belum memiliki nama, kemudian pada 1947 diberi nama Asrama Perguruan Islam (API). Gus Yusuf merupakan putra KH Chudlori dari istri kedua, Nyai Nur Chalimah Chudlori.


Selain aktif di dunia pesantren, Gus Yusuf juga memiliki pengalaman panjang di bidang politik. Ia pernah menjabat Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PKB Jawa Tengah dan sempat diusung sebagai bakal calon gubernur Jawa Tengah pada Pilkada 2024 sebelum akhirnya memilih mendukung pasangan lain.


Kiprahnya di PKB bermula saat era Reformasi 1998 ketika diajak pamannya, KH Abdurrahman Chudlori (Mbah Dur), untuk bergabung membangun partai. Pada 1999–2007, ia memimpin Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PKB Kabupaten Magelang. Saat konflik internal PKB pada 2007, ia dipercaya menjadi pelaksana tugas Ketua DPW PKB Jawa Tengah, kemudian terpilih sebagai Ketua DPW PKB Jawa Tengah pada 2013.


Dalam bidang pendidikan, Gus Yusuf mengawali pendidikan di Pondok Pesantren API Tegalrejo. Selanjutnya ia memperdalam ilmu agama di sejumlah pesantren, antara lain Pondok Pesantren Lirboyo Kediri (1985–1994), Pondok Pesantren Salafiyah Kedung Banteng Purwokerto, serta Pondok Pesantren Salafiyah Bulus, Kebumen.

 

NU Online akan menyajikan profil tokoh-tokoh lain yang disebut dalam bursa calon Ketua Umum PBNU pada berita terpisah.