Menuju NIAS, BPIS-Lakpesdam PBNU Dorong Santri Berkarya dan Berdaya di Ekosistem Digital
Kamis, 18 Juni 2026 | 09:00 WIB
Talkshow Inovasi I bertajuk Santri Berkarya, Berjejaring, dan Berdaya dalam Ekosistem Digital Indonesia di Lobby Gedung PBNU, Jakarta, Rabu (17/6/2026). (Foto: Herlyn)
Jakarta, NU Online
Badan Pengembangan Innovasi Strategi (BPIS)-Lakpesdam PBNU menggelar Talkshow Inovasi I bertajuk Santri Berkarya, Berjejaring, dan Berdaya dalam Ekosistem Digital Indonesia di Lobby Gedung PBNU, Jakarta, Rabu (17/6/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Goes to Nahdliyin Innovation Summit (NIAS) yang bertujuan mendorong lahirnya inovasi dan kolaborasi di kalangan Nahdliyin dalam menghadapi era transformasi digital.
Kegiatan yang dikemas dalam format Podcast Pojok Kramat tersebut menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan pesantren, praktisi digital, hingga pelaku industri teknologi, yakni Pengurus Lakpesdam PBNU, Mahmud Syaltout; Founder dan CEO SantriAI.com Arif Balya, serta praktisi digital Hasanudin Ali. Acara dipandu oleh moderator Nanda Asifa. Hadir secara langsung juga, Sekretaris Pengurus Lakpesdam PBNU, Ufi Ulfiah.
Dalam sambutannya, Ufi Ulfiah menegaskan bahwa pesantren memiliki modal sosial dan intelektual yang besar untuk berkontribusi dalam perkembangan teknologi digital. Menurutnya, transformasi digital harus dimanfaatkan untuk memperluas akses pengetahuan sekaligus memperkuat peran santri dalam menjawab berbagai tantangan zaman.
“Pesantren memiliki khazanah keilmuan yang sangat kaya. Tantangan kita hari ini adalah bagaimana kekayaan tersebut dapat hadir dan memberi manfaat lebih luas melalui ruang digital tanpa kehilangan nilai, tradisi, dan sanad keilmuan yang menjadi ciri khas pesantren,” ujarnya.
Sementara itu, Hasanudin Ali menyoroti besarnya peluang yang dimiliki generasi muda, termasuk santri, dalam ekonomi digital Indonesia. Menurutnya, santri tidak boleh hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi juga harus menjadi kreator dan inovator yang mampu menghadirkan solusi bagi masyarakat.
Diskusi berlangsung interaktif dengan membahas berbagai isu mulai dari literasi digital, kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), pengembangan ekosistem inovasi pesantren, hingga pentingnya kolaborasi antar-komunitas dalam menghadapi perubahan teknologi yang semakin cepat.
Penanggung Jawab Kegiatan, Muawanah menjelaskan bahwa Talkshow Inovasi I merupakan pembuka dari rangkaian kegiatan menuju Nahdliyin Innovation Summit (NIAS), sebuah forum yang dirancang untuk mempertemukan inovator, akademisi, komunitas, pelaku usaha, dan warga Nahdliyin dalam membangun ekosistem inovasi yang inklusif dan berkelanjutan.
Melalui kegiatan ini, BPIS-Lakpesdam PBNU berharap semakin banyak santri dan generasi muda Nahdliyin yang terlibat aktif dalam pengembangan teknologi, kewirausahaan digital, serta berbagai inovasi yang memberi manfaat bagi masyarakat luas.
KangSantri AI Diluncurkan, Integrasikan 7.000 Kitab Kuning dalam Ekosistem Digital Pesantren
Selain diskusi, kegiatan ini juga dirangkai dengan soft launching platform KangSantri AI sebagai salah satu inovasi digital berbasis pesantren yang diperkenalkan kepada publik.
Peluncuran KangSantri AI menjadi salah satu sorotan utama dalam forum yang mengangkat tema Santri Berkarya, Berjejaring, dan Berdaya dalam Ekosistem Digital Indonesia. Platform tersebut dikembangkan untuk menghadirkan akses yang lebih mudah terhadap khazanah keilmuan pesantren melalui teknologi kecerdasan buatan.
Founder dan CEO SantriAI.com, Arif Balya, menjelaskan bahwa KangSantri AI dibangun dengan mengintegrasikan lebih dari 7.000 kitab kuning sebagai basis pengetahuan yang dapat digunakan untuk membantu masyarakat memperoleh referensi keislaman yang kredibel dan terukur.
“KangSantri AI bukan untuk menggantikan peran ulama, melainkan menjadi alat bantu yang memudahkan masyarakat mengakses khazanah keilmuan Islam yang selama ini tersimpan dalam ribuan kitab dan referensi pesantren,” ujarnya.
Menurut Arif, kehadiran teknologi AI membuka peluang baru bagi pesantren untuk memperluas jangkauan dakwah, pendidikan, dan layanan pengetahuan keislaman kepada masyarakat secara lebih luas.
Pengurus Lakpesdam PBNU, Dr. Mahmud Syaltout, menyambut baik hadirnya inovasi tersebut. Ia menilai digitalisasi khazanah pesantren merupakan langkah penting agar tradisi intelektual Islam yang berkembang di pesantren dapat terus relevan dan menjawab kebutuhan masyarakat di era digital.
Baca Juga
Dunia Digital di Balik Fenomena Sosial
“Teknologi harus menjadi sarana untuk memperkuat transmisi ilmu dan memperluas kemanfaatan pesantren bagi masyarakat. Karena itu, inovasi yang berangkat dari tradisi keilmuan pesantren perlu terus didorong,” katanya.
Selain peluncuran KangSantri AI, forum ini juga menghadirkan praktisi digital Hasanudin Ali yang membahas peluang santri dalam ekonomi digital Indonesia. Diskusi berlangsung dinamis dengan partisipasi peserta dari kalangan media, komunitas pesantren, akademisi, dan pegiat teknologi.
Sebagai bagian dari rangkaian menuju Nahdliyin Innovation Summit (NIAS), kegiatan ini diharapkan menjadi ruang pertemuan antara tradisi keilmuan pesantren dan perkembangan teknologi mutakhir. Melalui berbagai inovasi yang lahir dari kalangan Nahdliyin, pesantren diharapkan semakin mampu berkontribusi dalam pembangunan ekosistem digital Indonesia yang inklusif, beretika, dan berkelanjutan.