Nasional

Muncul Hantavirus, Virus Mematikan dari Tikus; Seberapa Siap Indonesia Menghadapinya?

Sabtu, 9 Mei 2026 | 10:00 WIB

Muncul Hantavirus, Virus Mematikan dari Tikus; Seberapa Siap Indonesia Menghadapinya?

Hantavirus berasal dari tikus (Ilustrasi: Meta AI)

Jakarta, NU Online

Kasus hantavirus di kapal pesiar MV Hondius memunculkan kekhawatiran dunia terhadap ancaman penyakit zoonosis yang ditularkan rodensia. Di tengah-tengah berbagai ancaman penyakit menular global, Indonesia dinilai belum sepenuhnya siap menghadapi penyebaran virus yang kerap luput dari perhatian publik tersebut.

 

Direktur Jenderal World Health Organization (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus menyampaikan bahwa sejauh ini telah dilaporkan delapan kasus hantavirus di kapal pesiar MV Hondius, termasuk tiga kematian. Lima dari delapan kasus tersebut telah dikonfirmasi sebagai hantavirus.

 

Tedros menjelaskan bahwa virus hanta yang terlibat adalah virus Andes, satu-satunya spesies yang diketahui mampu menular secara terbatas antar manusia melalui kontak dekat dan berkepanjangan.

 

“Meskipun ini adalah insiden serius, WHO menilai risiko kesehatan masyarakatnya rendah,” ujarnya dilansir WHO, pada Jumat (8/5/2026).


Namun, pernyataan tersebut tidak lantas membuat ancaman hantavirus bisa dianggap sepele, terutama bagi Indonesia yang memiliki persoalan sanitasi, kepadatan permukiman, serta tingginya populasi tikus di kawasan perkotaan dan permukiman padat.


Kepala Pusat Kebijakan Sistem Ketahanan Kesehatan Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), KD Puspa, mengingatkan bahwa Indonesia bukan wilayah bebas hantavirus. Menurutnya, virus tersebut telah lama ditemukan di Indonesia sejak dekade 1980-an.


"Banyak orang mengira hantavirus adalah penyakit langka dari luar negeri. Indonesia bukanlah wilayah bebas hantavirus sebab virus ini telah lama ada, bahkan sejak tahun 1980-an,” ujarnya dilansir Kemenkes Kemenkes.

 

Ia mengungkapkan bahwa penelitian di berbagai kota besar menemukan seroprevalensi hantavirus pada manusia di Indonesia mencapai sekitar 11,6 persen. Artinya, dari setiap 10 orang, setidaknya satu pernah terpapar virus tersebut meskipun tidak pernah terdiagnosis.


“Dalam Kementerian Kesehatan, hantavirus disebut sebagai zoonosis emerging, penyakit baru yang muncul dan berpotensi berkembang menjadi ancaman kesehatan masyarakat. Masalahnya bukan sekadar ada atau tidaknya virus ini. Masalah utamanya adalah kita sering tidak menyadari keberadaannya,” katanya.

 

Puspa menjelaskan bahwa virus dapat masuk ke tubuh manusia melalui udara yang mengandung partikel urin, feses, atau saliva tikus, kontak langsung dengan rodensia, luka terbuka pada kulit, hingga permukaan yang terkontaminasi.


“Seseorang tidak perlu digigit tikus untuk tertular. Cukup berada di lingkungan dengan manifestasi tikus dan menghirup udara yang terkontaminasi,” jelasnya.

 

Ia menambahkan bahwa kasus hantavirus menunjukkan pentingnya pendekatan One Health yang menghubungkan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan.


Puspa juga mengimbau masyarakat meningkatkan kebersihan lingkungan dan memperkuat integrasi dengan program sanitasi yang telah berjalan. “Masyarakat perlu memahami bahwa menyapu rumah yang penuh debu tikus tanpa perlindungan bisa menjadi risiko infeksi,” katanya.

 

“Pendekatan ini dapat disinergikan dengan STBM (Sanitasi Total Berbasis Masyarakat), program kesehatan lingkungan serta pengendalian zoonosis,” lanjutnya.