Nasib Sopir Bajaj di Tengah Kemudahan Transportasi Daring
Selasa, 20 Oktober 2026 | 22:00 WIB
Nasuha (kanan berkaos orange) sedang memperbaiki bajajnya yang sedang mogok dengan salah satu seorang montir bajaj (kiri) di Jalan Makmur No. 40, Duri Pulo, Gambir, Jakarta Pusat, Selasa (20/10/2026). (Foto: NU Online/Suwitno)
Jakarta, NU Online
Nasuha (54) tampak sedang memperbaiki bajajnya di sebuah Bengkel Bajaj di Jalan Makmur No. 40, Duri Pulo, Gambir, Jakarta Pusat.
Meski disengat terik matahari, Nasuha tidak menyerah demi si roda tiga tersebut bisa melaju kembali untuk mengais rezeki. Baginya, kerusakan kendaraan berarti waktu mencari penumpang yang harus tertunda. Padahal, sebagai penarik bajaj sewaan, ia harus memperhitungkan biaya operasional setiap hari agar tetap bisa membawa pulang penghasilan.
Nasuha mulai menarik bajaj sejak 1992. Pada masa itu, menurut dia, pekerjaan sebagai penarik bajaj masih cukup menjanjikan. Penumpang relatif mudah ditemukan dan pendapatannya dirasa lumayan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Baca Juga
Tawaran Menjadi Sopir Bajaj
“Dulu waktu bajaj masih ramai, enak mencari uang,” kenangnya kepada NU Online, Selasa (20/10/2026) siang.
Namun, keadaan perlahan berubah. Nasuha menilai, kehadiran transportasi daring membuat persaingan semakin ketat. Menurutnya, masyarakat kini memiliki lebih banyak pilihan untuk bepergian, mulai ojek online, hingga moda transportasi umum yang sudah terintegrasi.
Dalam kondisi tertentu, Nasuha masih menaruh harapan rezekinya dapat mengalir dari bajaj. Ia menganggap bajaj lebih praktis karena dapat melewati jalan-jalan yang sulit dilalui kendaraan berukuran lebih besar.
“Ya, itu mengadu nasib saja. Walaupun banyak transportasi online, kadang-kadang masih ada yang senang naik bajaj,” ujarnya.
Soal tarif, Nasuha tidak selalu mematok harga yang sama untuk setiap perjalanan. Ia mempertimbangkan jarak dan kondisi perjalanan, termasuk kemampuan penumpang.
“Kadang ada yang naik, saya punya Rp15.000 atau Rp20.000, saya antar saja. Saya ikhlas saja, enggak apa-apa. Namanya juga rezeki,” tuturnya.
Nasuha menyewa bajaj dengan biaya Rp60.000 per hari. Jika dihitung bersama biaya bahan bakar, pengeluaran hariannya mencapai sekitar Rp110.000, belum termasuk kebutuhan lain yang harus ditanggungnya.
Ia berharap pemerintah memberikan perhatian kepada masyarakat kecil, khususnya pekerja informal yang telah berusia lanjut dan selama ini menggantungkan hidup pada pekerjaan dengan penghasilan tidak menentu.
“Harapannya ya, pemerintah ada solusi buat masyarakat kecil seperti kami yang sudah berumur. Pengennya dapat modal buat dagang atau usaha lain,” harapnya.