Nasional

Pakar Ingatkan Ancaman Krisis Ketangguhan Mental Generasi Muda, Pendidikan Harus Berbenah

Ahad, 12 April 2026 | 12:00 WIB

Pakar Ingatkan Ancaman Krisis Ketangguhan Mental Generasi Muda, Pendidikan Harus Berbenah

Prof Susanto saat menyampaikan orasi ilmiah pengukuhan sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Strategi Pembelajaran Pendidikan Islam di Universitas PTIQ Jakarta, yang diselenggarakan di Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), Depok, pada 8 April 2026. (Foto: dok. istimewa)

Jakarta, NU Online

Pakar Strategi Pembelajaran Pendidikan Islam Prof Susanto mengingatkan bahwa dunia saat ini tengah menghadapi krisis ketangguhan mental (resiliensi) generasi muda yang semakin serius. Kondisi ini, menurutnya, menjadi ancaman nyata yang menuntut pembenahan sistem pendidikan secara menyeluruh.


Ia menegaskan, krisis ketangguhan mental tidak lagi dapat dipandang sebagai persoalan individual, melainkan telah berkembang menjadi persoalan sistemik yang berpotensi memengaruhi masa depan bangsa.


Secara global, remaja usia sekolah menghadapi tekanan mental yang signifikan. Data WHO menunjukkan bahwa 1 dari 7 remaja usia 10-19 tahun mengalami masalah kesehatan mental. Di Indonesia, sekitar 15,5 juta remaja tercatat menghadapi persoalan serupa (Kemenkes, 2024). Sementara itu, di Singapura 16,2 persen remaja mengalami depresi atau kecemasan, di Amerika Serikat mencapai 31,9 persen, dan di Inggris sebesar 25,8 persen.


Hal tersebut disampaikan Prof Susanto dalam orasi ilmiah pengukuhan sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Strategi Pembelajaran Pendidikan Islam di Universitas PTIQ Jakarta, yang diselenggarakan di Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), Depok, pada 8 April 2026.


Dalam pidato berjudul Disrupsi Peradaban dan Krisis Resiliensi: Rekonstruksi Paradigma Pembelajaran Pendidikan Islam untuk Membangun Ketangguhan Mental Generasi, ia menjelaskan bahwa perubahan global yang bersifat disruptif telah melahirkan tekanan psikologis baru bagi generasi muda. Di tengah kemajuan teknologi dan derasnya arus informasi, justru muncul paradoks berupa meningkatnya kerentanan mental.


Ia juga menyoroti istilah strawberry generation yang diperkenalkan Murphy (2018), yaitu generasi yang tampak cerdas, menarik, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi, tetapi memiliki kerentanan psikologis yakni mudah rapuh, mudah menyerah, mudah terdistraksi, kurang tahan terhadap tantangan, serta cenderung memilih solusi instan.


Menanggapi hal tersebut, Prof Susanto menilai pelabelan tersebut kurang tepat karena menggeneralisasi kelompok usia tertentu. Ia menawarkan pendekatan yang lebih proporsional melalui konsep strawberry mentality, yakni kondisi psikologis individu yang rapuh dan mudah menyerah.


“Ini bukan persoalan generasi, melainkan persoalan mentalitas yang dapat terjadi pada siapa saja. Bahkan sering kali ditemukan pada individu dengan prestasi akademik tinggi, tetapi tidak tahan menghadapi tekanan,” ujarnya.


Ancaman sistemik

Prof Susanto menegaskan bahwa jika tidak segera ditangani, krisis ketangguhan mental akan berdampak luas lintas sektor.


Ia mengidentifikasi sejumlah implikasi strategis, di antaranya menurunnya kualitas sumber daya manusia, meningkatnya burnout di dunia kerja, lemahnya kapasitas kepemimpinan dalam menghadapi ketidakpastian, melonjaknya gangguan kesehatan mental, melemahnya kohesi sosial, serta menurunnya daya saing bangsa di tingkat global.


“Krisis ini berpotensi menggerus fondasi sosial, ekonomi, dan kepemimpinan jika tidak diintervensi melalui sistem pendidikan,” tegasnya.


Transformasi pendidikan

Sebagai respons, Prof Susanto menekankan pentingnya transformasi paradigma pendidikan, khususnya pendidikan Islam, dengan menempatkan ketangguhan mental (resiliensi) sebagai tujuan utama pembelajaran.


Ia menawarkan sejumlah strategi, antara lain penguatan nilai spiritual seperti syukur, sabar, tawakal, dan ikhlas; penerapan pembelajaran berbasis tantangan terukur; pengembangan pembelajaran berbasis masalah; pendekatan productive failure; integrasi refleksi spiritual; serta reformasi sistem evaluasi pendidikan dari orientasi hasil menuju penghargaan terhadap proses dan usaha.


Menurutnya, penguatan nilai syukur memiliki dasar ilmiah. Penelitian Robert Emmons dari University of California menunjukkan adanya hubungan antara sikap syukur dengan keberhasilan dalam mencapai target akademik, kesehatan, dan relasi sosial.


Sebaliknya, studi Stanford University menemukan bahwa paparan keluhan selama 30 menit dapat merusak hipokampus, bagian otak yang berperan dalam memori jangka panjang serta regulasi emosi.


Berbagai pendekatan tersebut diyakini mampu membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga tangguh secara mental dan berkarakter. 


Dari output hingga dampak

Prof Susanto menjelaskan bahwa implementasi paradigma baru ini akan menghasilkan perubahan berjenjang. Dalam jangka pendek (output), peserta didik akan memiliki fleksibilitas kognitif, ketahanan emosional, kemampuan belajar mandiri, serta ketekunan dalam mencapai tujuan.


Sementara dalam jangka menengah (outcome), akan lahir individu dengan pola pikir tangguh (antifragile mindset), kemandirian intelektual, resiliensi adaptif, serta integritas moral dan spiritual.


Adapun dalam jangka panjang (impact), diharapkan terwujud masyarakat yang adaptif dan resilien, kepemimpinan yang visioner dan berintegritas, serta sistem sosial yang kuat.


Menutup orasinya, ia menegaskan bahwa pendidikan harus dimaknai sebagai investasi strategis dalam membangun peradaban, bukan sekadar transfer pengetahuan.


“Jika kita gagal membangun resiliensi, kita akan mewariskan generasi yang rapuh. Namun jika berhasil, kita akan melahirkan generasi yang mampu menghadapi zaman dengan keberanian, kebijaksanaan, dan keteguhan,” pungkasnya.


“Generasi yang hebat tidak lahir dari air yang tenang, melainkan lahir dari terjangan ombak dan badai," pungkasnya.