Nasional

PBNU Luncurkan Kang Santri AI, Platform Kecerdasan Buatan Berbasis Literatur Pesantren

Rabu, 17 Juni 2026 | 16:00 WIB

PBNU Luncurkan Kang Santri AI, Platform Kecerdasan Buatan Berbasis Literatur Pesantren

Peluncuran Kang Santri AI, Rabu (17/6/2026) (Foto: NU Online/Herlyn)

Jakarta, NU Online
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) meluncurkan ‘Kang Santri AI’ sebuah platform kecerdasan buatan berbasis literatur pesantren yang dikembangkan oleh kalangan santri. Peluncuran diadakan bersamaan dengan Talkshow Inovasi bertajuk Santri Berkarya, Berjejaring, dan Berdaya dalam Ekosistem Digital Indonesia di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Rabu (17/6/2026).


Sekretaris Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama (Lakpesdam PBNU), Ufi Ulfiah mengatakan bahwa PBNU menyambut baik peluncuran ‘Kang Santri AI’ yang digagas oleh kalangan santri. Menurutnya, kehadiran platform tersebut menjadi bukti bahwa santri mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi sekaligus menghadirkan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat. 


"Lakpesdam dan PBNU, tentu merasa sangat senang dan istimewa karena ada santri yang mengembangkan satu platform yang sangat-sangat berguna untuk kita," ujarnya.


Menurutnya, kehadiran platform tersebut menjadi sesuatu yang istimewa karena menunjukkan kemampuan santri dalam beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital.


Ia menjelaskan bahwa peluncuran Kang Santri AI merupakan salah satu rangkaian menuju Nahdlatul Ulama Innovation Summit (NIAS) yang direncanakan berlangsung pada pertengahan Juli 2026. Forum tersebut akan menjadi wadah bagi Nahdliyin untuk mempresentasikan berbagai gagasan dan inovasi di bidang teknologi, sosial, maupun pemberdayaan masyarakat.


"Kita juga masih dalam proses pengembangan, sehingga berbagai masukan akan menjadi bahan evaluasi dan penyempurnaan ke depan," ujarnya.


'Kang Santri AI’ diharapkan dapat menjadi ruang kolaborasi yang menghubungkan warga Nahdliyin dari berbagai latar belakang serta mendorong lahirnya gagasan-gagasan inovatif di bidang teknologi dan keislaman.


Sementara itu, praktisi digital Hasanuddin Ali menilai peluang pengembangan AI di Indonesia semakin terbuka.


Berdasarkan survei yang dilakukannya, kemudian ia membagi pengguna AI ke dalam tiga kelompok yaitu

  1. AI antusias, yakni kelompok pengguna yang aktif memanfaatkan AI dalam berbagai pekerjaan dan memiliki pandangan positif terhadap teknologi tersebut
  2. AI adaptor, yakni masih berada pada tahap mencoba dan menilai manfaat AI
  3. AI skeptis, yakni cenderung memiliki pandangan negatif terhadap dampak AI.
 

"Pada 2024 sekitar 60 persen pengguna internet masih berada pada kategori adaptor, sementara kelompok antusias dan skeptis masing-masing sekitar 20 persen," katanya.


Namun, hasil survei pada 2025 menunjukkan peningkatan signifikan pada kelompok AI antusias yang naik menjadi sekitar 40 persen. Menurut Hasanuddin, tren tersebut menunjukkan semakin besarnya penerimaan masyarakat terhadap teknologi AI.

 

Kontributor: Nisfatul Laila