Perjuangan Tim LAZISNU Lintasi Jalan Teka-Teki Demi Salurkan Bantuan di Bener Meriah Aceh
Sabtu, 7 Maret 2026 | 19:30 WIB
Tim NU Peduli menuju lokasi penyintas banjir dan longsor di Kabupaten Bener Meriah, Aceh. (Foto: dok LAZISNU)
Bener Meriah, NU Online
Tim NU Peduli melalui NU Care-LAZISNU PBNU kembali menyalurkan bantuan bagi warga terdampak bencana alam di Bener Meriah, Aceh. Staf NU Care-LAZISNU, Zahra menceritakan perjalanan tim NU Peduli menuju lokasi penyintas banjir dan longsor di Kabupaten Bener Meriah, Aceh, tidaklah mudah. Tim harus melintasi jalur yang oleh warga setempat disebut sebagai ‘Jalan Teka-Teki’.
“Masyarakat setempat menyebut jalur ini sebagai ‘Jalan Teka-Teki’. Sebuah ungkapan yang menggambarkan kondisi jalan yang penuh kejutan; tak ada yang tahu apa yang akan ditemui setelah melewati satu tikungan: apakah jalan masih utuh, berlubang, atau bahkan sudah terputus,” kata Zahra, Sabtu (7/3/2026).
Zahra mengatakan Tim NU Peculi datang ke wilayah tersebut untuk mentasarufkan amanah dari para donatur sekaligus melihat langsung kondisi masyarakat yang masih berjuang memulihkan kehidupan pascabencana.
Perjalanan dimulai sejak tim tiba di Bandara Malikussaleh. Dari sana, mereka melintasi ruas jalan Meunasah Pintu di Kecamatan Muara Baru, Kabupaten Aceh Utara. Di sepanjang perjalanan tampak hamparan persawahan yang dahulu menjadi sumber penghidupan utama warga setempat.
“Banjir besar yang terjadi pada 26 November 2026 lalu merusak sekitar 50 persen lahan persawahan warga. Sawah-sawah tersebut bahkan sempat terendam selama tujuh hari tujuh malam,” kata Zahra.
Menurut cerita warga bencana tersebut juga menimbulkan korban hilang. Sebanyak 21 orang dilaporkan tidak ditemukan setelah banjir. Pencarian terus dilakukan, dan sekitar satu bulan kemudian warga menemukan beberapa rangka manusia di area persawahan.
“Tiga bulan setelah bencana, kondisi wilayah tersebut masih jauh dari pulih. Dalam perjalanan menuju lokasi, Tim LAZISNU melewati banyak jalan yang berlubang, patah akibat longsor, serta jembatan yang nyaris roboh. Di beberapa titik, batu-batu besar dari perbukitan menutupi sebagian badan jalan sehingga membuat perjalanan menjadi sulit dan berisiko bagi kendaraan,” lanjut Zahra.
Pada perjalanan Jumat (6/3/206) itu, Tim NU Care-LAZISNU juga menyaksikan sebuah mobil bak pengangkut beras yang tidak mampu melanjutkan perjalanan karena jalan yang rusak. Warga sekitar pun bergotong royong membantu mendorong dari belakang, sementara kendaraan lain menarik dari depan hingga mobil tersebut dapat kembali bergerak.
Sepanjang perjalanan, Tim melihat batu-batu berukuran sedang dan ranting pohon yang sengaja diletakkan di tengah jalan oleh warga. Tanda sederhana ini berfungsi sebagai penanda bahaya bagi pengendara karena di depan terdapat jalan yang terputus akibat longsor.
Perjalanan tim LAZISNU kemudian berlanjut menuju Kecamatan Weh Pesam di Kabupaten Bener Meriah. Di sana, tim mendapati kondisi psikologis masyarakat yang masih terpukul oleh bencana.
“NU Care-LAZISNU untuk menyalurkan bantuan berupa beras, santunan, makanan berbuka bersama, serta perlengkapan alat ibadah menghadirkan suasana haru di tengah masyarakat,” lanjut Zahra.
Ketua PC Muslimat Kabupaten Bener Meriah, Nur Baiti, mengungkapkan bahwa masyarakat di wilayah tersebut sebenarnya dikenal mandiri dan terbiasa membantu orang lain. “Kita biasanya ngasih orang, sekarang kita dikasih. Sedih juga rasanya,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua Posko NU Peduli Kabupaten Bener Meriah, M. Suaidi Alauny, menjelaskan bahwa selama sekitar dua bulan pascabencana masyarakat harus hidup dalam kondisi sangat terbatas. Listrik sempat padam dan akses bahan bakar minyak (BBM) juga sulit diperoleh.
Banyak warga bahkan harus berjalan kaki setiap hari menuju kota lain untuk menjual hasil panen mereka, terutama cabai yang sedang memasuki musim panen.
Selain menyalurkan bantuan, tim LAZISNU juga melakukan asesmen kebutuhan sanitasi masyarakat. Berdasarkan hasil peninjauan, warga sangat membutuhkan pipa air bersih. Sumber air berada di dataran lebih tinggi sehingga harus dialirkan ke permukiman warga melalui jaringan pipa.
“Namun banyak pipa yang sebelumnya mengalirkan air ke kampung-kampung terputus akibat bencana. Jika mengambil air secara langsung, warga harus berjalan sekitar dua kilometer,” imbuh Zahra.
Dari total 232 kampung di wilayah tersebut, sebagian kebutuhan pipa air mulai tertangani secara swadaya oleh masyarakat. Meski demikian, kebutuhan perbaikan infrastruktur air bersih masih sangat besar agar kehidupan warga dapat kembali berjalan lebih layak.
“Sebagai bagian dari upaya pemulihan tersebut, NU Care-LAZISNU juga berencana membangun fasilitas sanitasi di Dayah Nurul Islam Al-Aziziyah, Desa Weh Tengang Toa, Kecamatan Permata, Kabupaten Bener Meriah, Aceh,” tutupnya.