Nasional

Prof Quraish Shihab Sebut Kunci Menafsirkan Al-Qur’an: Bersahabatlah Dengan Al-Qur'an

Jumat, 27 Februari 2026 | 14:00 WIB

Prof Quraish Shihab Sebut Kunci Menafsirkan Al-Qur’an: Bersahabatlah Dengan Al-Qur'an

Mufasir Indonesia, Prof Muhammad Quraish Shihab. (Foto: NU Online/Suwitno)

Jakarta, NU Online

Pakar tafsir Indonesia, M. Quraish Shihab, menyampaikan bahwa salah satu kunci utama dalam menafsirkan Al-Qur’an adalah dengan bersahabat dengannya. Kedekatan dengan Al-Qur’an, menurutnya, akan membuka pemahaman yang tidak selalu diperoleh hanya melalui usaha intelektual semata.


Ia mencontohkan pesan yang pernah diajarkan ayahnya, Abdurrahman Shihab, seorang guru besar di bidang tafsir. Sebagaimana seorang sahabat membagikan rahasianya kepada sahabat dekatnya, demikian pula Al-Qur’an akan membuka maknanya kepada orang yang akrab dengannya.


“Kalau kamu bersahabat dengan seseorang, dia akan menyampaikan kepadamu rahasianya. Kalau Anda bersahabat, Anda ditunjuki bagaimana caranya,” ujarnya dalam tayangan Menjadi Indonesia Episode ke-38 Spesial Ramadhan yang akan tayang perdana pada Senin (2/3/2026).


Pengarang Tafsir Al-Misbah itu menjelaskan bahwa ada pengetahuan yang diperoleh bukan semata-mata dari usaha manusia, melainkan sebagai anugerah dari Allah. Hal tersebut, katanya, selaras dengan pesan wahyu pertama, Iqra’, yang tidak hanya memerintahkan membaca, tetapi juga menekankan keterbukaan hati dalam menerima ilmu.


Menurutnya, pemahaman dapat hadir melalui berbagai jalan, termasuk perenungan mendalam, intuisi, dan pengalaman batin yang tidak selalu mudah dijelaskan secara rasional.


Sebagai pendiri Pusat Studi Al-Qur'an (PSQ), ia juga menanggapi kritik terhadap karya tafsirnya. Ia mengakui bahwa dalam proses penulisan, dirinya menerima banyak bantuan dari berbagai pihak.


“Saya tidak keberatan. Memang saya dibantu. Saya dibantu oleh Tuhan, oleh teman,” katanya.


Terkait harapannya terhadap karya tafsir tersebut, Prof Quraish justru berharap kesalahan yang ada dapat diperbaiki generasi berikutnya. Ia menyadari tidak ada karya manusia yang luput dari kekeliruan, baik karena keterbatasan pribadi maupun perubahan konteks zaman.


“Saya sudah tua, saya tidak bisa lagi membetulkan itu. Itu tugas anak-anak muda sekarang. Baca, betulkan,” ujarnya.


Ia juga menekankan pentingnya sikap terbuka terhadap kritik. Menurutnya, jika para sahabat Nabi hidup pada masa sekarang, sangat mungkin pandangan mereka pun akan dikaji ulang karena perbedaan konteks sosial.


Dalam kesempatan itu, ia mengutip pandangan Malik bin Anas yang menyatakan bahwa setiap orang dapat salah, kecuali Nabi Muhammad saw.


“Jadi kita harus legowo dengan kritik, selama disampaikan secara terhormat dan berdasar,” pungkasnya.