Nasional

SAR: Hujan Deras Diduga Picu Longsor Sampah di TPST Bantargebang

Senin, 9 Maret 2026 | 14:45 WIB

SAR: Hujan Deras Diduga Picu Longsor Sampah di TPST Bantargebang

Kepala Kantor SAR Jakarta, Desiana Kartika Bahari saat ditemui NU Online di TPST Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat. (Foto: NU Online/Jannah)

Jakarta, NU Online

Kepala Kantor SAR Jakarta Desiana Kartika Bahari menduga longsor sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat, pada Ahad (8/3/2026) pukul 14.30 WIB dipicu hujan deras yang terjadi sejak Jumat (6/3/2026).


“Kondisi cuaca sebelum longsor memang hujan. Itu yang kemungkinan menjadi salah satu penyebabnya,” ujarnya saat ditemui NU Online di lokasi kejadian, Senin (9/3/2026).


Desiana menjelaskan bahwa proses pencarian korban pada longsor sampah memiliki tantangan berbeda dibandingkan dengan longsor tanah.


Menurutnya, tim penyelamat harus bekerja dengan ekstra hati-hati agar tidak menimbulkan risiko kesehatan bagi petugas.


“Petugas harus sangat berhati-hati agar tidak menimbulkan risiko bagi kesehatan tim rescue. Karena itu, dibutuhkan alat pelindung diri (APD) yang lengkap,” katanya.


Ia menyampaikan, jumlah petugas gabungan yang terlibat dalam operasi pencarian mencapai sekitar 340 orang. Mereka berasal dari berbagai unsur, di antaranya Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, Polri, serta organisasi masyarakat, salah satunya Tagana GP Ansor.


“Mereka masuk dan keluar area pencarian juga mengikuti prosedur operasi standar (SOP), termasuk proses penyemprotan desinfektan,” ujarnya.


Proses pencarian korban dilakukan tanpa henti selama 24 jam. “Pencarian dilakukan selama 24 jam. Kami terus berupaya maksimal. Mohon doanya agar pencarian bisa segera selesai,” tambahnya.


Desiana mengungkapkan, berdasarkan data sementara, terdapat empat korban meninggal dunia dan empat orang lainnya selamat. Para korban selamat saat ini menjalani perawatan di Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta.


“Sementara lima orang lainnya masih dalam proses pencarian. Jadi total sementara ada 13 orang yang tertimbun. Kami maksimalkan pencarian hari ini,” tuturnya.


Ia menambahkan, titik ditemukannya korban meninggal dunia maupun korban selamat menjadi area utama pencarian bagi tim penyelamat.


“Selain merapikan tumpukan sampah, alat berat juga membantu membuka area yang telah kami plot sebagai lokasi pencarian korban yang masih tertimbun,” jelasnya.


Sementara itu, Kepala Seksi Operasional Kantor SAR Jakarta Ahmad Rizki menyebutkan bahwa gas yang dihasilkan dari tumpukan sampah juga menjadi kendala dalam proses pencarian.


Menurutnya, gas tersebut antara lain berupa metana dan karbon dioksida yang berbahaya bagi kesehatan. “Kandungan gas dari sampah sangat berbahaya bagi kesehatan petugas,” ujarnya.


Untuk mendukung proses pencarian, tim menggunakan sekitar 15 unit ekskavator di lokasi kejadian. Ahmad menjelaskan bahwa batas waktu operasi pencarian korban ditetapkan hingga Sabtu (14/3/2026).


“Sesuai Undang-Undang, masa operasi pencarian oleh Basarnas berlangsung selama tujuh hari,” katanya.


Adapun korban meninggal dunia yang telah teridentifikasi adalah dua pemilik warung, yakni Enda Widayanti (25) dan Sumine (60), serta dua sopir truk, Dedi Sutrisno (22) dan Irwan Suprihatin (40).