Nasional

Savic Ali Dorong Nahdliyin Hidupkan Kembali Semangat Intelektual dan Kemandirian Ekonomi

Senin, 1 Juni 2026 | 08:00 WIB

Savic Ali Dorong Nahdliyin Hidupkan Kembali Semangat Intelektual dan Kemandirian Ekonomi

Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Mohammad Syafi' Alieha atau Savic Ali saat Musyawarah Besar (Mubes) Nahdliyin Muda Batang yang diselenggarakan di Aula Masjid RSNU Batang pada Ahad (31/5/2026). (Foto: LTNNU Batang)

Batang, NU Online

Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Mohammad Syafi' Alielha (Savic Ali) mengajak warga Nahdlatul Ulama (NU) untuk kembali menghidupkan semangat kemandirian ekonomi dan tradisi intelektual yang diwariskan para pendiri organisasi.


Hal itu ia sampaikan dalam Musyawarah Besar (Mubes) Nahdliyin Muda Batang yang diselenggarakan di Aula Masjid RSNU Batang pada Ahad (31/5/2026).


Menurut Savic, forum-forum diskusi seperti Mubes penting sebagai ruang pertemuan berbagai kegelisahan warga NU, baik terkait dinamika internal organisasi maupun persoalan kebangsaan yang lebih luas.


“Saya kira memang forum kumpul-kumpul seperti ini penting. Ada banyak kegelisahan yang terjadi di masyarakat, di teman-teman NU kegelisahannya terhadap internal NU. Tapi juga sebagai masyarakat bagian Indonesia kegelisahannya terkait Indonesia. Jadi, forum-forum untuk saling ketemu, share, bertukar pikiran atau berpikir apa yang bisa dikerjakan itu memang penting,” ujarnya.


Dalam paparannya mengenai dinamika NU, Savic menekankan bahwa pemahaman terhadap Khittah NU harus dikembalikan pada semangat awal berdirinya organisasi. Menurutnya, banyak orang menganggap bahwa khittah itu berarti tidak lagi berpolitik praktis, padahal maknanya jauh lebih luas.


“Khittah menurut saya adalah spirit awal didirikannya NU. Khittah menurut saya adalah semangat awal didirikannya itu apa. Di dalamnya ada perjuangan politik, politik melawan kolonial zaman dulu. Zaman dulu NU juga mengkiritisi kolonial,” kata dia.


Savic menjelaskan, sebelum NU berdiri pada 1926, para muassis telah membangun berbagai gerakan yang menjadi cikal bakal organisasi. Salah satunya adalah Nahdlatul Wathan yang menunjukkan komitmen kebangsaan para pendiri NU dalam memperjuangkan kemerdekaan.


Selain itu, terdapat Taswirul Afkar yang menjadi ruang belajar dan diskusi lintas persoalan, tidak hanya membahas masalah keagamaan.


“Kalau kita bicara Khittah NU, generasi NU harus tetap belajar dan berdiskusi. Tradisi bahtsul masail di pesantren yang berkembang sampai sekarang adalah kelanjutan dari semangat Taswirul Afkar,” ujarnya.


Savic juga mengingatkan bahwa para pendiri NU bukan hanya ulama, melainkan juga pedagang, dan pendidik. Karena itu, semangat ekonomi yang tercermin dalam Nahdlatut Tujjar perlu dihidupkan kembali.


“Pada dasarnya para muassis NU mayoritas adalah pedagang atau pebisnis. Mereka memiliki mobilitas tinggi dan banyak menopang perjuangan melalui aktivitas usaha. Semangat Nahdlatut Tujjar menunjukkan bahwa kemandirian ekonomi merupakan bagian dari perjuangan keumatan,” jelasnya.


Menurut Savic, seiring perjalanan sejarah, basis sosial NU memang lebih banyak berasal dari masyarakat agraris. Hal itu membuat citra NU identik dengan komunitas petani dan masyarakat pedesaan. Namun, ia menegaskan bahwa akar kewirausahaan para pendiri NU tidak boleh dilupakan.


“NU lahir dari masyarakat dengan kultur agraria yang kuat, tetapi generasi awalnya juga memiliki tradisi kewirausahaan yang kuat. Karena itu, jika ingin mengembalikan semangat para muassis, kita harus menghidupkan masjid, musala, pesantren, sekaligus membangun lapisan entrepreneur dari kalangan nahdliyin,” katanya.


Lebih lanjut, Savic menyoroti pentingnya kemandirian finansial organisasi. Ia menilai kedekatan sebagian kalangan NU dengan pusat-pusat kekuasaan pascareformasi tidak boleh membuat organisasi kehilangan semangat membangun kekuatan ekonomi sendiri.


Menurutnya, potensi ekonomi warga NU sangat besar apabila dikelola secara kolektif melalui zakat, infak, sedekah, maupun berbagai instrumen pemberdayaan ekonomi lainnya.


“Kalau kita mengumpulkan sumber daya finansial dari warga sendiri, jumlahnya tidak kecil dan bisa melahirkan kemaslahatan yang luar biasa. Kemandirian finansial membuat kita lebih leluasa bekerja sama dengan siapa pun tanpa kehilangan independensi,” tegasnya.


“Kita bisa bekerja sama dengan siapa pun. Tetapi kalau ketergantungan terlalu besar, ruang gerak kita menjadi terbatas. Karena itu, kemandirian ekonomi menjadi sangat penting bagi masa depan NU,” pungkasnya.