Nasional

Sawah Tertimbun Lumpur, Empat Bulan Pascabanjir Petani Pidie Jaya Belum Bisa Menanam

Selasa, 7 April 2026 | 20:00 WIB

Sawah Tertimbun Lumpur, Empat Bulan Pascabanjir Petani Pidie Jaya Belum Bisa Menanam

Ratusan hektare sawah Pidie Jaya, Aceh yang diterjang banjir bandang masih terbengkalai dengan timbunan bekas banjir. (Foto: NU Online/Helmi Abu Bakar)

Pidie Jaya, NU Online

Pagi itu, hamparan sawah di Pidie Jaya tak lagi berwarna hijau. Yang terlihat justru bentangan tanah kering bercampur lumpur yang mengeras di bawah terik matahari. Lebih dari empat bulan berlalu sejak banjir bandang menerjang wilayah ini pada akhir November 2025, namun dampaknya masih nyata, bahkan kian berat bagi para petani.


Di Kecamatan Ulim, Meurah Dua, Meureudu, hingga wilayah lainnya, ratusan hektare sawah masih tertimbun material banjir. Batas-batas petak yang dahulu rapi kini nyaris hilang. Saluran irigasi yang menjadi urat nadi pertanian tertutup tanah, memutus aliran air yang selama ini menghidupi lahan.


Tidak ada aktivitas menanam. Belum ada tanda-tanda musim tanam akan dimulai dalam waktu dekat.


Abdullah, seorang warga Pidie Jaya, berdiri di tepi sawahnya. Pandangannya kosong, seolah mencoba mengenali kembali lahan yang dulu begitu akrab baginya.


“Sekarang kami tidak bisa menanam padi. Sawah masih tertimbun tanah, air juga tidak mengalir. Mau mulai dari mana pun bingung,” katanya pelan, Senin (6/4/2026).


Bagi Abdullah, sawah bukan sekadar tempat bekerja, melainkan sumber kehidupan. Dari sanalah kebutuhan sehari-hari dipenuhi dan masa depan keluarga dirawat. Kini, ketika sawah itu berubah menjadi tanah mati, kehidupan pun ikut terguncang.


Kondisi ini tidak hanya dialami satu dua orang. Di berbagai titik lain, petani menghadapi kenyataan serupa. Sebagian mencoba membersihkan lahan secara mandiri dengan alat seadanya, mencangkul lumpur yang telah mengeras. Namun, upaya tersebut terasa berat untuk ditangani sendiri.


NU Online yang menelusuri sejumlah lokasi menemukan sebagian besar sawah masih dibiarkan seperti kondisi pascabencana. Tidak terlihat pengerukan besar-besaran, sementara waktu terus berjalan, meninggalkan petani dalam ketidakpastian.


Intelektual muda Nahdliyin asal Pidie Jaya, Tgk Azmi Yudha Zulfikar, menilai kondisi ini bukan sekadar persoalan kerusakan fisik.


“Ketika sawah tidak bisa ditanami, yang terganggu bukan hanya ekonomi, tetapi juga ketahanan hidup masyarakat. Ini menyangkut kemaslahatan yang harus dijaga bersama,” ujarnya.


Ia menekankan, pemulihan harus dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya membersihkan lumpur, tetapi juga memperbaiki sistem irigasi serta memastikan petani mendapatkan dukungan untuk bangkit kembali.


Sementara itu, mantan Ketua GP Ansor Pidie Jaya, Gus Masrur, menyuarakan kegelisahan warga. Menurutnya, waktu empat bulan seharusnya cukup untuk menunjukkan langkah nyata.


“Empat bulan pascabanjir, sawah masih tertimbun dan petani belum bisa menanam. Ini harus menjadi perhatian serius. Penanganan harus dipercepat,” tegasnya.


Hal senada disampaikan tokoh muda Japakeh, Tgk Syahrul Fuadi. Ia berharap masyarakat dapat segera kembali bertani.


“Kami berharap sawah ini bisa segera pulih. Karena hanya dengan bertani, masyarakat dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari,” katanya.


Di tengah kondisi yang belum pulih, satu hal yang masih bertahan adalah harapan, bahwa lumpur akan diangkat, air kembali mengalir, dan sawah kembali hidup.


Bagi masyarakat Pidie Jaya, sawah bukan sekadar bentangan tanah. Ia adalah denyut kehidupan. Kini, denyut itu masih tertahan, menunggu perhatian dan upaya nyata untuk menghidupkannya kembali.