Nasional

Tangis Guru Honorer di DPR: Tersisih dari Dapodik, Gagal Ikut PPPK, Harus Cari Penghasilan Tambahan

Senin, 2 Februari 2026 | 20:30 WIB

Tangis Guru Honorer di DPR: Tersisih dari Dapodik, Gagal Ikut PPPK, Harus Cari Penghasilan Tambahan

Guru Honorer SDN Wanasari 01, Cibitung, Kabupaten Bekasi, Indah Permata Sari (Foto: Tangkapan layar Youtube TVR Parlemen)

Jakarta, NU Online 

Persoalan pendataan guru honorer kembali terus menuai sorotan, saat ini dalam rapat Badan Legislasi (Baleg) DPR RI bersama Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Guru Honorer menyampaikan keluh kesahnya di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (2/1/2026). 


Dalam forum tersebut, guru honorer menyampaikan keluhan terkait keterbatasan akses pendataan yang berdampak langsung pada tertutupnya peluang mengikuti seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).


Guru honorer SDN Wanasari 01, Cibitung, Kabupaten Bekasi, Indah Permata Sari mengungkapkan bahwa hingga kini namanya termasuk dalam daftar 265 tenaga honorer yang belum terdata dalam Data Pokok Pendidikan (Dapodik), meskipun telah memenuhi persyaratan masa kerja sebagaimana ditentukan.


“Padahal saya sudah memenuhi masa kerja, tapi untuk masuk Dapodik itu sulitnya luar biasa Pak,” kata Indah dikutip Youtube TVR Parlemen.


Indah menilai persoalan pendataan tersebut diperparah oleh minimnya informasi dari Dinas Pendidikan yang tidak tersampaikan secara merata kepada sekolah-sekolah. Kondisi itu menyebabkan banyak guru honorer tidak mengetahui prosedur dan tahapan yang harus ditempuh.


“Jadinya kita ketinggalan info,” kata Indah.


Tidak terdaftarnya guru honorer dalam Dapodik berdampak langsung pada ketidakmampuan mengikuti seleksi PPPK. Saat proses seleksi berlangsung, Indah dan rekan-rekannya tidak memiliki akses untuk mendaftar, sehingga peluang menjadi aparatur pemerintah pupus.


“Kita semua tidak bisa, Pak, tertinggal. Bahkan terbayang-bayang akan dirumahkan. Itu paling sedih sih, Pak,” kata Indah dengan suara bergetar sembari menyeka air mata.


Terpaksa mencari mata pencaharian lain

Indah menyampaikan bahwa kondisi tersebut menimbulkan tekanan psikologis sekaligus ekonomi bagi para guru honorer. Ia mengaku harus mencari penghasilan tambahan di luar jam mengajar untuk memenuhi kebutuhan hidup.


“Harapan saya dan teman-teman tenaga pendidik dan guru yang lain, bisa ikut PPPK penuh waktu, paling itu sih Pak,” kata Indah.


Ia menggambarkan realitas keseharian guru honorer yang harus menjalani pekerjaan lain setelah mengajar di sekolah.


“Karena saya juga seperti yang tadi Bapak bilang, pulang mengajar jadi antar jemput laundry Pak. Mungkin itu aja yang bisa saya sampaikan,” pungkas Indah.