Nasional

Temui Dubes Turkiye, Gus Yahya Dorong Diplomasi dan Persatuan Negara Muslim di Timur Tengah

Kamis, 9 April 2026 | 17:00 WIB

Temui Dubes Turkiye, Gus Yahya Dorong Diplomasi dan Persatuan Negara Muslim di Timur Tengah

Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf dan Dubes Turkiye Talip Küçükcan dalam pertemuan di Kantor Kedutaan Besar Turkiye, Jalan Rasuna Said, Jakarta Selatan, Kamis (9/4/2026). (Foto: PBNU/Junaedin Ghufron)

Jakarta, NU Online

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), menemui Duta Besar Turkiye, Talip Küçükcan, di Kantor Kedutaan Besar Turkiye, Jalan Rasuna Said, Jakarta Selatan, Kamis (9/4/2026). Pertemuan tersebut membahas sikap resmi Turkiye terkait konflik Iran dan AS-Israel sekaligus mendorong solidaritas negara-negara Muslim dalam upaya diplomasi perdamaian di Timur Tengah.


Ketua PBNU KH Ulil Abshar Abdalla (Gus Ulil) menjelaskan, Gus Yahya ingin mendengar langsung sikap resmi Turkiye terkait konflik Iran dengan AS-Israel.


Ia menambahkan, pertemuan tersebut juga menjadi sarana untuk menyampaikan aspirasi PBNU agar negara-negara Muslim bersatu mendorong perdamaian di Timur Tengah.


“Kunjungan ini dimaksudkan untuk mendengar sikap resmi Turkiye sekaligus menyampaikan aspirasi perdamaian,” ujar Gus Ulil kepada NU Online, Kamis (9/4/2026).


Selain itu, Gus Ulil menyebut Dubes Turkiye memandang peran Indonesia penting sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia dan memiliki posisi relatif netral. Karena itu, keterlibatan Indonesia dalam diplomasi perdamaian sangat diharapkan.


“Dubes Turkiye juga menyebut peran Indonesia sangat penting sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia. Indonesia punya posisi unik, lebih netral, tidak terbebani hubungan kompleks seperti negara-negara Timur Tengah. Karena itu, keterlibatan Indonesia dalam diplomasi perdamaian sangat diharapkan,” lanjutnya.


Gus Ulil menambahkan, dalam pertemuan tersebut Gus Yahya menekankan pentingnya mengakhiri konflik di Timur Tengah melalui jalur diplomasi. Aspirasi itu disebut sejalan dengan pandangan Turkiye yang menolak agresi Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran, sekaligus mengingatkan agar Iran tidak memperluas konflik ke negara-negara Teluk.


“Gus Yahya selalu menegaskan satu poin penting, yaitu mengakhiri perang ini segera dan menempuh jalur diplomasi. Tampaknya aspirasi itu mulai menemukan momentumnya, antara lain melalui upaya dan inisiatif dari Pakistan,” ujarnya.


Gus Ulil menilai perkembangan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran dalam dua pekan terakhir cukup menggembirakan. Hal itu dinilai selaras dengan visi Gus Yahya dalam mendorong perdamaian dunia.


“Kita senang karena sudah terjadi proses cooling (pendinginan). Kita berharap proses ini berlangsung terus secara bertahap sehingga situasi kembali normal,” pungkasnya.


Sebelumnya, langkah diplomasi serupa dilakukan Gus Yahya dengan menyambangi Kedubes Iran, Amerika Serikat, dan Arab Saudi.

 

Kontributor: Ahmad Syafiq Sidqi