Nasional

Tiga Kandungan Utama Ayat Kursi Dijuluki Pemimpin Ayat-Ayat Al-Quran

Sabtu, 14 Maret 2026 | 09:00 WIB

Tiga Kandungan Utama Ayat Kursi Dijuluki Pemimpin Ayat-Ayat Al-Quran

Surat Al-Baqarah mengandung ayat Kursi yang dikenal sebagai pemimpin ayat-ayat Al-Quran (Frepik)

Jakarta, NU Online

Ayat Kursi dikenal sebagai ayat dengan julukan pemimpin ayat-ayat al-Quran (Sayyidatu ayyil Qur'an). Penamaan ini disebabkan adanya tiga kandungan utama dalam ayat  255 Surat Al-Baqarah itu yakni dzat Allah, sifat-Nya serta tindakan-Nya (af'alullah). Semua kandungan mengarah kepada mengenal Allah (ma'rifatullah).


"Itulah isi daripada ayat kursi. Jadi ayat kursi itu isinya sesuatu yang sangat substantif," ungkap Ketua PBNU KH Ulil Abshar Abdalla (Gus Ulil) saat Ngaji Pasanan 1447 H Kitab Jawahirul Quran karya Imam al-Ghazali secara daring melalui kanal media sosial Ghazalian College pada Jumat (13/3/2026).

 

Gus Ulil menyampaikan tiga kandungan di atas dengan mengupas per kata dan per kalimat sebagaimana dituliskan dalam kitab. Ia menyebut, lafal 'Allah' dalam ayat kursi merupakan representasi dari dzat-Nya, sementara lafal berikutnya, 'laa ilaha Illallah' gambaran dari mengesakan-Nya.

 

Ia juga menjelaskan sifat-sifat Allah yang terlukis dalam kalimat al-hayyu al-qayyum' dan 'laa ta'khudzhu sinatun walaa naum.

 

"Al-Qayyum itu sesuatu yang otonom, independen, dan yang lain-lain butuh dia. Sesuatu yang self-reliant. Allah itu sifatnya adalah Allah itu cukup pada dirinya sendiri, tidak membutuhkan yang lain-lain sementara yang lain-lain butuh dia. Itu namanya Al-Qayyum," terang Gus Ulil.

 

"Artinya Allah tidak memiliki sifat-sifay yang tidak layak untuk-Nya. Kita kosongkan, bersihkan dari sifat-sifay yang mustahil yang melekat pada Allah," katanya menerjemahkan pandangan Al-Ghazali tentang arti Allah tidak mengantuk dan tidak tidur.

 

Penulis buku Jika Tuhan Maha Kuasa, Mengapa Manusia Menderita? itu melanjutkan paparannya terkait tindakan-tindakan Allah yang tercermin dalam lafal 'lahu maa fissamaawati wamaa fil ardh'.

 

"Langit dan bumi ini semua kan ciptaan Allah. Artinya langit dan bumi dan segala hal yang ada di dalamnya, itu kan sebetulnya merupakan af'al, tindakan-tindakan Allah. Allah bertindak lalu lahir ini semuanya. Jadi dalam pandangan orang beriman, alam raya ini itu adalah manifestasi dari tindakan Allah," jelas Gus Ulil.

 

Lebih lanjut, Ia menjelaskan maksud di balik klausul 'man dzalladzi yasyfa'u 'indahu illa bi idznihi'. Lafal tersebut mengisyaratkan bahwa Allah adalah penguasa atau raja yang absolut. Kekuasaan Allah menjadi sumber bagi kekuasaan manusia dan makhluk lainnya.

 

Selain kekuasaan, Allah disebut mengetahui segala sesuatu tanpa bantuan pengetahuan sesuatu yang lain. Mulai dari sesuatu yang paling global hingga yang paling detail. 


Gus Ulil lalu menyoroti lafal 'wasi'a kursiyyuhus samawati wal ardl' yang mengisyaratkan kesempurnaan dan keagungan Allah.  Meski pada saat yang sama terdapat hal rahasia, makna lafal kursiy, yang tak dapat sepenuhnya ditangkap akal manusia kecuali dapat ilham dari-Nya.


Ia pun menegaskan bahwa tidak ditemukan kandungan serupa sebagaimana terdapat dalam ayat kursi ini. Ayat-ayat yang lain hanya memuat satu atau dua dari tiga kandungan di atas, yakni dzat Allah, sifat-Nya dan tindakan-Nya.