Nasional

Ulas Qasidah Burdah, Gus Kautsar: Cahaya Kenabian Bersumber dari Nabi Muhammad

Senin, 23 Februari 2026 | 17:00 WIB

Ulas Qasidah Burdah, Gus Kautsar: Cahaya Kenabian Bersumber dari Nabi Muhammad

Katib Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Muhammad Abdurrahman Al-Kautsar saat mengaji Kitab Qosidah Burdah karya Imam al-Bushiri (Tangkapan layar Youtube NU Online)

Jakarta, NU Online

Katib Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Muhammad Abdurrahman Al-Kautsar menyampaikan bahwa cahaya kenabian seluruh nabi pada hakikatnya bersumber dari Nabi Muhammad.


Pandangan tersebut ia sampaikan saat mengulas Qasidah Burdah karya Imam Al-Bushiri dalam pengajian Ramadhan yang ditayangkan melalui kanal Youtube NU Online pada Ahad (22/2/2026).


Gus Kautsar menjelaskan, kemuliaan mukjizat Nabi Muhammad menunjukkan kedudukan beliau yang sangat istimewa di hadapan Allah. Keistimewaan tersebut, menurutnya, jauh melampaui capaian manusia biasa.


“Mukjizat yang ditampilkan oleh Nabi Muhammad itu menggambarkan betapa luar biasanya beliau di hadapan Allah, sisi keistimewaan yang ditampilkan beliau masih sangat jauh dari manusia seperti kita ini,” ujarnya.


Ia menerangkan bahwa para nabi terdahulu juga dianugerahi mukjizat yang agung untuk ditampilkan di hadapan umatnya. Namun demikian, seluruh mukjizat tersebut sejatinya merupakan bagian dari cahaya kenabian Nabi Muhammad.


“Mukjizat-mukjizat yang dimiliki nabi-nabi sebelumnya yang ditampilkan di hadapan umatnya itu semua adalah serpihan-serpihan mukjizatnya Nabi Muhammad. Nabi-nabi itu seperti bintang-bintang, sedangkan Nabi Muhammad seperti matahari yang menyinari bumi dan alam semesta,” ujar Gus Kautsar.


Perumpamaan itu, lanjutnya, menggambarkan posisi sentral Nabi Muhammad dalam kosmologi kenabian. Ia mengibaratkan, cahaya bintang tampak bersinar ketika matahari belum terbit. Namun ketika matahari terbit, cahaya bintang akan memudar.


“Para anbiya wal mursalin cahayanya itu diambil dari cahaya yang ditampilkan oleh Nabi Muhammad,” tutur ulama muda dari Pondok Pesantren Al-Falah, Ploso, Kediri, Jawa Timur tersebut.


Dalam kesempatan itu, Gus Kautsar juga menjelaskan bahwa dalam Qasidah Burdah, Imam Al-Bushiri menuliskan syair-syair pujian kepada Nabi Muhammad sebagai ungkapan cinta dan pengagungan. Qasidah tersebut ditulis setelah Imam Al-Bushiri sembuh dari sakit lumpuh yang dideritanya melalui mimpi bertemu Rasulullah.


Ia menegaskan, memperbanyak puji-pujian kepada Nabi Muhammad bukan sekadar tradisi, melainkan jalan untuk meningkatkan ketakwaan dan meneladani akhlak beliau. Salah satu akhlak Rasulullah yang paling menonjol, menurutnya, adalah keramahan. Wajah beliau digambarkan bersinar dan menenangkan siapa pun yang memandangnya.


“Dengan melantunkan puji-pujian mengenai keistimewaan yang luar biasa dimiliki Nabi Muhammad dapat meningkatkan ketakwaan dan dapat meneladani akhlak-akhlak luar biasanya beliau,” ucap Gus Kautsar.