Nasional

Waketum PBNU Gus Faiz Soroti Pejabat yang Hanya Bertanya Dalil Program MBG

Rabu, 28 Oktober 2026 | 16:00 WIB

Waketum PBNU Gus Faiz Soroti Pejabat yang Hanya Bertanya Dalil Program MBG

Gus Faiz saat memberikan refleksi dalam acara Hari Santri Nasional 2026 di Pondok Pesantren Mambaus Sholihin, Gresik, Jawa Timur, Selasa (27/10/2026). (Foto: Tangkapan layar kanal Youtube Al-Fikrah)

Gresik, NU Online

Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Bidang Keagamaan, Pesantren, dan Dakwah KH Muhammad Faiz Syukron menyoroti pejabat yang kerap menanyakan dalil agama terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG), tetapi tidak menanyakan landasan moral dan hukum dalam pengelolaannya, termasuk dugaan penyelewengan anggaran.


Hal itu disampaikan Gus Faiz, sapaan akrabnya, saat menghadiri Kuliah Umum Refleksi Hari Santri Nasional 2026 di Pondok Pesantren Mambaus Sholihin, Gresik, Jawa Timur, Selasa (27/10/2026).


Menurut Gus Faiz, program MBG memiliki landasan keagamaan, salah satunya ajaran tentang keutamaan memberi makan. Namun, ia menyayangkan pertanyaan mengenai dalil program tersebut tidak diikuti perhatian terhadap dugaan penyimpangan dalam pelaksanaannya.


"Jadi (program) terkait MBG itu ada (dalilnya). Sayangnya pejabat negara banyak bertanya hadits MBG, lupa tanya 'hadits yang menyolong di SPPG itu apa Kiai?' Itu jarang ditanya," kata Gus Faiz, dikutip NU Online dari kanal YouTube Al-Fikrah Channel.


"Jadi yang ditanya itu hadits (program) MBG-nya. Hadits yang menyolong duit negara itu enggak ditanya, padahal semuanya kan (dalilnya) ada," tegas putra almarhum KH Syukron Ma'mun tersebut.


Tugas Santri Memahami Syariat

Gus Faiz menjelaskan, pembahasan mengenai MBG berkaitan dengan peran santri dalam memahami dan menerapkan syariat Islam. Menurutnya, salah satu karakteristik syariat adalah tidak semua persoalan kehidupan dijelaskan secara terperinci dalam Al-Qur'an.


Ia menjelaskan bahwa terdapat ruang bagi para ulama untuk menggali dan menerapkan hukum Islam sesuai perkembangan zaman, dengan tetap berpedoman pada sumber-sumber ajaran Islam.


"Salah satu ruhnya Islam itu di antaranya at-taqlil minat tasyri'. Syariat ini dibuat Rasulullah sedikit. Tidak semua persoalan itu ada di Al-Qur'an," terangnya.


Untuk menjelaskan hal tersebut, Gus Faiz memberikan contoh persoalan pelaksanaan shalat ketika seseorang sedang bepergian menggunakan kendaraan, seperti kereta dan unta.


Ia mengajak para santri untuk mensyukuri kesempatan mempelajari ilmu agama atau tafaqquh fiddin. Menurutnya, proses belajar tersebut merupakan bagian penting dalam menjaga dan meneruskan ajaran Nabi Muhammad SAW.


Dengan bekal ilmu syariat, santri diharapkan mampu menggali jawaban atas berbagai persoalan yang belum muncul pada masa lampau tanpa melepaskan diri dari teks-teks keagamaan dan pandangan para ulama.


Gus Faiz menegaskan bahwa penguasaan ilmu agama dan penyebarannya kepada masyarakat merupakan salah satu tugas utama santri.


"Kewajiban kita adalah menghidupkan agama. Dan hidupnya agama itu dengan melahirkan generasi-generasi al-fuqaha," sebutnya.


Putra kedua almarhum KH Syukron Ma'mun itu berharap para santri Pondok Pesantren Mambaus Sholihin mampu mendalami ilmu agama sekaligus menjawab berbagai persoalan keagamaan dan kemasyarakatan yang berkembang di tengah masyarakat.