Yenny Wahid: Mekanisme Pemilihan Ketum Hanyalah Wasilah, Tujuan Muktamar Bawa NU Lebih Baik ke Depan
Ahad, 30 Agustus 2026 | 08:33 WIB
enny ditemui di arena Sidang Pleno III di Gedung Serbaguna Pesantren Tambakberas Jombang, pada Sabtu (29/8/2026). (Fahrul/NU Online).
Jombang, NU Online
Ketua Badan Pengembangan Inovasi Strategis (BPIS) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Zannuba Ariffah Chafsoh (Yenny Wahid) menyebut mekanisme pemilihan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) baik terbuka maupun tertutup, pada dasarnya hanyalah sarana untuk mencapai tujuan Muktamar.
"Jadi mekanisme itu hanyalah wasilah, hanyalah alat. Tujuan dari Muktamar ini adalah memilih ketua umum yang bisa membawa NU lebih baik ke depannya," kata Yenny ditemui di arena Sidang Pleno III di Gedung Serbaguna Pesantren Tambakberas Jombang, pada Sabtu (29/8/2026).
Ia menilai para Muktamirin memahami bahwa pergantian kepemimpinan merupakan bagian yang biasa terjadi dalam setiap Muktamar. Namun, terdapat nilai-nilai dan tujuan organisasi yang harus tetap dijaga.
"Ya namanya setiap Muktamar pasti akan terjadi pemilihan. Ketua umum silih berganti itu sudah biasa. Yang tetap ada, adalah tujuan dari organisasi ini sendiri," tuturnya.
Yenny menyebut sedikitnya ada tiga tujuan utama NU yang harus terus dijaga. Pertama, mempertahankan akidah Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyyah. Kedua, berkhidmat dan berjuang untuk kepentingan umat serta masyarakat. Ketiga, mempertahankan keutuhan bangsa dan negara.
"Selama tujuan ini dipegang, bagi saya siapapun yang menjadi ketua umum itu menjadi hal yang kedua. Yang terpenting tujuannya tercapai," tegasnya.
Meski demikian, Yenny berharap ketua umum PBNU yang terpilih nantinya mampu menyatukan seluruh pihak setelah dinamika Muktamar yang sempat menempatkan sejumlah kelompok dalam posisi berseberangan.
"Siapapun yang terpilih sebagai ketua umum nanti adalah sosok yang bisa menyatukan semua faksi yang saat ini dengan adanya dinamika Muktamar berada dalam posisi yang berseberangan," katanya.
Ia berharap seluruh pihak dapat kembali saling merangkul setelah Muktamar selesai. Dengan demikian, energi yang ada dapat disatukan untuk membawa NU semakin maju sekaligus meningkatkan muruah organisasi.
"Setelah Muktamar kita harapkan saling merangkul. Kita sama-sama menyatukan energi untuk membangun NU lebih jauh lagi ke depannya, meningkatkan muruah NU," ujarnya.
Menurut Yenny, tantangan ketua umum PBNU ke depan semakin besar, terlebih setelah muncul berbagai dinamika sebelum dan selama proses Muktamar ini. Ketua umum tidak hanya dituntut mampu mengelola organisasi secara internal, tetapi juga menjalankan peran strategis NU di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara.
Ia menjelaskan, NU perlu tetap berada di posisi tengah dengan menjalankan dua peran sekaligus. Di satu sisi menjadi mitra pemerintah dalam mendukung kebijakan yang positif dan konstruktif, sedangkan di sisi lain menjadi penyambung aspirasi masyarakat kepada pemerintah.
"Ketua umum PBNU yang pertama yakni menjadi mitra pemerintah. Di sisi lain ia harus menjadi penyambung lidah rakyat. Jadi NU selalu berada di tengah, mendukung program pemerintah yang positif dan konstruktif, di sisi lain menyambungkan aspirasi masyarakat supaya didengar pemerintah," paparnya.