Obituari

KH Husin Naparin Tokoh NU Kalsel yang Tutup Usia pada 6 Mei 2026

Kamis, 7 Mei 2026 | 08:00 WIB

KH Husin Naparin Tokoh NU Kalsel yang Tutup Usia pada 6 Mei 2026

KH Husin Naparin (Foto: PCNU Banjar)

Banjarmasin, NU Online

Innalillahi wainna ilaihi rajiun

 

Kabar duka menyelimuti dunia keislaman Kalimantan Selatan. Ulama sepuh, KH Husin Naparin wafat Rabu (6/5/2026) pagi di Rumah Sakit Islam (RSI) Sultan Agung Banjarbaru.

 

Ia sebelumnya sempat dirawat di ruang Intensive Cardiac Care Unit (ICCU) RS Ulin Banjarmasin. Almarhum enjalani perawatan intensif akibat penyakit jantung dan paru yang telah lama dideritanya.


Kiai Husin lahir di Kalahiang, Paringin, Kalsel pada 10 November 1947, dari pasangan H Muhammad Arsyad dan Hj Rusiah.


Ia menikah dengan Dra Hj Unaizah Hanafie pada 15 Juli 1979 yang merupakan putri dari KH Hanafi Gobet, seorang ulama besar dan Imam Besar Masjid Jami Banjarmasin.


Kiai Husin Naparin merupakan ulama dan intelektual Muslim yang memiliki rekam jejak akademik lintas negara. Ia dikenal sebagai figur yang menggabungkan tradisi keilmuan Timur Tengah dan Asia Selatan dalam bidang dakwah, bahasa Arab, dan studi Islam.

 

Sebelum kuliah, ia menempuh Pendidikan di Normal Islam Putra Rakha Amuntai (1962-1966), PGA Al-Hasaniyah Layap, Paringin (1959-1962), dan Sekolah Rakyat Nasional (setingkat SD) Kalahiang (1959).

 

Pada tahun 1976, ia meraih gelar Licence (Lc) dari Al-Azhar University, Kairo, salah satu pusat studi Islam tertua di dunia. Ia mengambil jurusan Al-Da’wah wa al-Irsyad, yang berfokus pada penyiaran dakwah dan bimbingan keagamaan.


Sepuluh tahun kemudian, tepatnya 1986 ia melanjutkan studi Magister (MA) di University of The Punjab, Lahore, dalam bidang Islamic Studies. Pendidikan formalnya semakin lengkap ketika ia kembali menempuh studi di International Islamic University Islamabad, Pakistan dengan konsentrasi Bahasa Arab pada tahun 2007.


Dalam dunia pendidikan, Ia pernah mengajar sebagai guru di Normal Islam Putra Rakha pada 1968-1972, Wakil Dekan di Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Rasyidah Khalidiyah (Rakha) Amuntai (1998) Yayasan dari Ponpes Rakha yang dikembangkan oleh KH Idham Khalid (Ketua Umum PBNU 1956–1984) bahkan ia sekarang merupakan ketua yayasannya dan pimpinan Pondok Pesantren Hunafaa sejak 1985, kemudian menjabat Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al Jami Banjarmasin sejak 1998 hingga sekarang.


Ia juga tercatat sebagai dosen STAI Al Jami Banjarmasin sejak 1987 dan terakhir dengan pangkat Pembina Tk I (IV/b) dan jabatan sebagai Lektor Kepala Madya.

 

Menjadi dosen Luar Biasa pada IAIN Antasari Banjarmasin, dan mengajar Tarjamah pada Fakultas Tarbiyah, dan mengajar Fiqih pada Fakultas Syariah STAI Al-Falah Banjarbaru.

 

Karier nonformalnya adalah guru dan penceramah aktif di berbagai pertemuan keagamaan, termasuk di Masjid Raya Sabilal Muhtadin.


Ia juga tercatat sebagai Pegawai Musim Haji KBRI Jeddah tahun 1975, 1977, dan 1978, Pegawai KBRI Jeddah (Local Staff) pada bagian Tata Usaha.


KH Husin Naparin dikenal sebagai ulama, pendidik, dan organisator ulung. Ia pernah menduduki Wakil Ketua Perkumpulan Pelajar Nahdatul Ulama Muta’allimin (1965-1966), Bendahara Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Kairo (1974-1975), Pembantu Wakil tetap Pelajar Indonesia pada Badan Solidaritas Perhimpunan Pelajar Asia Tenggara Kairo (1973-1975), Ketua Majelis Pembacaan Alquran (MPA) Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Kairo (1976-1977) dan Penasihat Pelajar Indonesia di Pakistan (1985-1986).

 

Di lingkungan organisasi Nahdlatul Ulama (NU), ia pernah menjadi Ketua III Tanfidziyah tingkat provinsi Kalsel (1990–1995).


Ia juga merupakan tokoh penting dalam struktur Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kalimantan Selatan sebagai Wakil Ketua Komisi Fatwa (1990–1995) dan Sekretaris Komisi Fatwa (2001–2006) bahkan pernah menjabat sebagai Ketua Umum MUI Kota Banjarmasin dalam dua periode (1992 - 1997 dan 1997–2002) memperkuat peran ulama dalam menjawab persoalan keumatan.


Ia juga terlibat dalam ranah politik sebagai Wakil Ketua Majelis Pertimbangan Partai Bulan Bintang Kalimantan Selatan.


Selain jabatan formal, KH Husin Naparin turut berkontribusi dalam berbagai lembaga strategis, seperti Anggota Dewan Pertimbangan Pendidikan Provinsi Kalimantan Selatan, Dewan Pengawas Syariah Bank Kalsel, Pengarah tim pembentukan Kabupaten Balangan (2001), Ketua Umum Forum Umat Islam (FUI) Kalimantan Selatan, Ketua Umum Pusat Pengembangan Emotional Spiritual Quotient (ESQ) Kalsel


Perannya tidak hanya administratif, tetapi juga substantif dalam membangun tradisi keilmuan Islam di daerah.


KH Husin Naparin merupakan figur yang menjembatani dakwah, pendidikan, dan kelembagaan Islam. Ia terlibat aktif dalam pengelolaan masjid, di antaranya Masjid Raya dan Masjid Noor Banjarmasin, serta memimpin Dewan Masjid Kalimantan Selatan.


Di bidang Al-Qur’an, ia juga dikenal sebagai dewan hakim Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ), baik di tingkat daerah maupun nasional. Bahkan, ia pernah menjadi dewan hakim MTQ antar masyarakat Indonesia di Arab Saudi pada 1983.

 

Selain di bidang keagamaan, KH Husin Naparin juga aktif dalam berbagai lembaga sosial, ekonomi, hingga politik. Ia tercatat sebagai anggota Dewan Pakar Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Kalsel, pengurus Badan Amil Zakat (Baznas) Kalsel, hingga Dewan Pengawas Syariah Bank BPD Kalsel.


Sesuai wasiat yang disampaikan semasa hidup, prosesi penghormatan terakhir bagi almarhum dilaksanakan secara berlapis dan penuh khidmat. Jenazah terlebih dahulu disalatkan di Masjid Jami Banjarmasin sebagai bentuk penghormatan dari masyarakat luas.


Selanjutnya, jenazah diberangkatkan menuju Pesantren Rasyidiyah Khalidiyah (Rakha) Amuntai untuk kembali dishalatkan, menandai ikatan kuat almarhum dengan dunia pesantren dan pendidikan Islam.


Setelah rangkaian salat jenazah selesai, almarhum dimakamkan di kampung halamannya di Kabupaten Balangan. Lokasi pemakaman dipilih berdekatan dengan makam kedua orang tua almarhum, sebagaimana permintaan yang telah beliau sampaikan semasa hidup.