KH Syukron Makmun dalam Majalah Risalah Nahdlatul Ulama (RINU) Nomor III/Th. I 1978. (Foto: Dok NU Online)
Majalah Risalah Nahdlatul Ulama (RINU) Nomor III/Th. I 1978, dalam rubrik Pesona & Persona memuat wawancara berjudul “KH Syukron Makmum dan Daarul Rahman-nya”. Hasil liputan Mohammad Ichwan itu merupakan satu di antara banyak artikel dan berita yang bertarikh antara 30 September hingga 20 Oktober 1978. Untuk menghormati wafatnya KH Syukron Makmun pada Ahad (18/10/2026), wawancara di Majalah Risalah tersebut kami transkrip kembali dengan sedikit penyesuaian ejaan.
***
Seorang kiai muda, dengan pertolongan Allah, tengah mendaki tangga kesuksesannya. Datang di ibu kota pada tahun 1967, sepuluh tahun kemudian namanya sudah tak asing lagi buat masyarakat Jakarta dan sekitarnya. Himmah yang dibawanya dari daerah untuk berkhidmat dalam bidang dakwah dan pendidikan Islam di tengah masyarakat metropolitan, telah mempermantap langkah-langkahnya setapak demi setapak.
Bukan sesuatu yang kebetulan kalau nama KH Syukron Makmun bagi masyarakat Jakarta kini adalah nama untuk seorang kiai muda pendakwah yang telah beroleh tempat tersendiri di hati mereka, di samping sejumlah nama yang lain.
Kiai berusia 37 tahun yang berasal dari Sampang Madura ini memang terlanjur dicintai masyarakat. Manifestasi kecintaan itu di antaranya adalah kian bertambah banyaknya kepercayaan para orang-orang tua untuk "menitipkan" anak-anaknya buat nyantri di Pesantren "Daarul Rahman" dan sekolah-sekolah yang diselenggarakannya. Volume infaq dan amal jariyah masyarakat yang cukup besar untuk membantu kebesaran "Daarul Rahman" dan sekolah-sekolah itu juga menunjukkan betapa masyarakat telah menaruh kepercayaan pada kepemimpinan/manajerial yang dilakukan oleh Kiai Syukron.
Sebuah tempat pendidikan yang semula tidak lebih berbentuk "rumah bedeng" yang memelas dengan jumlah santri/murid yang hanya belasan, dalam waktu kurang dari 10 tahun, telah berubah menjadi sebuah kompleks pendidikan dan pesantren yang cukup ternama, dengan gedung sekolah dan perkantoran yang representatif, dengan jumlah murid sekitar 400 orang lebih.
"Karena banyaknya peminat, maka pada 1 Muharam 1975 kami mulai membangun gedung induk ini dengan dikerjakan sendiri dan menelan biaya tidak kurang dari Rp. 80 juta,” ujar Kiai Syukron menjelaskan kepada RINU yang menemuinya selepas shalat Maghrib. Beliau menambahkan, "dari jumlah itu, satu sen pun tidak ada bantuan dari Pemerintah".
Di kompleks Pesantren "Daarul Rahman" yang terletak di bilangan Kebayoran Baru dekat Jl. Senopati Jakarta, suasana kehidupan santri memang bisa dirasakan Saban sore di gang masuk menuju kompleks pesantren akan kita jumpai lalu lalang anak-anak muda santri berkain sarung saling berceloteh sesamanya dengan bahasa asing.
"Di sini bahasa Arab dan Inggris merupakan bahasa pengantar kami", ujar seorang santri kepada RINU. “Kami akan dikenai sanksi bila melanggar disiplin ini,” tambahnya.
Menurut Kiai Syukron, pesantren yang dipimpinnya bertujuan untuk membentuk ulama yang memiliki orientasi kemasyarakatan sesuai dengan tantangan modernisasi. "Di sini pelajaran umum dan agama diberikan dalam porsi yang sama", ujarnya menjelaskan. "Dan sama-sama diberikan 100% karena kami tidak mengenal pemberian pengajaran yang setengah-setengah," tambahnya.
Murid-murid/santri-santri dilatih untuk belajar hidup sebagai calon ulama modern dengan bimbingan dan pengawasan dari para pendidiknya secara saksama.
“Dengan mereka tinggal di asrama (pondok pesantren) bimbingan dan pengawasan itu lebih mudah dijalankan. Pokoknya mereka kita didik untuk bisa fiddunya wafil akhiroti khasanah,” ujarnya.
Dijelaskan oleh Kiai Syukron, penyelenggaraan sekolah yang dipimpinnya secara kurikuler mengikut pada kurikulum Pondok Modern Gontor Ponorogo, dengan beberapa perbaikan/penyesuaian. Sementara secara ekstra kurikuler dilakukan dengan sistem pengajian ala pondok salafiyah, dengan pengajian sorogan maupun bandongan.
Kiai yang juga duduk sebagai salah seorang Wakil Ketua Rabithah Ma'ahid Islamiyah Indonesia yang diketuai KH Achmad Syaikhu ini lebih lanjut mengatakan, "Kami tidak ingin mendidik murid-murid kami untuk menjadi pegawai negeri, namun seandainya mereka jadi pegawai negeri kami pun bersyukur dan mendoakan semoga bermanfaat bagi hidupnya dan agamanya."
Radio Cendrawasih
Akan halnya kesibukan Kiai Syukron sehari-hari, dalam kedudukannya selaku kiai, pendidik, juru dakwah dan warga masyarakat pada lazimnya, nampaknya memang sedemikian padat.
"Pagi kami mengajar di sekolah sampai siang. Sebelumnya, setiap bakda Subuh mengajar ngaji di pesantren. Malam hari antara jam 18.30 sampai 21.00 memberikan pengajian di masjid-masjid atau majelis taklim di Jakarta. Kemudian setiap Rabu malam secara tetap mengisi acara dakwah di Radio Cendrawasih dan di antara hari-hari itu kami sering diundang ke luar kota," ujar Kiai Syukron seraya menambahkan, "Yah sebagai seorang kiai suratan tugas dan profesi saya adalah berdakwah dan berfatwa. Diterima syukur, tidak diterima ya saya sudah menyampaikan apa yang harus saya sampaikan secara ikhlas".
Menjawab pertanyaan RINU mengenai respons masyarakat yang didakwahinya, dengan lugas beliau mengatakan, "puas 100% sudah tentu tidak, tapi saya yakin mereka tidak terlalu kecewa".
Dengan resep apa Pak Syukron meraih popularitas dalam dakwahnya? Beliau tidak secara langsung menjawab pertanyaan ini. Dalam bagian lain ketika RINU menanyakan perihal keharusan dakwah untuk kalangan kaum muda Kiai Syukron bernasihat:
“Dakwah kepada kaum muda harus penuh variasi, agar mereka tidak lekas jenuh. Orang muda adalah orang yang hidupnya penuh problem psikologis dengan orientasinya yang selalu ke arah masa depan. Dakwah kepada mereka harus memberikan alternatif bagi pemecahan problem-problem yang mereka hadapi agar mereka terketuk dan terbuka hatinya. Pendek kata, tema-tema dakwah adalah persoalan-persoalan aktuil yang dihadapi masyarakat dan dengan kebijaksanaan dan tutur kata yang baik kita menawarkan jalan keluar atas persoalan-persoalan itu. Al-Qur'an sebagai petunjuk buat manusia harus dibuktikan dengan hujjah yang kuat dan nyata oleh para dai.”
Soal Kenakalan Remaja
Fenomena dakwah di kalangan generasi muda metropolitan, menurut beliau, harus dihampiri dengan baik sangka. "Jangan ada anggapan bahwa tiap anak muda kota itu tidak baik, tidak mau diatur, tidak mau ikut nasihat orang tua, dan sebagainya. Demikian pula terhadap mereka jangan terlalu banyak diuraikan masalah maut dan kuburan," ujarnya.
Beliau lalu berceritera. Pada suatu hari diundang oleh Komdak Metro Jaya untuk berceramah mengenai masalah kenakalan remaja di Jakarta. "Waktu itu saya mengatakan bahwa masalah kenakalan remaja sebenarnya hanyalah akibat dari adanya kenakalan orang tua. Untuk memahami kenakalan remaja jangan hanya dilihat gejalanya, tapi juga ditelusuri sebab-sebabnya. Menurut saya, untuk mengatasinya perlu diciptakan suasana ketenteraman keluarga, harmonisasi hubungan dalam intern keluarga, dan sebab-sebab yang menimbulkan kejahatan dibatasi untuk kemudian dihilangkan.”
Pesan untuk Nahdliyin dan Pemimpin NU
Mengakhiri wawancaranya dengan RINU Pak Syukron titip pesan kepada warga jam'iyyah NU (Nahdliyin) untuk mempertebal pengabdiannya yang tanpa pamrih kepada jam'iyyah ini. "Hidupilah NU, jangan numpang hidup di NU,” demikian beliau menyarankan.
Menurut Pak Syukron, dengan kembalinya NU ke jam'iyyah ada dua persoalan besar yang dihadapi NU. Pertama, soal mentalitas pemimpin-pemimpinnya yang harus dipersiapkan agar dedikasinya setangguh pemimpin-pemimpin jam'iyyah NU dulu. Kedua, soal pendidikan dan penguasaan ilmu pengetahuan modern dalam rangka mengejar perkembangan zaman.
Ada juga pesan Kiai Syukron untuk Departemen Agama, sehubungan dengan beberapa policy departemen itu terhadap pendidikan di pesantren-pesantren. “Sebaiknya Departemen Agama memusatkan perhatiannya kepada masalah pendidikan agama di sekolah-sekolah dan universitas-universitas umum. Jangan terlalu sibuk ngurusi pesantren, sebab para kiai sebagai ahlinya sejak lama sudah mengurusnya dengan baik,” tuturnya dengan sungguh-sungguh.
Mau tahu keluarga Kiai Syukron? Istri beliau adalah salah seorang keponakan KH Masykur yang Wakil Ketua DPR itu, dan kini sudah dikurniai 3 (tiga) orang putra. Beliau sekeluarga tinggal di sebuah rumah yang teduh tenang, sungguhpun nampak sederhana dibanding kemegahan gedung sekolah dan pesantrennya.
Jenjang pendidikan yang dilaluinya cukup panjang: SD, SMP, juga di SGB Negeri, lalu nyantri di Pesantren Sidogiri Pasuruan. Dari sini hijrah ke Pondok Modern Gontor Ponorogo. Delapan tahun di Gontor hingga diselesaikannya pendidikan di Perguruan Tinggi Darusalam. "Dari sini saya terus ke Jakarta dan ‘kuliah kerja’ selama 4 tahun di Pak Idham," ujarnya sambil menepuk-nepuk seorang putranya yang duduk di pangkuan.
Di sebuah tempat di tengah kota metropolitan, KH Syukron Makmun hingga kini masih tetap berjuang untuk kebesaran Darul Rahman, dalam usahanya menyemai tunas-tunas Nahdliyyin dan Islam. Buat masa depan.