Kitab Yurisprudensi Islam Kontemporer Karya Ulama dari Kajen dan Senori
Rabu, 15 Maret 2017 | 10:00 WIB
“Kifâyah al-Thullâb” merupakan kitab nazham (puisi) karangan Kiai Abul Fadhol dari Senori, yang menghimpun teori-teori qawâid fiqhiyyah (filsafat yurisprudensi Islam/ Islamische Rechtsmaximen) dan disarikan dari kitab rujukan utama dunia Islam dalam bidang tersebut, yaitu “al-Asybâh wa al-Nazhâir fî Qawâ’id wa Furû’ Fiqh al-Syâfi’iyyah” (dikenal dengan al-Asybâh wa al-Nazhâir) karya Syaikhul Islam Jalâluddîn al-Suyûthî (w. 1505 M). Nazham “Kifâyah al-Thullâb” ditulis dalam bahr (metrum puisi Arab) “rajaz”.
Sementara kitab “Hidâyah al-Thullâb” adalah penjelasan dan komentar (syarh) atas teks puisi “Kifâyah al-Thullâb” di atas. Penulis syarh “Hidâyah al-Thullâb” adalah KH. Muhibbi Hamzawi dari Kajen, yang juga murid dari Kiai Abul Fadhol Senori. KH. Muhibbi Hamzawi Kajen juga terhitung sebagai sepupu al-‘Allamah KH. Sahal Mahfuz, Rois Syuriah PBNU 1999-20014 yang juga pengarang kitab “Tharîqah al-Hushûl (hâsyiah) ‘alâ Ghâyah al-Wushûl (syarh) ‘alâ Lubb al-Ushûl” yang saat ini menjadi salah satu rujukan kajian ushul fiqih dunia Islam.
Jika kita buat pemetaan akan kitab-kitab di atas, maka didapati gambaran sederhana sebagai berikut;
هداية الطلاب للكياهي محبي بن حمزاوي الكاجيني الفاطي الجاوي (شرح على) -- > كفاية الطلاب للكياهي أبي الفضل بن عبد الشكور السنوري الطوباني الجاوي (نظم على) -- > الأشباه والنظائر في قواعد وفروع فقه الشافعية للإمام السيوطي
Kitab “Kifâyah al-Thullâb” diselesaikan Kiai Abul Fadhol pada tahun , lalu dicetak oleh Maktabah Salim Nabhan, Surabaya, tanpa tahun. Teks “Kifâyah al-Thuulâb” dicetak bersama dengan teks kitab “Kasyf al-Tabârih fî Bayân ‘Adad Raka’ât al-Tarâwih” yang juga karangan Kiai Abul Fadhol Senori dan menjelaskan tentang perbedaan rakaat sembahyang tarawih.
Sementara itu kitab penjelasan atau syarh-nya, yaitu “Hidâyah al-Thullâb”, tidak disebutkan oleh pengarangnya KH. Muhibbi Hamzawi, pada masa kapan ia diselesaikan. Kitab ini lalu dicetak oleh Pustaka Compas, Jakarta, pada tahun 2016 dengan tebal 68 halaman. Saya mendapatkan edisi cetakan kitab “Hidâyah al-Thullâb” ini dari al-Fadhil KH. Dr. Zainul Milal Bizawi, putra dari KH. Muhibbi Hamzawi.
Kiai Abul Fadhol mengawali kitab nazham “Kifâyah al-Thullâb” dengan pembukaan berikut;
الحمد لله الذي فقه من # أراده في دينه فضلا ومن
نحمده سبحانه على ما # علمنا اللآداب والأجكاما
ثم الصلاة والسلام سرمدا # على النبي المصطفى محمدا
وآله وصحبه الأماجد # ما استنبط الأحكام بالقواعد
وهذه منظومة بهية # ضمنتها القواعد الفقهية
لقطتها لقطا بضمن فاتر # من درر الأشباه والنظائر
سميتها كفاية الطلاب # وربي الهادي الى الصواب
جعلتها تذكرة لنفسي # ومن يكون قاصرا من جنسي
(Berkatalah hamba yang mengharapkan rahmat Rabb yang Ghafur # Ia adalah Abul Fadhol bin Abdul Syakur
Kami memujiNya atas segala apa # Yang telah Ia ajarkan kepada kami dari adab dan hukum-hukum agama
Shalwat dan salam semoga abadi # Tercurah kepada al-musthafa Muhammad sang nabi
Juga kepada keluarganya dan para sahabatnya yang agung megah # Bahwa segala hukum syari’ah itu dihasilkan dari beberapa kaidah
Ini adalah puisi yang elok indah # Di dalamnya aku menghimpun kaidah fiqhiah
Aku memetiknya dengan petikan seorang yang fatir # Dari permata kitab “Asybah wa Nazhair”
Aku namakan ia dengan “Kifayah Thubbab” # dan Tuhanku adalah Penunjuk kepada jalan sawab
Aku menjadikannya sebagai bahan pengingat untuk diriku # Dan orang-orang yang bodoh sepertiku)
Sementara itu, dalam kata pengantar “Hidâyah al-Thullâb”, sang pensyarah KH. Muhibbi Hamzawi menulis;
(Ini adalah sebuah penjelasan [syarh] yang ringkas, juga komentar yang bernas, aku menuliskannya atas kitab nazham yang berjudul “Kifâyah al-Thullâb” karangan Syaikh Abul Fadhol ibn Abdul Syakur, semoga Ia senantiasa dilimpahi oleh kasih sayang Allah yang Maha Ghafur, (beliau adalah) orang Senori Tuban, semoga Allah menerangi pusaranya dengan cahaya pancaran. Nazham tersebut meringkas kitab “Asyhab wa Nazha’ir” karya besar al-Imam al-‘Allamah Jalaluddîn al-Sayûthî. Saya berharap penjelasan [syarh] yang saya buat ini dapat mengudar kesulitan-kesulitan nazham tersebut, dapat menyibak tabir-tabir penjelasan nazham tersebut. Aku menuliskan syarh ini sebagai pengingat untuk diriku, juga bagi orang-orang yang bodoh sepertiku. Aku namakan syarh ini dengan “Hidâyah al-Thullâb fî Syarh Kifâyah al-Thullâb”. (A. Ginanjar Sya’ban)