Prof KHR Muhammad Adnan, Sang Mufassir dari Wilayah Keraton Surakarta
Senin, 9 Maret 2026 | 10:00 WIB
Muhammad Adnan lahir di Surakarta pada tanggal 16 Mei 1889, bertepatan pada bulan Ramadhan 1306 H. Gelar raden yang tersemat pada namannya, sebab ia merupakan putera Hoofd (Pemimpin) Penghulu Keraton Surakarta, Kanjeng Raden Penghulu Tafsir Anom V. (Apa dan Siapa Kyai Raden Haji Muhammad Adnan, Harian Pemandangan, 21 Agustus 1941).
Sejak kecil ia dididik oleh ayahnya sendiri di lingkup rumah Pengulon Kauman Surakarta. Ia memperoleh pengetahuan Islam dan membaca Al-Qur'an dari ayahnya yang juga merupakan penyusun kitab Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim.
Setelah menimba ilmu di beberapa pesantren di Jawa Tengah dan Jawa Timur, pada sekitar usia 15 tahun, ia mengenyam pendidikan di sekolah Mambaul Ulum yang terletak di kompleks Masjid Agung Surakarta. Madrasah Mambaul Ulum ini berdiri pada 23 Juli 1905.
Baca Juga
9 Tokoh NU Bergelar Pahlawan Nasional
Lulus dari Mambaul Ulum, ia berangkat ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji dan belajar. Namun, karena bersamaan dengan terjadinya Perang Dunia I, Adnan hanya sempat beberapa bulan saja di Tanah Suci, dan terpaksa harus pulang kembali ke Tanah Air.
Pulang ke Tanah Air (tahun 1918), ia diangkat menjadi guru di Madrasah Islamiyah Pasar Kliwon. Setahun kemudian, ia diangkat menjadi anggota Raad (pengadilan) Agama. Kariernya terus naik hingga diangkat menjadi Hoofd Penghulu Landraad dan Ketua Raad Agama, pada 17 Mei 1923. (A. Basit Adnan, Mutiara Hikmah Prof. KHR Mohammad Adnan, [Surakarta, Yayasan Mardikintoko: 1996] hal. 6).
Adnan yang kemudian menjadi menantu KH Ahmad Shofawi (salah satu pendiri Pesantren Al-Muayyad Surakarta) ikut bergabung dalam wadah Nahdlatul Ulama (NU). Ia memiliki peran besar pada penyelenggaraan Muktamar NU di Surakarta tahun 1935.
Pada Majalah Berita Nahdlatoel Oelama' (BNO) edisi (tanggal) 15 April 1936, namanya juga tercantum di bagian Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang dipimpin Rais Akbar Hadratussyekh KH M Hasyim Asy'ari. Namun, belakangan ketika NU menjadi partai politik, ia memutuskan untuk tetap berada di partai lama, yakni Masyumi. Di sana pula, namanya tercatat pernah menjadi Anggota Konstituante RI.
Riwayat pendidikan
Pendidikannya dimulai dari ayahnya sendiri, Tafsir Anom V, dan terkadang juga didatangkan guru dari luar untuk mengajarkan baca tulis kepadanya. Adnan berkesempatan juga memperoleh pendidikan formal di Algemeene Middelbareschool (AMS) dan pada tahun 1905, ketika berdiri Madrasah Mambaul Ulum, dirinya belajar di sana sampai selesai.
Selain di Madrasah Mambaul Ulum, pada usia 13 tahun Muhammad Adnan juga belajar dan memperdalam ilmu agama Islam di berbagai pesantren di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Antara lain, Pesantren Mojosari Nganjuk pada Kiai Zaenuddin, Pesantren Mangunsari Nganjuk yang diasuh Kiai Imam Bahri, Pesantren Tremas Pacitan asuhan Kiai Dimyati Abdullah, lalu kembali ke Surakarta untuk berguru kepada Kiai Muhammad Idris di Pondok Jamsaren.
Pada tahun 1908, ayahnya berkeinginan agar putra-putrinya ada yang memperdalam ilmu agama Islam di Makkah. Pilihan ayahnya jatuh pada tiga putranya, yakni Muhammad Adnan, Sahlan, dan Ishom. Muhammad Adnan, yang pada saat itu masih berusia 17 tahun, berguru kepada beberapa ulama, di antaranya Syekh Mahfudz at-Tarmasi, Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, dan lain-lain.
Tafsir Al-Qur'an Basa Jawi
Semasa hidupnya, KHR Muhammad Adnan dikenal sebagai seorang penulis produktif. Tulisannya tersebar di berbagai media massa pada waktu itu. Sebagian karyanya tersebut kemudian disusun menjadi beberapa buku. Salah satu karya monumentalnya tentu Kitab Tafsir Al-Qur'an Basa Jawi.
Sejatinya ia menulis tafsir tersebut, hanya meneruskan apa yang telah dilakukan oleh para pendahulunya, terutama para ulama yang berada di lingkup Keraton Surakarta, seperti Tafsir Anom V dan Bagus Ngarpah.
Wardatul Humairo' dalam skripsi berjudul Telaah Ulang Sumber Tafsir Al-Qur'an Basa Jawi Karya KH Muhammad Adnan, ia memberikan keterangan bahwa penulisan Tafsir Anom V dalam aksara Pegon merupakan usaha awal penulisan tafsir di antara ketiganya (Karya Tafsir Anom, Bagus Ngarpah, dan Kiai Adnan).
Sedangkan penulisan Kur'an Jawi karya Bagus Ngarpah merupakan perpanjangan usaha dengan cara menerjemahkan dari aksara Pegon ke aksara Jawa. Berbeda dengan kedua pendahulunya tersebut, KHR M Adnan melakukan kodifikasi ulang yang menawarkan adanya pembaruan. (Wardatul Humairo', Telaah Ulang Sumber Tafsir Al-Qur'an Basa Jawi Karya KH Muhammad Adnan, [Yogyakarta, UIN Sunan Kalijaga: 2025], hal. 2-3).
Dalam bagian purwaka atau kata pengantar, disebutkan bahwa upaya penulisan kitab tafsir ini sudah dimulai sejak Kiai Adnan masih awal menjabat sebagai Hoofd Penghulu Landraad dan Ketua Raad Agama, pada tahun 1924.
"Suwargi, nalika taksir timur watawis 40 tahun mandegani pakempalan Mardikintoko manggen ing Kauman Surakarta. Sampun nate nyithak buku-buku Islam warni-warni, antawisipun kitab Al-Quran Tarjamah Basa Jawi. Kacithak sapisan tahun 1924 mawi jarwa jarwi huruf Arab Pegon.” (M. Damami (ed.), Lima Tokoh Pengembangan IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, [Yogyakarta, Pusat Penelitian IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta: 1998), hal 43)
(terjemah: Almarhum, ketika masih muda sekitar usia 40 tahun memimpin perkumpulan Mardikintoko di Kauman Surakarta. Pernah mencetak berbagai macam buku Islam, di antaranya kitab Al-Qur'an Tarjamah Basa Jawi. Cetakan pertama tahun 1924, dengan menggunakan keterangan beraksara pegon)
Pada halaman purwaka atau kata pengantar ini, terdapat kata Suwargi atau almarhum, sebab memang pada saat kitab tafsir ini dicetak pada tahun 1977, KHR Muhammad Adnan telah wafat. Ia wafat pada 24 Juni 1969. Penulisan kitab ini kemudian diteruskan oleh para putranya, di antaranya Abdul Basit Adnan dan lain-lain.
Sejak tahun 1924, Kiai Adnan menulis Tafsir Basa Jawi tidak dalam bentuk satu buku utuh, akan tetapi tersebar dalam beberapa lembaran, hingga kemudian pada tahun 1954, ia mulai menghimpun kembali menjadi satu bagian. Kemudian sepeninggal Adnan, dilanjutkan oleh putranya, dan dicetak oleh Penerbit PT Al-Ma'arif Bandung dalam keterangan bahasa Jawa dengan aksara latin.
Dalam pembukaan Tafsir Anom-nya, Mohammad Adnan menyampaikan pemikiran-pemikirannya seputar Al-Qur'an dan tafsirnya. Penjelasan ini dapat dijumpai dalam halaman bebuka yang disusun oleh Mohammad Adnan di Surakarta pada tanggal 11 Juli 1965 M.
Pemikiran pertama yang ditulis oleh Mohammad Adnan adalah (Isinipun Al-Quran), artinya adalah “isinya Al-Quran”. (Neny Muthi’atul Awwaliyah dan Tabrani Tajuddin, Menelisik Khas Penafsiran Nusantara: Tafsir Anom (Tafsir al-Qur’an Suci Bahasa Jawi Aksara Pegon) Karya Moh. Adnan, (Cirebon, Diya al-Afkar: Jurnal Studi al-Qur’an dan al-Hadis Vol. 10 No. 2: 2022] hal. 329-330).
Mohammad Adnan menjelaskan bahwa isi kandungan al-Qur’an dibagi menjadi beberapa kriteria. Pernyataan ini terdapat dalam pembukaan kitab:
- Ilmu kangge nyumerepi Pangeran (Ma’rifat), kados pundi caranipun emut lan leladi (Ibadah) lan nyuwun pitulungan dhumateng panjenenganipun. (Ilmu untuk mengenal Allah, bagaimana caranya agar ingat dan beribadah dan mohon perlindungan kepada Allah)
- Ilmu Falsafah, kados pundi caranipun ginaaken akal pikiran. Kados pundi jagi akal pikiran wahu sampun ngantos keblasuk. (Ilmu Falsafah, bagaimana menggunakan akal pikiran, serta menjaganya agar tidak terjebak dalam kesesatan)
- Ilmu Sejarah lelampahanipun para Nabi lan Umatipun kanthi dipun sarengi inggil-andhapipun kabudayan ummat punika wahu (Ilmu Sejarah, riwayat para nabi dan umatnya dengan disertai perkembangan kebudayaan/peradaban umat)
- Ilmu Tatanegara kalebet cara ngatur pemerintahan, ilmu sesrawungan ing masyarakat, ilmu pagesangan lan pados pangesangan (Ekonomi), ilmu pendidikan, cara-cara musyawarah ngatur perdamaian, persatuan, ketenteraman. (Ilmu tatanegara, termasuk cara mengatur pemerintahan, ilmu bersosial dalam masyarakat, ilmu ekonomi, pendidikan, dan cara-cara bermusyawarah untuk mengatur perdamaian, persatuan, dan ketenteraman)
- Kathah sanget ngrembak Ilmu Bumi, Ilmu Alam, Ilmu Falak, Ilmu Hewan, kangge nedahaken bukti bab ke-Tuhanan. (Banyak membahas tentang Ilmu Bumi, Ilmu Alam, Ilmu Falak, Ilmu Hewan yang membuktikan kebesaran Tuhan).
- Paring sanepa kados pundi budidaya jagi keamanan negari, keadilan tiyang ingkang gadhahi perkawis wonten Pengadilan. Cara milih pemimpin lan ilmu ingkang magepokan kaliyan punika (Memberikan banyak perumpamaan, terkait cara menjaga keamanan negara, keadilan/peradilan, cara memilih pemimpin dan hal yang terkait).
Dalam penulisan Tafsir Al-Qur’an Suci Bahasa Jawi ini, Mohammad Adnan menggunakan sumber-sumber rujukan untuk menjelaskan ayat yang ditafsirkan dalam bahasa Jawa. Adapun sumber-sumber rujukan yang digunakan adalah: Tafsir Jamal, Tafsir Jalalain, Tafsir Al-Khazin, Tafsir Fathul Bayan, I’anah al-Thalibin, Wasilah al-Thalab, Makhalli, Taqrib, Fathul Qarib, Al-Itqan fi ’Ulum al-Qur’an, serta rujukan lainnya. Walhasil, kitab Tafsir Al Qur’an Suci Bahasa Jawi ini menjadi salah satu khazanah penting dalam konteks perkembangan ilmu tafsir di Nusantara.
Penentuan Puasa dan Lebaran
Semasa hidupnya, KHR Muhammad Adnan dikenal sebagai tokoh yang memiliki keilmuan yang lengkap. Selain ahli tafsir seperti yang telah disebutkan di atas, ia juga dikenal sebagai seorang akademisi dan tokoh pemimpin perkumpulan penghulu pada masa kolonial Hindia Belanda.
Sebagai seorang akademisi, ia merupakan salah satu tokoh pendiri PTAIN (Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri) Yogyakarta yang kini berganti nama menjadi UIN Sunan Kalijaga sekaligus menjadi rektor yang pertama di kampus tersebut. Oleh karena itu, pada namanya juga tersemat gelar guru besar atau profesor.
Sedangkan sebagai pemimpin penghulu, ia menjadi ketua lembaga yang bernama Perhimpoenan Penghoeloe dan Pegawainja (PPDP) yang berpusat di Surakarta. Sebelum kita mengenal istilah sidang isbat dalam penentuan awal puasa dan lebaran. Pada masa kolonial Hindia Belanda, PPDP ini menjadi lembaga yang dipercaya dalam hal penetapan puasa dan lebaran. Selain PPDP pula, lembaga yang bernama Mahkamah Islam Tinggi (MIT) yang lagi-lagi dipimpin oleh Kiai Adnan.
Keputusan PPDP maupun MIT dalam penentuan awal puasa dan lebaran ini kemudian menjadi rujukan organisasi lainnya, termasuk NU. Pada majalah Berita Nahdlatoel Oelama (BNO) edisi No 1 tahun ke-9 (1 November 1939 atau 19 Ramadhan 1358 H) memuat Maklumat dari Hoofdbestuur (Pengoeroes Besar) PPDP tentang penetapan permulaan Ramadhan dan Lebaran:
“Menoeroet poetoesan PPDP jang ke-1 di Soerakarta, dan telah diroendingkan djoega dengan conferentienja para oelama ahloel falaq dan foeqiha, pada hari Achad tg. 5 Juni 1938 bertempat di Pendopo Pengoelon Solo… oentoek mentjapai persatoean beoat Ramadlan dan dan Lebaran, dengan djalan roe’jah moe’tabaroh bil fi’lie atau bil istikmal.. dan ilmoe falaq didjadikan alat roe’jah belaka.. Dalam hal ini telah didjalankan PPDP moelai tahun 1937 sesoedahnja mengambil poetoesan dalam congresnja jang pertama tsb. Alasan ini menoroet Chadist sabda Nabi djoendjoengan kita Nabi Muhammad SAW: Shumu liru’yatih .. ila akhirihi,”
Dalam sumber lain, penulis juga menemukan pernyataan KHR Adnan saat menjadi pemimpin MIT. Surat kabar Antara edisi September 1945, mengabarkan Kiai Raden Haji M Adnan selaku ketua MIT, menyiarkan maklumat penetapan ‘Hari Raja untuk seluruh Djawa’, sebagai berikut:
“Mengingat akan alasan-alasan dan dalil-dalil jang telah dikemukakan dalam menetapkan hari permulaan bulan Puasa dan mengingat akan telah sahnja permulaan bulan Puasa pada tahun ini jang djatuh pada hari Kamis Pon 9-8, 1945 (9 Agustus 1945), dengan berdasarkan rukjat jang sah di beberapa tempat seluruh Djawa, jang sesuai pula dengan Hisab-Falaky... Maka Hari Raja Fitrah (Lebaran) pada tahun ini, dengan istikmaal (menyempurnakan 30 hari) djatuh pada hari Sabtu Pon 8-9, 1945 (8 September 1954) dan hal ini sesuai benar dengan perhitungan Hisab-Falaky. Demikianlah, mudah-mudahan kita dapat serentak berhari-Raja dengan arti jang lebih besar dari masa jang telah lalu,"
Dari keterangan tersebut, kita mengetahui bahwa MIT menggunakan metode rukyat dan hisab untuk penentuan awal Ramadhan dan Syawal. Dari pernyataan itu pula, sekaligus dapat menjadi penguat keterangan waktu pembacaan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang terjadi di saat momen bulan puasa.
Demikianlah uraian pemikiran mengenai tokoh Prof. KHR Muhammad Adnan. Seorang tokoh ulama dari Kota Surakarta. Semoga kita dapat meneladani kebaikannya. Lahu al-fatihah.
Ajie Najmuddin, Penulis Buku Menyambut Satu Abad NU.