Warta

Arab Saudi Susah Berkomunikasi dengan Ahli Falak Negara Lain

Rabu, 26 November 2008 | 08:01 WIB

Jakarta, NU Online
Para penentu kebijakan Arab Saudi sebagai barometer negara Muslim susah berkomunikasi dengan ahli falak dari negara Muslim lainnya dalam menentukan awal bulan kalender Islam Hijriyah. Akibatnya, beberapa keputusan penentuan awal bulan, terutama Dzulhijjah karena terkait pelaksanaan ibadah haji, sering dipertanyakan oleh para ahli falak dunia.

Menurut Ketua Lajnah Falakiyah PBNU KH Ghazali Masroeri, proses rukyatul hilal yang dilakukan di Arab Saudi dalam penentuan awal bulan masih sangat tradisional dan dengan tingkat akurasi hasil rukyat yang kurang memadai. Misalnya, pada penentuan hari wuquf di Arafah 1427 H kemarin para ahli falak menyangkan mestinya wuquf tidak jatuh pada hari Jum’at.<>

”Mestinya kalau dilihat dari sudut astronomi tidak begitu, wukuf pada waktu itu tidak jatuh pada hari Jum’at,” kata Kiai Ghazali kepada NU Online di Jakarta, Rabu (26/11).

Seperti pernah diberitakan NU Online, pada tangal 29 Dzulqa’dah (20 Desember 2006 lalu) pada saat diberlangsungkan rukyatul hilal di Makkah, ijtima’ (bulan baru) terjadi sekitar 0 jam 41 menit sebelum terbenam matahari waktu setempat (ijtima’ qabla ghurub). Ketinggian hilal pada saat ghurub masih berada di bawah ufuk pada ketinggian sekitar -2.51 derajat. Hilal di Makkah dengan demikian memang sudah merupakan hilal Dzulhijjah karena sudah melampaui ijtima’, namun dengan ketinggian yang negatif ini secara obyektif hilal tidak mungkin dapat terlihat.

Besar kemungkinan jika dilihat hanya pada posisi hilal semata, baik di Indonesia maupun di Arab Saudi akan mengawali bulan Dzulhijjah pada hari yang bersamaan, yakni pada hari Jum’at tangal 22 Desember 2006 dan wukuf akan diberlangsungkan pada hari Sabtu, 30 Desember 2006.

Beberapa ahli falak bahkan menuding bahwa ketetapan Saudi Arabia lebih kental unsur ekonominya, karena jika wukuf diadakan pada hari Jum’at maka akan ada ‘haji akbar’.

Menurut Kiai Ghazali, para perukyat Arab Saudi memang berbeda dengan negara lain yang selalu mengoreksi tingkat akurasi rukyat dengan metode dan peralatan yang terus dikembangkan.

Pada penentuan awal Syawal tahun ini juga terjadi kejanggalan. Kiai Ghazali menuturkan, Arab Saudi merayakan Idul Fitri lebih dulu dibanding negara-negara Arab lain yang berada di sebelah baratnya, seperti Syiria. Dari sisi astronomi, kejadian ini dianggap aneh. Payahnya lagi, ketetapan Arab Saudi ini diikuti oleh negara-negara di kawasan Teluk seperti Oman yang berada di sebelah timur Arab Saudi.

Menurut Kiai Ghazali, para pengambil keputusan di Saudi Arabia perlu berhubungan dengan negara-negara Muslim lainnya, terutama dengan para pakar falak, dalam menetapkan awal bulan Hijriyah.

“Saya sudah pernah mengatakan kepada Menteri Agama RI agar diadakan pendekatan dengan pemerintah Arab Saudi, tapi ya memang sangat sulit karena rukyat mereka memang masih sangat tradisional,” katanya.

Ditambahkan, Lajnah Falakiyah NU berharap tidak ada perbedaan dalam penentuan awal bulan Dzulhijjah tahun ini antara Indonesia dan Arab Saudi. Berdasarkan data hisab, rukyatul hilal di Arab Saudi pada 29 Dzuqa'dah tidak akan berhasil. Namun dengan metode rukyat yang sangat tradisional dan dengan tingkat akurasi yang kurang memadai bisa jadi Saudi akan memasuki awal Dzulhijjah lebih dulu. (nam)


Terkait