Nasional

Di Balik Stigma, SMA Kartini Rembang Berupaya Bangkitkan Minat Lulusan

NU Online  ·  Sabtu, 2 Mei 2026 | 18:00 WIB

Di Balik Stigma, SMA Kartini Rembang Berupaya Bangkitkan Minat Lulusan

Gedung sekolah SMA Kartini Rembang. (Foto: NU Online/Ayu Lestari)

Rembang, NU Online

Sekolah swasta di Kabupaten Rembang menghadapi tantangan serius dalam menarik minat siswa baru. Hal ini diakui Kepala SMA Kartini Rembang, Ida Khoiriyah, yang menyebut penurunan minat lulusan SMP menjadi persoalan utama.


Menurutnya, sebagian besar siswa kini lebih memilih melanjutkan pendidikan ke sekolah negeri atau SMK dengan orientasi langsung bekerja setelah lulus. Selain itu, tren pendidikan global menuntut sekolah tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga dalam aspek citra dan fasilitas.


“Secara umum, sekolah swasta di Jawa Tengah mengalami fluktuasi jumlah siswa karena faktor demografi dan ekonomi,” ungkap Ida, Kamis lalu.


Jumlah siswa SMA Kartini Rembang saat ini tercatat 44 orang, meningkat dari tahun sebelumnya sebanyak 32 siswa. Namun, angka tersebut masih jauh dibandingkan periode 2000-2013 yang pernah mencapai lebih dari 300 siswa.


Dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran, sekolah telah beralih dari metode konvensional ke pendekatan student-centered learning. Siswa didorong lebih aktif melalui diskusi, presentasi, dan proyek. Sekolah juga mulai mengintegrasikan teknologi digital, termasuk penggunaan platform pembelajaran serta perangkat seperti Interactive Flat Panel (IFP).


Sejak 2022, SMA Kartini Rembang menjadi Sekolah Penggerak yang menerapkan Kurikulum Merdeka lebih awal. Model pembelajaran berbasis proyek (project-based learning) dan pemecahan masalah (problem-based learning) turut diperkuat, dengan sistem penilaian yang lebih variatif seperti portofolio dan praktik.


Meski demikian, keterbatasan fasilitas masih menjadi kendala. Sejumlah sarana, seperti laboratorium dan alat praktik, membutuhkan pembaruan. Bahkan, pada tahun ini, salah satu ruang kelas mengalami kerusakan akibat serangan rayap sehingga kegiatan belajar harus dipindahkan.


Di sisi lain, sekolah tetap mempertahankan program unggulan berbasis nilai-nilai Raden Ajeng Kartini, seperti pendidikan karakter melalui tadarus rutin serta keterampilan membatik dan menjahit sebagai ekstrakurikuler wajib.


Meski menghadapi berbagai keterbatasan, lulusan SMA Kartini Rembang tercatat berhasil berkarier di berbagai bidang, mulai dari TNI, ASN, tenaga pendidik, hingga pengusaha dan profesional di luar daerah.


Untuk bertahan, sekolah mengandalkan pendekatan personal kepada siswa dan memperkuat kolaborasi dengan sekolah lain. Sejak tahun ajaran 2025/2026, SMA Kartini juga menjadi mitra Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah untuk menampung siswa dari keluarga kurang mampu.


Di tengah persaingan dengan sekolah negeri yang menawarkan biaya lebih terjangkau, Ida menegaskan pentingnya inovasi pembelajaran dan penguatan citra sekolah melalui media sosial. Ia berharap SMA Kartini Rembang dapat berkembang menjadi sekolah swasta unggulan sekaligus ikon pendidikan berbasis sejarah di Kabupaten Rembang.


Kisah Revan: Menemukan Arah di SMA Kartini

Salah satu siswa pindahan, Revan, menjadikan perpindahan sekolah sebagai titik balik dalam hidupnya. Ia kini melanjutkan pendidikan di SMA Kartini Rembang setelah sebelumnya bersekolah di SMK Negeri 2 Rembang.


Sejak kelas IX SMP, Revan sebenarnya berencana melanjutkan ke SMA Negeri. Namun, keinginan tersebut tidak mendapat izin dari ibunya semasa hidup, sehingga ia memilih SMK sebagai bentuk bakti kepada orang tua.


Selama di SMK, ia aktif mengikuti berbagai kegiatan, seperti drumband, organisasi, hingga menjadi anggota Pasukan Pengibar Bendera (Paskibraka) pada 2025.

 

Namun, ujian berat datang ketika sang ibu meninggal dunia akibat kanker, bertepatan dengan proses seleksi Paskibraka tingkat kabupaten. “Situasi saat itu cukup berat bagi saya,” ujarnya, Jumat (1/5/2026).


Memasuki kelas XI, Revan mulai merasa tidak cocok dengan sistem pembelajaran di SMK yang lebih menekankan praktik. Ia menyadari minatnya lebih condong pada bidang akademik, khususnya menulis.


Keinginan tersebut mendorongnya untuk meminta izin kepada ayahnya agar dapat berpindah ke SMA dengan tujuan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Bersama keluarga, ia mencari sekolah yang dapat menerima siswa pindahan hingga akhirnya menemukan SMA Kartini Rembang.


Ketertarikannya juga dipengaruhi oleh lingkungan sekolah yang dinilai asri dan nyaman. Ia telah mengenal lokasi tersebut saat menjalani karantina Paskibraka di area sekitar sekolah.


Selain itu, sistem pembelajaran di SMA Kartini yang seimbang antara teori dan praktik menjadi pertimbangan utama. Ia juga menilai kegiatan ekstrakurikuler seperti membatik dan menjahit tetap berjalan tanpa mengganggu jam pelajaran.


Sejak bergabung, Revan mengaku lebih mampu mengekspresikan diri. Ia aktif mengikuti berbagai ajang, seperti pemilihan duta pelajar dan lomba sastra, serta meraih prestasi, di antaranya dalam ajang Duta Genre 2025.


Kini, sebagai Ketua OSIS 2025, Revan turut berperan membangun citra sekolah. Ia aktif mengajak siswa memanfaatkan media sosial untuk memperkenalkan aktivitas sekolah kepada publik.


Menurutnya, SMA Kartini Rembang bukan sekadar tempat belajar, melainkan ruang yang memberi kenyamanan dan dukungan bagi siswa untuk berkembang.


“Bagi saya, SMA Kartini seperti rumah. Lingkungannya mendukung, teman-temannya solid, dan sekolah sudah memberikan yang terbaik bagi kami,” pungkasnya.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang