Warta

Britania Larang Kelompok Islamis

Selasa, 12 Januari 2010 | 20:17 WIB

London, NU Online
Pemerintah Britania menegaskan untuk melarang kelompok Islamis untuk menghormati tentara Inggris yang tewas di Afghanistan, Selasa (12/1). "Kelompok Islam4UK akan dilarang mulai Kamis (14/1)," kata Sekretaris Pemerintah Britania, Alan Johnson.

Langkah ini akan memungkinkan pihak berwenang untuk mencari dan menangkap kelompok ini jika masih ditemukan serta menyita asetnya. Langkah ini jelas menuai protes dan menimbulkan kemarahan Islam4UK.<>

Mohamed Omar Bakri, seorang ulama asal Libanon yang menjabat sebagai pemimpin spiritual kelompok ini mengklaim bahwa larangan tersebut akan mendorong beberapa kekerasan akan terjadi.

Keputusan pemerintah ini menuai kemarahan Islam4UK yang mengusulkan sebuah pawai untuk memprotes latrangan tesebut di Wootton Bassett, 75 mil (120 kilometer) Barat London.

Britania akan melakukan upacara pemulangan tentara Inggris yang tewas di Afghanistan. Penduduk kota dan keluarga korban dan veteran perang berbaris di jalan-jalan untuk menyambut jenazah prajurit yang tewas ini di sebuah pangkalan udara di sana.

Anjem Choudary, Bakri's UK, mengancam akan membawa 500 Islamis melalui jalan-jalan Wootton Basset untuk menyorot kematian warga sipil Afghanistan di tangan Pasukan yang dipimpin NATO. Pembuat undang-undang yang disebut publisitas menjijikkan bergerak stunt, dan banyak menyerukan agar kelompok dilarang Choudary.

Bakri mengatakan bahwa larangan itu kesalahan yang paling suram, dan akan mendorong ke arah kekerasan, termasuk gerakan bawah tanah. Dalam sebuah wawancara telepon dari Tripoli, Libanon, Bakri menyatakan bahwa ia melobi untuk sebuah reaksi damai. "Kami (adalah) tidak terlibat dengan kekerasan," katanya.

Bakri Group berpendapat bahwa sebagai seorang muslim, mereka tidak terikat oleh hukum Inggris dan telah menyatakan dukungan untuk Bin Laden dan Al-Qaeda. Dalam inkarnasi sebelumnya sebagai al-Muhajiroun, kelompok itu terkait dengan beberapa tersangka teror dan dituduh merekrut Muslim Inggris untuk berperang di Afghanistan dan Chechnya. Bakri mengakui bahwa beberapa anggota al-Muhajiroun telah terlibat dalam serangan militan, namun mengatakan kelompok tidak dapat dianggap bertanggung jawab atas tindakan mereka.

Bakri, yang dideportasi dari Britania pada tahun 2005, menambahkan bahwa, apapun yang terjadi, para pengikut-Nya dapat bersatu kembali dengan nama lain.

"Besok kita bisa menyebut diri kita apa pun yang kita anggap cocok untuk kita," katanya. (min)


Terkait