Warta

KH Hasyim Muzadi "Banjir" Pujian dan Ucapan Selamat

Selasa, 19 September 2006 | 07:37 WIB

Gagal menjadi Wakil Presiden Republik Indonesia (RI) pada pemilihan presiden 2004 lalu, justru sukses menjadi presiden. Namun yang ini beda, bukan Presiden RI, melainkan Presiden Konferensi Dunia Agama untuk Perdamaian (World Conference on Religion and Peace/WCRP).

KH Hasyim Muzadi, ya, dialah sang presiden itu. Presiden WCRP, sebuah organisasi lintas agama yang menghimpun tokoh-tokoh berbagai agama dari seluruh dunia dalam upaya mewujudkan perdamaian dunia. Terpilihnya menduduki jabatan cukup bergengsi itu justru karena ia tak bersedia dicalonkan. Namun, komitmen dan kiprahnya dalam upaya menciptakan kehidupan beragama yang rukun dan damai, ‘memaksa’ ia untuk menerima amanah itu.

<>

Hasyim, demikian panggilan akrab tokoh yang juga Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Sekretaris Jenderal International Conference of Islamic Scholars (ICIS) itu terpilih sebagai salah satu presiden mewakili muslim (Sunni) Indonesia dalam sebuah konferensi yang dihadiri 600-an tokoh dari 20 agama dari 100 negara di dunia di Kyoto, Jepang, 25-29 Agustus lalu.

Tak ayal, pemimpin tertinggi organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia yang juga Pengasuh Pondok Pesantren Al Hikam, Malang, Jawa Timur ini “kebanjiran” ucapan selamat. Ucapan selamat itu benar-benar istmewa. Pasalnya, bukan berbentuk karangan bunga atau sekotak iklan di sebuah surat kabar—sebagaimana layaknya ucapan selamat untuk seorang pejabat atau petinggi negara—melainkan langsung dari para tokoh, pemimpin dan pemuka agama di tanah air.

Dalam sebuah acara Temu Pemuka Agama di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Senin (18/9) kemarin, berkumpullah tokoh, pemimpin dan pemuka agama di Indonesia. Sejumlah tokoh, sedikitnya mewakili 9 agama di Indonesia memberikan ucapan selamat kepada Hasyim pada acara yang digelar PBNU bekerja sama dengan Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) itu. Ke-9 agama itu antara lain, Islam, Katolik, Protestan, Hindu, Budha, Konghucu, Bahai, Sikh dan Penghayat.

Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Kardinal Julius Darmaatmadja yang mewakili umat Katolik mengatakan, terpilihnya Hasyim menjadi Presiden WCRP merupakan sebuah kehormatan tersendiri bagi bangsa Indonesia, khususnya umat beragama di Indonesia. Keberagaman agama yang dimiliki bangsa Indonesia, katanya, memang memerlukan figur seperti Hasyim yang dinilai mampu mewujudkan misi kerukunan antarumat beragama serta perdamaian dunia.

“Semoga kita bangsa Indonesia mendapat siraman damai dari beliau (Hasyim, red). Damai Indonesia, damai dunia,” ucap Romo Kardinal , demikian panggilan akrab pemimpin tertinggi umat katolik di Indonesia ini.

Tak jauh berbeda, mewakili umat Protestan di Indonesia, Pdt Andreas Yewangoe yang juga Ketua Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI) turut mengucapkan selamat kepada mantan Ketua Pengurus Wilayah NU Jawa Timur itu. Ia juga menyatakan dukungan terhadap terhadap Hasyim dalam posisinya sebagai presiden di organisasi yang didirikan pada tahun 1970 dan saat ini berpusat di Markas PBB, di New York, Amerika Serikat itu.

Dari sekian tokoh yang menyampaikan pandangan dalam pidatonya, pernyataan yang cukup menarik dikemukakan Bikhu Dharmasubu Thea, wakil dari pemeluk agama Budha. Bikhu yang juga Ketua Konferensi Agung Sangha Indonesia (KASI) ini, mengandaikan Hasyim mampu menjadi seperti Jayabaya, raja Kerajaan Kadiri (1135-1159). Jayabaya adalah tokoh asal Jawa Timur yang memiliki reputasi internasional di zamannya.

“Sama-sama putra Jawa Timur-nya. Jayabaya dari Jawa Timur, Pak Hasyim Muzadi juga begitu. Semoga beliau juga bisa menjadi penerus Jayabaya,” kata Bikhu Dharmasubu disambut tepuk tangan para hadirin yang memenuhi ruang pertemuan itu.

Bikhu Dharmasubu juga mengatakan, didaulatnya Hasyim menjadi presiden WCRP bukanlah untuk mengharapkan sesuatu, melainkan sebaliknya. “Saya yakin beliau menjadi Presiden WCRP tidak untuk berharap mendapatkan sesuatu, tetapi untuk memberikan sesuatu. Sesuatu itu adalah melestarikan kerukunan antarumat beragama serta perdamaian dunia,” terangnya yang sekali lagi disambut tepuk tangan gemuruh.

Tak ketinggalan, masing-masing tokoh yang mewakili umat Hindu, Konghucu, Konghucu, Bahai, Sikh dan Penghayat juga menyampaikan hal serupa. Mereka juga satu kata mendukung serta siap membantu apa yang akan dilakukan Hasyim di WCRP, terutama dalam rangka mewujudkan perdamaian dan kerukunan antarumat beragama.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) I Nyoman Suwandha mengatakan, hal yang lebih penting dilakukan sebagai tindak lanjut dari konferensi di Kyoto itu adalah tidak saja mengadakan dialog antarumat beragama, melainkan juga bekerja sama