Bogor, NU Online
Para peserta Silaturrahim ke-2 Mahasiswa NU se-Jawa di Kampus Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Bogor mendesak Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) agar memberikan porsi perhatian lebih terhadap kaderisasi di kampus. Jika tidak maka NU akan selalu mengalami kesulitan memiliki kader-kader yang berkaulitas tinggi.
Kaderisasi NU dinilai sangat lamban terutama pada kampus berbasis ilmu pengetahuan umum seperti IPB, UGM, UI, ITB, UNDIP. NU nyaris tidak pernah melirik dan merasa berkepentingan. Padahal mayoritas pemimpin bangsa umumnya adalah jebolan PTN-PTN tersebut.
<>Nailul Abrar, juru bicara delegasi IPB di sela-sela pertemuan ini, Senin (2/2) mengemukakan, revitalisasi kaderisasi NU di kampus bersifat mendesak dilakukan.
“NU berkepentingan dengan pelestarian ajaran ahlusunnah wal jamaah di kampus. Apalagi saat ini banyak mahasiswa dengan latar belakang tradisi NU diasuh oleh orang lain, sehingga mereka memilih berpindah idiologi sekaligus menjadi musuh NU,” kata Nailul.
Menurut Nailul, sejak lama kaderisasi NU di kampus umum menjadi isu dan wacana di kalangan Nahdliyyin. Namun hingga sekarang belum ada upaya serius yang dilakukan NU.
“Untuk meningkatkan kesejahteraan warga NU, NU perlu meningkatkan perhatian pada sektor pendidikan khususnya pendidikan tinggi. Mahasiswa NU yang tengah kuliah perlu mendapatkan perhatian secara serius.”
Keprihtainan yang sama diutarakan Senja Bagus Ananda, salah seorang delegasi dari UI. Dia mengatakan bahwa sangat sulit merekrut kader-kader NU di UI. Pasalnya rata-rata dalam setahun kader baru yang direkrut selalu terbilang dengan jari. “Di UI merekrut kader NU sangat terasa sulit. Saya berharap kondisi ini menadi perhatian NU.”
Juru bicara UGM Muhammad Zakiy menimpali, NU juga perlu melakukan depolitisasi. Perhatian dan keterlibatan pada politik praktis harus diubah kepada politik keumatan dengan memberdayakan dan meningkatkan kesejahteraan warga NU.
“Karena itu, kawan-kawan yang berhimpun dalam Formanu ini akan memulai dengan mengembangkan budaya intelektualitas, profesionalitas dan spiritualitas dalam beraksi,” papar Zakiy.
Fathul Mujib dari Undip Semarang menimpali, sudah saat NU melirik politik keumatan dalam berkiprah. Pasalnya sejauh ini SDM dan kesejahteraan warga NU sangat jauh tertinggal.
“Hal inilah yang mendorong saya berangkat ke Bogor. Saya berharap lingkage ini terus terbangun dengan baik guna membina kemitraan jangka panang bagi pengembangan Nahdliyyin.” (hir)