Palembang, NU Online
Sudah bukan saatnya lagi Nahdlatul Ulama (NU) untuk selalu mengalah. Oleh karenanya, warga nahdliyyin (sebutan untuk warga NU) dituntut untuk berani melawan jika ada pihak-pihak yang berupaya ‘mengganggu’ NU, termasuk terhadap kelompok atau gerakan Islam radikal yang bermunculan belakangan ini.
Demikian disampaikan aktifis Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) NU, Khamami Zada saat menjadi narasumber pada diskusi dan bedah jurnal Taswirul Afkar di sela-sela Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) Lakpesdam NU, di Hotel Carrisima, Palembang, Sumetera Selatan, Senin (11/12).
<>Hadir pula sebagai narasumber pada diskusi yang diikuti ratusan aktifis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Kota Palembang itu, Pembantu Rektor III Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Raden Patah, Dr Abdullah Idy.
Menurut Khamami, begitu panggilan akrab Khamami Zada, loyalitas dan militansi kader NU terhadap organisasi, sedang diuji. Apalagi, saat ini, gerakan kelompok Islam garis keras semakin masif. Salah satu buktinya, katanya, adalah diambilalihnya sejumlah masjid milik warga nahdliyin.
“Ketika kita (NU) ‘diserang’, kita harus berani melawan. Kita juga harus membalas serangan itu. Nah, di sinilah militansi kita ini dibuktikan. Berani nggak kita melawan mereka,” ungkap Khamami.
Khamami meminta agar warga nahdliyin tak lagi takut disebut ahli bid’ah (mengada-ada dalam beribadah). Pasalnya, katanya, stigma itu hanya bagian dari strategi dari kelompk Islam fundamentalis untuk menghancurkan NU. Dalam banyak kasus, lanjutnya, kelompok tersebut sebetulnya layak pula disebut ahli bid’ah.
“Di Aceh itu ada peraturan daerah pandai baca-tulis Alquran. Seseorang yang mau menikah harus bisa atau pandai baca-tulis Alquran. Itu kan juga bid’ah. Karena secara fikih tidak ada aturan tentang pernikahan dengan syarat harus bias baca-tulis Alquran,” terangnya.
Senada dengan Khamami, Abdullah Idi mengatakan, dalam kondisi-kondisi tertentu, memang perlu untuk bersikap keras. Demikian pula, lanjutnya, terhadap kelompok Islam radikal itu, warga nahdliyin perlu untuk bersikap keras. “Kalau tidak begitu, kita (NU) akan selalu dianggap lemah,” tandasnya.
Diceritakan mantan aktifis PMII Sumsel tersebut, di kampus tempat ia mengabdi, kelompok-kelompok tersebut kerap menggunakan masjid sebagai aktifitas politik. Shalat Jum’at pun, katanya, tak jarang dipakai untuk menghujat tokoh politik tertentu.
“Sejak saya menjadi pembantu rektor, saya tertibkan aktifitas seperti itu. Saya buat kebijakan depolitisasi kampus, tidak ada aktifitas politik di dalam kampus. Alhamdulillah, meski saya dibenci sama mereka, tapi banyak juga yang mendukung kebijakan saya,” jelas Abdullah, begitu panggilan akrab pria yang baru mendapat gelar doktor itu. (rif)