Program jangka panjang Organisasi Konperensi Islam (OKI) membantu pembiayaan pendidikan, kesehatan bagi 25 ribu anak yatim masyarakat korban konflik dan bencana alam gempa bumi dan tsunami di Provinsi Aceh.
"Kami memulai bantuan tersebut terhitung sejak 2007 dan akan berjalan selama 15 tahun ke depan," kata Direktur eksekutif OKI Aceh-Sumatra, Mustafa Sabri Yavuz di Banda Aceh, Selasa (15/12.<>
Mustafa menyebutkan, bantuan pembiayaan pendidikan, kesehatan dan keterampilan kepada anak yatim tersebut merupakan komitmen OKI dengan pihak Pemerintah Indonesia pascatsunami 26 Desember 2004.
Pendanaan untuk proyek ini bersumber didanai OKI bersumber dari negara-negara muslim dunia. OKI merupakan organisasi yang didirikan oleh 57 negara muslim dunia dari empat benua. "Itu merupakan konsensus dari negara-negara muslim untuk membantu masyarakat Islam dunia dan untuk kedamaian internasional," katanya menambahkan.
Mustafa menjelaskan, program bantuan tersebut diluncurkan untuk menjawab tantangan perkembangan anak yatim pada masa transisi pascatsunami, dengan harapan mereka bisa tumbuh menjadi mandiri di masa mendatang.
Program tersebut juga menitik beratkan untuk membuka lapangan kerja, pemberdayaan ekonomi dan peningkatan keterampilan bagi masyarakat, terutama para keluarga korban tsunami. "Jika program di Aceh ini berjalan baik dan sesuai harapan maka akan menjadi pilot proyek di sejumlah negara Islam seperti di Irak, Sudan dan Palestina," tambahnya.
Mustafa merincikan, masing-masing anak yatim dialokasikan bantuan senilai 30 dolar AS. Dari dana tersebut sebesar 24 dolar untuk biaya hidup dan selebihnya digunakan untuk menitoring dan biaya pendidikan.
"Program bantuan kepada anak yatim itu termasuk memberikan mata pelajaran tambah (les) dan pemberian seragam sekolah pada setiap tahun ajaran baru," jelasnya.
OKI juga telah melakukan advokasi kepada sedikitnya 500 anak yatim yang putus sekolah, sehingga mereka bisa kembali mengecap pendidikan di provinsi ujung paling barat Indonesia itu. (ant)