Warta

Pembangunan ”Perpustakaan NU Sumitro” di Jember Dikritik

Jumat, 27 Februari 2009 | 00:15 WIB

Jember, NU Online
Pembangunan gedung perpustakaan NU di Jember dengan nama "Perpustakaan Prof Sumitro Joyohadikusumo” yang didanai oleh Prabowo Subianto mendapatkan kritik pedas dari kalangan pesantren, bahkan seorang kiai sepuh.

Selain kental dengan unsur politik terkait pencalonan Prabowo sebagai presiden pada pemilihan presiden (Pilpres) Juli nanti, Sumitro ayah Prabowo itu adalah arsitek ekonomi Orde Baru dan pentolan Partai Sosialis Indonesia (PSI) yang sikap politiknya berbeda dengan NU pada masa itu.<>

Mantan peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) asal Jember, Bisri Efendi, mengaku tak habis pikir atas pendirian perpustakaan NU di Jember itu. ”Saya tidak tahu banyak pertimbangannya apa. Tapi dengan alasan apapun pendirian perpustakaan itu sangat tidak pas,” katanya kepada NU Online di Jakarta, Kamis (26/2).

”Mengembangkan perpustakaan pesantren atau perpustakaan NU itu bagus saja, tapi ini kan seratus persen politik. Mestinya pesantren kita kembali ke awal independensinya, tidak bisa diintervensi siapapun,” kata Bisri yang juga Direktur Tankinaya Institut, sebuah lembaga pengkajian kebudayaan.

Selain itu, menurutnya, Sumitro lebih dikenal sebagai pembawa aliran pemikiran ekonomi yang sangat liberal, sementara NU semenjak awal mengkritik gagasan-gagasan mengenai liberalisme.

”Sumitro kan gank Berkeley yang punya kesalahan besar menyeting ekonomi dari Orde Baru. Dialah yang mengacak-ngacak perekonomian Indonesia dan sampai saat ini dia masih punya pungaruh. Apa artinya NU mengkritik liberalisme kalau sekarang ada orang NU menerima ini dengan kepasrahan,” katanya

Gedung perpustakaan NU Jember itu berada di sebelah barat gedung Baladika NU, Jalan Tampaksiring, Antirogo, Kecamatan Sumbersari. Pada Senin (23/2) lalu, Prabowo meletakkan batu pertama untuk pembangunan gedung perpustakaan tersebut.

Pembangunan perpustakaan ini praktis mendapatkan kritik dari salah seorang kiai sepuh di Jawa Timur yang terlibat aktif dalam berbagai aktivitas NU pada masa Orde Lama dan Orde Baru. Pendirian perpustakaan ini dinilai ahistoris karena Sumitro diidentivikasi memimpin gerakan pemberintakan PRRI yang sangat ditentang oleh NU.

”Kalau perpustakaan Sumitro diizinkan bisa jadi nanti juga muncul perpustakaan Kartosuwiryo,” kata kiai ini yang tidak mau disebutkan namanya, sesaat setelah tersiar berita pembangunan perpustakaan ini. (nam)


Terkait