Pemerintah Bertekad Tak Akan Diskriminasikan Pendidikan Pesantren
Selasa, 10 Maret 2009 | 00:01 WIB
Menteri Kominikasi dan Informatika (Menkominfo) Prof Dr Ir Muhamad Nuh DEA menegaskan, untuk mecerdaskan bangsa ini, pendidikan tidak boleh dilaksanakan secara diskriminatif. Tidak boleh ada satu lembaga pendidikan yang diistimewakan, sementara yang lain dianaktirikan.
Perlakuan pemerintah terhadap lembaga pendidikan harus sama, baik lembaga yang di bawah Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) maupun Departemen Agama (Depag).<>
”Pada masa pemerintahan sekarang (SBY), bertekad untuk menghilangkan diskriminasi,” ungkap Nuh, saat mengisi pengajian pada acara peringatan Maulid Nabi Muhamad, HUT Ponpes Al Anwar Ke-42 dan peresmian Ponpes Al Anwar 2 di Desa Gondangrejo, Kecamatan Sarang, Ahad (8/3) malam, seperti dilaporkan kontributor NU Online Sholihin.
Tekad pemerintah itu dapat dilihat dari sejumlah program yang dilaksanakan secara merata. Seperti Bantuan Operasional Sekolah (BOS) maupun bea siswa. Pemerintah juga memberikan perhatian kepada pondok pesantren. Dikatakannya, pemerintah menyadari pondok pesantren menjadi benteng nasionalisme, moral dan akhlak.
”Pemerintah bisa kuwalat jika tidak menghargai pondok pesantren. Karena jasa pesantren terhadap bangsa ini cukup besar,” kata menteri dari kalangan warga NU ini.
Nuh, juga mengingatkan, Indonesia adalah negara besar. Namun, tidak setiap yang besar memiliki makna besar. Ada yang besar memiliki makna kecil, yakni, kedunguan. Sebaliknya ada yang kecil memiliki makna besar. Yakni, kecerdasan dalam kesyukuran. Kalau ada yang kecil memiliki makna kecil, merupakan kelaziman. Begitu juga yang besar memiliki makna besar juga kelaziman. ”Kita ingin Indonesia yang besar memiliki makna yang luar biasa besar,” tandasnya.
Untuk mencapai itu semua, lanjut dia, bangsa ini diminta untuk membuang stigma negatif. Seperti infiority complex atau penyakit rendah diri dalam segala hal. Sebab, penyakit orang yang kalah biasanya sering menyalahkan orang lain. Seperti orang yang mencari jarum di luar rumah, padahal jarumnya jatuh di dalam kamar. Mereka tidak mau mencari jarum di kamar, disebabkan karena kamarnya gelap.
Selain memberikan ceramah, Bersama KH Maemoen Zuber, Prof Nuh juga menandatangani prasasti peresmian pesantren Al-Anwar 2. Sejumlah politisi dan cendikiawan dan kiai terlihat hadir. Seperti pengurus DPW PPP Jawa Tengah KH Hisyam Ali dan Masrukhan Syamsuri, Wakil Sekjen DPP PPP H Arwani Thomafi (Gus Aan), Prof Dr Kacung Marijan dari Surabaya. Acara itu juga dihadiri ribun santri dan umat Islam sekitar.(nam)