Pondok Pesantren Hidayatul Mubtaidien Lingkungan Kedungkwali Gang 7 Kelurahan Miji Kecamatan Prajurit Kulon Mojokerto menyelenggarakan tahlil dan doa bersama jelang 40 hari wafatnya KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Gelar tahlil yang diikuti ratusan masyarakat bersama ulama dan kiai juga dimaksudkan untuk mengenang pemikiran dan ajaran yang pernah disampaikan cucu KH Hasyim Asyari semasa hidupnya
Wawali Mojokerto Mas'ud Yunus mengatakan, salah satu yang dapat dipetik pelajaran yang di tinggalkan Gus Dur adalah dikenal sebagai sosok pemimpin yang selalu melindungi kaum minoritas yang multikulturalis. Selalu mengedepankan prinsip-prinsip menghormati kebebasan berpendapat dan beragama.<>
"Bangsa Indonesia yang beragam agama dan ras bisa bersatu karena perjuangan Gus Dur. Maka dari itu setiap ajaran yang pernah beliau (Gus Dur--red) sampaikan perlu diteruskan dan diamalkan," ungkap Wawali Mojokerto Mas'ud Yunus sekaligus sebagai salah satu pembicara pada Selasa (2/2) malam saat acara berlangsung.
Mas'ud Yunus menambahkan, mengenang wafatnya Gus Dur tidak harus dalam bentuk ritual atau seremonial semata. Melainkan, lanjut pengasuh Pondok Pesantren Al-Amin Sooko ini, senantiasa diwujudkan dalam amal ibadah dan perbuatan.
"Tapi bukan saja bagi pengikut Gus Dur, melainkan oleh generasi muda NU," tegasnya.
Mas'ud Yunus meminta generasi muda NU juga dituntut mampu menjalankan prinsip-prinsip keaswajaan NU. Salah satunya dengan mengedepankan ajaran rahmatal lil alamien.
"Artinya Gus Dur jangan hanya dijadikan kenangan melainkan jadikan tokoh sekaligus sosok yang perlu diteladani," tegasnya.
Senada juga disampaikan KH Chusain Ilyas. Rois Syuriah PCNU Kabupaten Mojokerto itu mengatakan saat ini sulit menemui kiai sekaligus ulama NU seperti Gus Dur. Bukan hanya mampu mensinergitas bangsa, melainkan dianggap cukup peduli dengan ajaran ahli sunnah wal jamaah. Termasuk aktif menjalin budaya silaturrahmi dan kerukunan antar umat beragama. Meski suka bercanda dan kerap mengeluarkan joke-joke yang lucu.
"Semoga dengan peringatan seperti kita semua mendapatkan berkah dan mampu melanjutkan perjuangan beliau," kata KH Chusain Ilyas dalam kesempatan yang sama.
Sebenarnya tahlil yang digelar untuk peringatan jelang 40 hari mantan Ketua PBNU rencananya juga akan dihadiri pula adik kandung sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, KH Sholahuddin Wahid (Gus Solah). Namun, Gus Solah urung hadir lantaran sibuk menerima tamu yang berdatangan, sekaligus pentakziah ke makam Gus Dur di kompleks Pondok Pesantren Tebuireng. (min)