Warta

Poligami Hanya untuk Korban Perang Uhud

Rabu, 6 Desember 2006 | 01:23 WIB

Jakarta, NU Online
Agama sering hanya dijadikan alat untuk menuruti keinginan subyektif para penganutnya. Teks-teks suci menjadi tameng untuk menyembunyikan berbagai maksud pribadi. Sementara, latar belakang dan nilai filosofis turunnya teks-teks suci itu tidak terlalu diindahkan.

Demikian dikatakan KH Nazaruddin Umar, Katib Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang juga Direktur Jenderal Pembinaan Masyarakat Islam Departemen Agama usai bertemu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Kantor Presiden dan dilanjutkan di Istana Negara, Jakarta, Selasa (5/12).

<>

Nazaruddin dipanggil presiden bersama Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Meutia Farida Hatta untuk membahas beberapa persoalan penting terutama soal poligami yang dilakukan oleh beberapa tokoh Islam.

Presiden dan ibu negara Ani bambang Yudhoyono sebelumnya mengaku gelisah setelah kebanjiran pesan pendek (SMS) di telepon seluler mereka mengenai terjadinya poligami yang dilakukan oleh da’i kondang Abdullah Gymnastiar yang lebih sering dikenal Aa’ Gym. Presiden dan Ibu negara mendapatkan ratusan pesan, saran, masukan sekaligus kritik dari dari kaum perempuan.

Menurut Nazaruddin, ihwal turunnya ayat Al Quran yang mengizinkan poligami adalah setelah Perang Uhud. Pasukan Islam kalah sehingga populasi laki-laki dan perempuan tidak imbang. “Karena itulah poligami diizinkan,” katanya kepada wartawan usai pertemuan.

Menurutnya, bersadarkan pengalaman dan studi-studi yang dikakukan oleh berbagai LSM dan perguruan tinggi, poligami pada umumnya membawa kesengsaraan bagi pihak perempuan dan dan dampaknya juga mengena pada umat, negara, dan bangsa.

Usai pertemuan selama sekitar dua jam itu, pemerintah lalu berencana akan merevisi ulang Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1983 tentang Izin Perkawinan dan Perceraian Pegawai Negeri Sipil. Setelah direvisi, peraturan yang pernah direvisi dengan PP No 45/1990 itu akan diberlakukan umum untuk seluruh anggota masyarakat, tidak terkecuali para tokoh Islamnya. (nam)


Terkait