Warta

Pondok Putri Salafiyah Khoiriyah Jombang Kembangkan Teleconference

Rabu, 31 Desember 2008 | 09:01 WIB

Jombang, NU Online
Jauh dari pusat kota atau keramaian tidak harus membuat santri gagap teknologi. Itulah yang sedang dibuktikan oleh Pondok Putri Salafiyah Syafi’iyah Khoiriyah Hasyim Seblak Jombang. Sejak akhir November lalu, pesantren ini telah mengembangkan seminar atau konferensi jarak jauh (teleconference) dalam pembelajaran santrinya.

Dalam konferensi tersebut, santri dipertemukan dengan narasumber dari beragam profesi dan latar belakang keilmuan. “Narasumbernya adalah dosen dan profesional dari berbagai negara,” ujar Luqman Hakim, salah satu pengasuh pesantren dalam rilis pers yang diterima NU Online, Rabu (31/12).<>

Menurut pria yang menjabat Ketua Pengadilan Agama Jombang ini, kegiatan teleconference di Seblak terwujud atas bantuan Gerakan 1000 Guru. Gerakan yang digagas kalangan profesional dan intelektual Indonesia di luar negeri ini bertujuan membantu percepatan penyetaraan level pendidikan Indonesia dalam skala global.

Di luar itu, Pondok Seblak berencana memanfaatkan teleconference untuk memfasilitasi komunikasi antara santri, wali santri dan alumni. Tahun depan, wali santri diharapkan dapat “bertatap muka” dengan anaknya yang tinggal di pesantren melalui Smart Room, laboratorium teknologi informasi dan komunikasi Pondok Seblak.

Pemanfaatan teknologi ini diharapkan menjadi alternatif komunikasi antara santri dan wali santri.  Langkah ini diambil menyusul kebijakan larangan membawa telepon seluler bagi santri yang diberlakukan sejak setahun lalu. “Telepon seluler cenderung berdampak negatif bagi konsentrasi belajar santri,” tutur Nyai Hj Mahsunah Faruq, pengasuh lainnya.

Belajar dari Jepang


Untuk merayakan Tahun Baru Hijriah, pesantren putri yang dirintis oleh Nyai Hj Khoiriyah Hasyim (putri sulung Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari) pada 1921 ini menggelar teleconference dengan topik “The Japanese Ethics: Etos Masyarakat Jepang dalam Mencapai Kemajuan” pada Selasa (30/12) kemarin.

“Ini adalah konferensi ketiga sejak dicanangkan akhir November lalu,” ungkap Luqman. Untuk menyemarakkan suasana, konferensi kali ini juga mengundang perwakilan madrasah dan pesantren di sekitar Pondok Seblak.

Direktur PT Osimo Indonesia Hasanuddin Abdurakhman, yang menjadi pembicara dalam teleconference ketiga tersebut mengungkapkan kunci kesuksesan dan kemajuan masyarakat Jepang. “Kuncinya ada pada konsep kekerabatan yang disebut ‘uchi’,” ujar pria yang meraih gelar doktor dari Tohoku University Jepang ini.

Konsep inilah yang membuat masyarakat Jepang memiliki solidaritas kelompok yang tinggi. Konsekuensinya, kehormatan dan harga diri kelompok senantiasa dijunjung tinggi oleh masyarakat Jepang.

Kuatnya pengaruh budaya uchi membuat setiap kelompok di Jepang berjuang untuk menjadi atau menghasilkan yang terbaik. “Sebab, itulah salah satu cara terbaik menjaga kehormatan dan harga diri kelompok,” ungkapnya.

Dampak positifnya, masyarakat Jepang selalu terdorong untuk mengerjakan sesuatu dengan penuh kesungguhan agar tidak kalah dengan kelompok atau bangsa lain. “Semangat itu pula yang memicu timbulnya rasa tanggung jawab dan disiplin yang tinggi,” pungkas Hasan. (nam)


Terkait