Warta

PWNU Sumut Minta Kapolda Tangkap Aktor Tewasnya Ketua DPRD

Selasa, 3 Februari 2009 | 19:04 WIB

Medan, NU Online
Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Sumatera Utara (Sumut) H Ashari Tambunan meminta Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Sumut Irjen Pol Drs Nanan Soekarna menangkap aktor intelekual aksi anarkisme yang menyebabkan Ketua DPRD Sumut Drs H Abdul Aziz Angkat, MSP meninggal dunia, Selasa (3/2) di RS Gleni Medan.

"Saya berharap agar Kapoldasu segera menangkap aktor intelektual dibalik aksi anarkis ini. Apa yang dilakukan oleh para demonstran tersebut jelas-jelas telah melukai demokrasi yang selama ini diidam-idamkan masyarakat,” ujar Ashari, Selasa (3/2), ketika melayat jenazah Abdul Aziz Angkat di kediamannya Jalan Eka Rasmi Kecamatan Medan Johor.

<>

Ashari yang ketika itu di dampingi oleh Wakil Ketua Drs H Arifin Matondang, dan Marah Halim MHum menegaskan dirinya tidak menyangka kalau aspirasi masyarakat untuk pemekaran berubah menjadi sebuah tindakan brutal yang mengakibatkan Ketua DPRD Sumut yang merupakan simbol masyarakat Sumut menjadi korban.

"Mari kita belajar dari peristiwa ini. Saya menghimbau seluruh warga Nahdyin khususnya dan masyarakat Sumut umunya untuk menyalurkan aspirasi dengan cara-cara yang elegan tidak dengan kemauan sendiri tanpa memperhatikan koridor hukum yang ada. Kalau sudah jatuh korban tentu tujuan aksi untuk menyampaikan aspirasi tersebut akan gagal,” ujar Ashari kembali.

Ashari menandaskan kembali bahwa peristiwa tersebut juga membuktikan bahwa ada sebagian kecil elit politik yang mengaku memhami apa itu makna demokasi ternyata meluka dan mencederai proses demokrasi itu sendiri.

"Itulah sebab saya meminta kepada Kapoldasu segera menangkap aktor intelektual dibalik aksi brutal dan anarkisme ini .Siapa mereka itu urusan pihak kepolisian,” ujar Ashari.

Pada kesempatan itu Ashari juga menghimbau kepada seluruh lapisan masyarakat Sumut untuk tidak terjebak ceos dari yang terjadi di Gedung DPRD Sumut .

”Ini tergantung dari sikap kepolisian dalam menuntaskan kasus ini jangan sampai kesabaran masyarakat habis. Satu lagi saya mengingatkan agar kelompok minoritas jangan memaksakana kehendak sehingga melukai kaum mayoritas sebab kalau kaum mayoritas bertindak semuanya akan menjadi kacau,“ ujar Ashari kembali.

Kontributor NU Online Muhammad Safii Sitorus melaporkan, perisitiwa kematian Ketua DPRD Sumut tersebut berawal sekira pukul 09.00 Wib ketika ratusan masa dari pendukung pembentukan Provinsi Tapanuli memaksa masuk ke ruang sidang paripurna di lantai II Gedung DPRD Sumut yang ketika itu sedang dilaksanakan prosesi PAW anggota DPRD Sumut dari Fraksi PPP yang berasal dari PBB .

Sikap keganasan masa akhirnya membubarkan sidang paripurna tersebut dan memaksa agar Ketua DPRD Sumut mau menandatangai surat rekomendasi persetujan pembentukan Propinsi Tavanuli.

Ketua DPRD Sumut sempat ditarik-tarik dan kemudian langsung pingsan .Selanjutnya dilarikan ke RS Gleni ,namun tidak lama di RS Gleni sekira pukul 12.00 WIB siang akhirnya Ketua DPRD Sumut tersebut menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Saat berita ini dinaikkan jenazah Ketua DPRD Sumut masih dilakukan proses Visum di RSU Pringadi Medan. (nam)


Terkait