Warta

Siap Ikuti Diklat tapi Tolak Hisab Penyerasian

Kamis, 14 Desember 2006 | 06:59 WIB

Surabaya, NU Online
Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur menolak pemakian pedoman hisab penyerasian yang dulu telah disepakati bersama antara Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) bersama pengurus wilayah-wilayah, termasuk Jawa Timur. Jika hisab penyerasian tetap dipakai PWNU Jatim bahkan mengancam akan mengadakan ikhbar atau pengumuman awal Syawal sendiri tahun depan, sebagaimana dilakukan tahun ini.

Demikian salah satu di antara tujuh tujuh poin kesepakatan pertemuan antara PWNU Jatim, Pengurus Wilayah Lajkan Falakijah (PW LF) Jatim, dan Pengurus Cabang (PC) LF Se-Jatim dan para utusan dari pondok-pondok pesantren di Jawa Timur yang berlangsung di Kantor PCNU Mojokerto, Rabu (13/12).

<>

Selain karena dipandang tidak ilmiah, hisab penyerasian itu nantinya akan tidak sesuai dengan sistem kitab manapun yang sudah ada saat ini. Bahkan akan bisa dianggap sebagai bikin kitab sendiri. PWNU Jatim meminta tidak tidak ada yang menilai kitab-kitab salaf seperti Sullamun Nayirain, Fatchu Raufil Manan, Ittifaqu Dzatil Bain, dsb., sebagai memiliki akurasi rendah dan tidak layak lagi dipakai.

Namun semua itu masih akan diteliti dan dibuktikan lagi oleh PW LF Jatim melalui sebuah pembuktian tersendiri yang dijadwalkan pada bulan Maret 2007. Penelitian tidak hanya berlaku untuk kitab-kitab salaf, tapi juga kitab-kitab yang datang dari Barat.

Pertemuan itu sedianya dimaksudakn sebagai ‘pembekalan’ utusan yang akan datang ke acara Diklat Falakiyah yang dilaksanakan oleh Pengurus Pusat Lajnah Falakiyah PBNU di Semarang. Pertemuan yang berlangsung mulai pukul 10.00 WIB hingga pukul 16.00 WIB itu berjalan serius, dibuka langsung oleh Rais Syuriah KH A Masduqi Mahfudz.

Persidangan dipimpin secara bersama-sama antara KH Miftachul Akhyar, KH Mas Muhammad Subadar, KH Aziz Mansur (semuanya Wakil Rais); KH Hasyim Abbas (Katib), KH Abdurrahman Navis Lc, KH Syafruddin (keduanya Wakil Katib) dan KH Yasin Asmuni (Ketua PW LBM).

Sedangkan pengurus Tanfidziyah juga hadir komplit. Mulai dari Dr H Ali Maschan Moesa MSi (Ketua), Abdul Wahid Asa, KH Hasan Mutawakkil Alallah dan Soleh Hayat (Wakil Ketua), Masyhudi Mukhtar MBA (Sekretaris), H Sujono (Wakil Sekretaris) dan H Abdul Muid (Bendahara). Sedangkan H Salam Nawawi (Ketua PW LF) hadir sebagai peserta aktif.

Acara yang dikemas dengan Pertemuan Terbatas Ahli Falak itu berjalan seru. Persidangan berjalan alot, karena masing-maing utusan banyak memberikan usul dan interupsi. Bahkan untuk membahas pertanyaan pertama saja (dari 7 pertanyaan yang ada), baru bisa selesai pukul 13.30 WIB. Namun secara umum, kebanyakan mereka mengeluhkan sikap PB dan PP LF yang dinilai sudah mau mengubah sistem rukyat dengan model hisab. Padahal rukyat sudah menjadi keputusan resmi NU sejak lama.

Di antara perdebatan sengit itu terjadi seputar pertanyaan: masih layak pakaikah kitab Sullamun Nayyirain untuk jaman sekarang? Utusan Malang menjawab tidak layak lagi, karena kitab itu dikarang lebih dari 650 tahun yang lalu. Datanya tidak akurat lagi sebab peredaran bumi dan bulan sudah mengalami pergeseran setiap tahunnya. Disamping itu, kitab tersebut juga masih berpandangan bahwa bumi itu datar, sementara pendapat umum saat ini bumi adalah bulat.

Yang tidak kalah penting, penulisnya sendiri sudah berpesan bahwa kelak kitabnya itu akan tidak sesuai lagi dengan jaman. Oleh karena itu pemakai diminta untuk mengujinya kembali melalui gerhana matahari dan gerhana bulan. Orang NU sebaiknya menggunakan falak tahqiqi (modern) dan meninggalkan falak model taqribi (kuno).

Utusan Bangkalan menyangkal pendapat itu. Baginya, tidak perlu ada pemilahan antara taqribi dan tahqiqi, karena pada dasarnya semua falak adalah taqribi (bersifat kira-kira). Semuanya tetap harus dibuktikan dengan rukyat. Di samping, semua bidang ilmu juga mengalami perubahan. Dulu orang Barat meyakini planet ada sembilan. Padahal sekarang mereka bilang 12. Dulu Pluto itu planet nomer 9, tapi sekarang malah tidak diakui sebagai planet.

Di sisi lain, shofwere bikinan orang Barat seperti Epimeris dan Nautika yang saat ini banyak beredar di internet dan dijadikan rujukan PBNU dan Depag, sudah banyak mengalami perubahan. Sudah sering diperbaiki oleh pembuatnya, karena banyak hang dan kurang akurat.

“Karena itu tidak perlu lagi ada pemilahan tahqiqi dan taqribi, yang penting buktikan melalui rukyat!,” ujarnya dengan penuh semangat. Walhasil, kebanyakan musyawirin berpendapat, sekalipun sudah berumur ratusan tahun, namun metode itu masih dirasa paling akurat hingga saat ini.

Jatim Siap ke Semarang

Kiai Miftahul Ahyar menuturkan, pada prinsipnya Jawa Timur siap menghadiri pelatihan di Semarang. Semu


Terkait