Presiden AS terpilih Barack Obama dinilai sama dengan Geoge W Bush. Obama yang bungkam seribu bahasa dalam kasus serangan Israel di Jalur Gaza telah mempertegas keraguan Arab bahwa kebijakan luar negeri presiden kulit hitam pertama AS di Timur Tengah tak akan begitu berbeda dari pendahulunya.
Di hari keempat serangan udara Israel yang menewaskan lebih dari 380 orang di Gaza, Presiden AS terpilih itu belum menentukan posisinya meski dia pernah lantang mengomentari serangan kaum militan di Mumbai dan dalam soal ekonomi AS.<>
"Dia ingin berhati-hati dan saya kira dia akan tetap hati-hati karena konflik Arab-Israel bukanlah prioritas kebijakannya," kata Hassan Nafaa, pakar politik asal Mesir dan Sekretaris Jenderal Forum Pemikiran Arab di Amman, Yordania.
"Posisi Obama sangat membahayakan. Lobi Yahudi telah mengingatkannya dengan menentang pemilihannya sebagai presiden AS. Makanya, dia memilih tetap diam (dalam soal Gaza)," imbuh Hilal Khashan, profesor ilmu politik pada Universitas Amerika di Beirut.
"Jika Obama terus-terusan diam (maka) bungkamnya itu akan dilihat dan memiliki dampak operasional berupa dukungan terhadap perang Israel di Gaza," kata Paul Woodward dari Conflicts Forum, sebuah organisasi yang berupaya mengubah persepsi Barat terhadap gerakan-gerakan militan muslim seperti Hamas.
Dunia Arab secara luas menyambut antusias kemenangan Obama pada pemilu November lalu dengan alasan wajah segar di Gedung Putih akan lebih baik ketimbang Presiden George W. Bush yang menginvasi Irak dan terkenal sebagai pendukung fanatik Israel.
Keputusan Obama membentuk tim kebijakan luar negerinya sekarang, khususnya Hillary Clinton sebagai Menteri Luar Negeri dan Rahm Emmanuel sebagai Kepala Staf Gedung Putih, telah mempertebal keraguan Arab bahwa kebijakan luar negeri AS di kawasan itu tak akan berubah.
Mustafa al Sayed dari Universitas Kairo berkata, "Saya sangat pesimistis karena begitu melihat orang-orang yang mengitari Presiden terpilih Obama, saya langsung tahu mereka adalah sahabat-sahabat Israel yang tidak akan berani berseberangan dengan posisi pemerintah Israel."
Tidak seperti umumnya pemerintahan negara-negara besar dunia, pemerintahan Presiden Bush tidak pernah mengimbau gencatan senjata antara Israel dan Hamas yang menguasai Jalur Gaza, sebuah sikap yang juga ditunjukkannya saat Israel menginvasi Lebanon pada 2006. (ant/sam/nur)