Jakarta, NU Online
M Diennaldo, sekretaris Lembaga Seniman dan Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi) memaparkan kepada NU Online, Rabu (15/2) bahwa tantangan Lesbumi semakin besar. Lesbumi berhadapan dengan budaya dan seni pasar. Budaya popular mereka, didukung media besar nasional.
Seni dan budaya pasar yang diusung tv maupun radio, adalah hiburan semata. Ini cukup mengancam seni dan tradisi lokal masyarakat Indonesia, termasuk Nahdliyin didalamnya.
<>
“Lesbumi bukan lembaga seni yang bervisi kapital. Lesbumi dalam gerakannya selalu mengusung dakwah,” menurutnya. Ini penting. Lesbumi tidak memandang karya seni maupun bangunan kebudayaan diarahkan untuk mengambil keuntungan darinya, tetapi, adalah bagaimana dakwah mendapat tempat dalam seni dan budaya. Atau saling bertukar posisi. Hal ini tentu dimungkinkan sehingga dakwah tampak indah dan seni plus budaya tak hilang arah.
Menurutnya, NU melalui Lesbumi merumuskan strategi selangkah lebih depan dari budaya massa itu.
“Kita tidak boleh lupa. Di samping penguatan hard power seperti senjata, Kita pun harus menganyam soft power, itulah seni dan budaya,” tambahnya.
Strateginya adalah memberikan panggung untuk kesenian lokal dan mendorong kreatifitas masyarakat untuk mengapresiasi karya seni dan budaya sendiri.
Lesbumi sebentar lagi memasuki usia 50 tahun, tepatnya 28 Maret 2012. Menyambut pertambahan usianya, Lesbumi berencana akan melancarkan strateginya dengan memberi panggung bagi seni dan budaya lokal, seperti pagelaran wayang dan ziarah ke makam pendiri Lesbumi.
Redaktur: Mukafi Niam
Penulis : Alhafidz Kurniawan