Cerpen

Kutukan Lapuk dari Tanah Terkutuk

NU Online  ·  Ahad, 14 Juni 2026 | 15:00 WIB

Kutukan Lapuk dari Tanah Terkutuk

ilustrasi (NU Online/AI Generated)

Banyak kerabat Alsin, entah laki-laki atau perempuan yang tidak menikah. Beberapa di antara mereka sudah menginjak usia setengah abad. Alsin tak tahu pasti apa sebabnya, apakah itu pilihan dengan dasar sadar, sesadar-sadarnya atau karena semata-mata pasrah tak kunjung mendapatkan pasangan hidup. Entahlah, Alsin tak berani menanyakan kepada mereka perihal itu.

 

“Zaman sudah berubah, sudah tak ada lagi yang namanya mak comblang,” jawab ibu Alsin dengan menghela nafas ketika Alsin tanya mengapa banyak dari kerabatnya yang tak menikah. “Kabar yang beredar, katanya mereka pemilih. Padahal kata pepatah jawa, pilah pilih tebu hasilnya mambu. Tetapi yang jelas, tak ada alasan bagi kamu untuk mengikuti jejak mereka, karena pergaulanmu lebih luas.”

 

Tatkala Alsin menginjak umur tiga dasawarsa dan tak ada tanda-tanda untuk menikah, maka hati ibu Alsin berselimut kegelisahan. Sebenarnya, bisa saja ia mencarikan belahan jiwa untuk anaknya. Namun, ia sudah berucap dalam janji untuk tidak berurusan dengan yang namanya perjodohan. Trauma masa lalu yang membuatnya terikat dengan itu. Ibu Alsin dan mendiang bapak Alsin menikah karena dijodohkan dan mahligai rumah tangganya panas diselimuti bara api.​​​​​​

 

Alsin merasa gagal dalam segala hal, dari mulai studi hingga pekerjaan. Kehidupannya hanya bergantung dari honor menulis yang tak pasti. Untuk menghidupi kehidupannya seorang diri saja kembang kempis. Alhasil Alsin merasa tak pantas menjalankan ibadah yang katanya sunnah rasul. Tentu Alsin tak mengatakan hal tersebut kepada ibu, sebab sudah barang tentu ia akan mematahkan alasannya. Ia pasti akan menjawab “Teman-temanmu yang kehidupannya tak lebih baik dari kamu saja berani untuk menikah. Jangan khawatir dengan yang namanya rezeki, sebab kita punya yang memberi hidup.” Ditambah lagi ibu Alsin pasti akan menjamin kehidupan rumah tangga anaknya dengan sawah dan perhiasan yang ia miliki. Sementara itu Alsin tak ingin menjadi beban hidupnya, sudah cukup pengorbanan yang ibunya lakukan selama ini untukknya.​​​​​​​

 

Kekhawatiran ibu Alsin semakin membuncah, manakala anak keduanya mengikuti jejak anak sulungnya. Ia yang sedang berada di Inggris untuk studi S2 Kimia Universitas Cambridge dengan terus terang mengatakan kepada ibunya melalui sambungan telepon bahwa dirinya memutuskan untuk tidak menikah. Hal ini membuat dirinya berpikir ke depan, jika anak pertama dan keduanya memutuskan untuk tak menikah, maka bisa dipastikan anak bungsunya juga akan mengikuti jejak dua kakaknya.​​​​​​​

 

Alsin tak kaget dengan keputusan adiknya itu. Satu tahun yang lalu, sebelum keberangkatannya ke Inggris, ia mengatakan bahwa dirinya memutuskan untuk tak menikah. Ketika Alsin tanya kenapa, dengan enteng ia hanya mengatakan bahwa dulu ia sering mendapati ibu dan bapak yang bertengkar hebat.

 

“Keputusan kamu dan adikmu, apakah disebabkan karena kalian lebih banyak menghabiskan waktu di tanah orang, sehingga tercerabut dari akar?” tanyanya dengan nada berat, seolah-olah menahan gundah pada suatu senja di teras rumah. “Terputus sudah garis keturunan bapak dan ibu, jika memang itu keputusannya.”

 

“Barangkali karena trauma masa lalu,” jawabnya. Ibu seolah paham dengan apa yang Alsin katakan, sehingga ia menjawab, “Ibu menikah dijodohkan, sehingga banyak tidak cocoknya. Kalau menikah atas dasar cinta, sesulit apapun hidup akan terasa enteng.”

 

“Kata kakek, ketika aku umur 3 tahun, ibu hampir saja bercerai dengan bapak?”

 

“Ya, saat itu kakek muak dengan bapakmu. Ternyata ia jauh dari apa yang kakekmu bayangkan. Kakekmu merasa ditipu oleh mak comblang yang bernama Ikram. Ternyata bapakmu bukan pemilik warung makan seperti yang Ikram katakan, ia hanya juru masak.”


“Lalu kenapa tidak jadi?”


“Karena ibu tak ingin kamu kehilangan kasih sayang ayah.”


“Alasan klasik,” kata Alsin.


“Kalau saat itu ibu bercerai, kedua adikmu tidak akan lahir. Ibu saat itu bertekad untuk memiliki penghasilan sendiri, tak mau bergantung kepada bapakmu. Maka ibu membuka usaha catering,” kenangnya,  “Alhamdulillah, hasil usaha itu bisa untuk membuat rumah, membeli sawah. Kalau hanya mengandalkan gaji bapakmu, kita pasti masih tinggal sempit-sempitan di rumah mertua, dan yang ada hanyalah tangisan saja. Pertengkaran sering terjadi, sebab aku merasa bapakmu nggak mau berpikir. Dengan kata lain ia pasrah dengan uang yang dihasilkannya, tanpa mau memutar otak agar penghasilannya bertambah.”


Atas saran dan kanan dan kiri, ibu Alsin mengajak Alsin untuk pergi ke ahli suwuk terkenal di kampungnya.


“Nanti adikmu pulang dari Inggris, akan ibu bawa juga ke Ki Am,” ujarnya.


Sebenarnya Alsin tak percaya dengan hal-hal begitu, tetapi karena ibunya memaksa, apa boleh buat ia menurutinya. Rumah Ki Am terletak di ujung timur kampungku. Maka pada malam wetonnya, malam Jumat Kliwon, Alsin dan ibunya berkunjung ke rumahnya.


Alsin jarang berada di kampung, kalaupun pulang cuman sebentar. Akibatnya, Alsin tak begitu mengenal orang-orang di kampungnya. Baru satu tahun belakangan ia sering pulang kampung dan bisa sampai satu bulan berada di kampung. Alsin mengira Ki Am sudah tua, jalan membungkuk, rambutnya dipenuhi uban, dan memakai tongkat. Ternyata dugaannya salah, umurnya masih empat dasawarsa. Ia mempersilahkan duduk di ruang tamu dan menghidangkan teh manis.


Tanpa diminta ibunya langsung menyampaikan maksud kedatangannya, “Pertama kedatangan kami ke sini silaturahmi, kedua ikhtiar.”


“Siapa yang sakit?”


“Ini anak sulungku,” ujar ibu Alsin sambil menepuk bahu Alsin. “Usianya sudah masuk tiga puluh tahun, namun tak mau menikah.”


“Kutukan kerek (lapuk),” celetuknya. “Anakmu terkena kutukan menjadi lapuk dengan kata lain tidak menikah, sama seperti yang dialami oleh sepupu-sepupu kamu. Apa di keluarga besar kamu tak ada yang cerita perihal kutukan itu?”


“Ya, aku ingat. Dulu ketika aku kecil, kakekku pernah menceritakan tentang kutukan itu. Kutukan yang disebabkan oleh ayah dari kakekku. Aku kira kutukan itu tak terjadi, sebab kakek sudah membuat rajah (Jimat penangkal).”


“Rajah itu berfungsi ketika kakekmu masih hidup, ketika ia meninggal rajah itu kehilangan khasiatnya. Buktinya sepeninggal kakekmu, kedua bibimu dan sepupu-sepupumu tak kunjung menikah,” paparnya. “Waktu itu kamu menikah saat kakek masih hidup kan?”


“Aku menikah tiga tahun sebelum kakek wafat.”

“Weton anak kamu apa?”


“Jumat Kliwon.”


Ki Am pun pamit masuk ke kamarnya, tak berselang lama ia kembali ke ruang tamu dengan membawa botol berisi air dengan bertuliskan huruf-huruf arab. Lalu ia menyerahkannya kepada Alsin dan mengatakan agar air tersebut diminum sebelum tidur. Ia juga memberikan rajah berupa kalung kepada Alsin. Lalu ibu Alsin pamit kepada Ki Am sambil menyerahkan amplop putih.


Di rumah, Alsin menanyakan kepada ibunya tapa yang dimaksud oleh Ki Am tentang kutukan kerek. Ibunya bercerita, “Hal ini bermula dari kakek buyut ibu, Karta namanya. Berarti ia adalah kakek canggahmu. Dulu ia menggarap tanah tak bertuan. Orang-orang kampung tak ada yang berani menggarapnya, sebab berdasarkan cerita, tanah tersebut adalah tanah terkutuk.”


Ibu Alsin menceritakan bahwa tanah terkutuk itu dulunya milik kakak beradik. Orang tua mereka sudah lama meninggal. Orang kampung menjulukinya bujang kerek (Bujang lapuk)dan perawan kerek (Perawan tua).


“Entah dari mana asalnya cerita bohong itu. Mereka dituduh melakukan hubungan terlarang. Padahal tak pernah sekalipun terbesit dalam pikiran mereka untuk melakukan perbuatan nista itu. Cerita itu dihembuskan oleh orang yang ingin menguasai rumah dan kebun peninggalan orang tua mereka. Saat itu sang adik memang perutnya membesar karena sakit bukan hamil. Sang kakak sendiri tak tahu sakit apa yang dideranya, ia menduga terkena teluh (santet),” papar ibunya.


Lebih lanjut ibunya mengatakan bahwa pada akhirnya warga kampung berbuat nekat. Pada suatu malam mereka mengepung rumah kakak beradik itu. Sang kakak diseret dengan paksa ke luar rumah, begitu juga dengan adiknya yang terbujur lemah di ranjang bambu. Terdengar teriakan, “Bakar saja!” “Iya, bakar! Supaya kampung kita tidak terkena azab.”


Sebelum api menjilat badan mereka berdua, sang kakak mengucapkan kutukan dengan lantang, “Siapapun yang menggunakan tanah ini, anak keturunannya akan menjadi bujang kerek dan perawan kerek.”


“Mbah Karta nekad tak mempedulikan cerita yang entah nyata atau mitos. Tanah yang telah berubah menjadi sawah itu selanjutnya diwariskan kepada anak sulungya yakni kakek buyutmu. Mbah Doer mendapatkan mimpi, didatangi oleh dua orang, laki-laki dan perempuan. Mereka mengaku sebagai pemilik tanah yang telah berubah menjadi sawah. Kedua orang tersebut kemudian mengutuk bahwa anak keturunan Mbah Doer tidak akan menikah.”​​​​​​​

 

Kata ibu Alsin, selepas mimpi itu, Mbah Doer datang ke orang sakti di kabupaten sebelah yang terkenal ahli suwuk (Pengobatan tradisional menggunakan doa). Oleh orang tersebut, Mbah Doer diminta untuk membuat rajah (Jimat penangkal), tetapi harus puasa mutih selama empat puluh hari. Tujuannya agar kutukan tersebut tidak benar-benar terjadi.

 

Tanpa sepengetahuan ibunya, air pemberian Ki Am tak Alsin minum. Ia malah membuangnya ke kloset. Begitu juga dengan kalung rajah yang diberikan, ia buang ke tong sampah. Satu bulan kemudian Alsin mendapatkan pesan chat dari mantan pacarnya Gentari. Ia memberi kabar bahwa ia baru saja bercerai dengan suaminya, yang dinikahinya tiga tahun lalu lewat perjodohan. Ia meminta Alsin datang untuk menemui orang tuanya. Alsin mengabaikannya. Kejadian tiga tahun lalu kembali terulang, di mana ia tidak berani datang menemui orang tuanya. Alsin masih takut dengan yang namanya ikatan pernikahan.


Malik Ibnu Zaman lahir di Tegal Jawa Tengah. Menulis cerpen, puisi, esai, dan resensi yang tersebar di beberapa media online. Buku terbarunya sebuah kumpulan puisi berjudul Kumpulan Orang Kalah (2026).

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang