Cerpen

Aroma Melati Minyak Wangi Ibu

NU Online  ·  Ahad, 2 Agustus 2026 | 17:00 WIB

Aroma Melati Minyak Wangi Ibu

Ilustrasi (NU Online/AI Generated)

Malam Jumat. Kuingat betul malam yang satu ini. Orang-orang meyakini bahwa malam Jumat merupakan malam yang sangat keramat. Malam yang paling istimewa bila dibandingkan malam-malam lainnya. Sebagian orang meyakini bahwa malam Jumat itu merupakan waktu yang sangat mulia untuk mengamalkan berbagai amalan kesunahan. Ada pula yang mengatakan bahwa di setiap malam Jumat ruh orang-orang yang telah meninggal dunia akan pulang ke rumahnya. Oleh karena itu, setiap malam Jumat mereka tidak pernah mengosongkan guci air minum dan bakul nasi. 

 

Aku dan istri baru sampai rumah dari perjalanan menyambangi anak di pondok Kediri. sekira pukul delapan malam. Teras dan dalam rumah gelap gulita. Saat akan berangkat aku lupa menyalakan lampu teras. 


Entah kenapa tiba-tiba ada yang agak ganjil. Di rumah terdengar suara orang yang sedang menuangkan air dalam gelas. Ah, mungkin hanya pendengaranku saja yang salah. Aku ingin memastikan suara itu dengan bertanya kepada istri. Istriku menjawab tidak mendengar suara apa-apa. Berarti benar bahwa itu hanyalah pendengaran saya saja yang salah. 


Pyarr, tiba -tiba dari dalam rumah terdengar suara gelas jatuh. Kutatap wajah istriku yang sepertinya dia juga terkejut. Berarti suara gelas jatuh ini benar adanya. Mungkin ulah si tikus yang selalu usil tiap malam.

 

“Kunci rumah,” kata istriku dengan tatapan mata panik sambil merogoh tas kecil yang masih tergantung di pundaknya.


“Ada dalam mobil,” kataku singkat.


“Syukurlah. Kukira tertinggal di warung sewaktu makan bersama anak kita di Kediri tadi.”


“Tadinya kunci itu tergeletak di dekat tasmu. Saat berdiri, kuncinya tidak kamu masukkan ke dalam tas karena lupa. Akhirnya, kunci itu kubawa dan kuletakkan di laci mobil.”


Aku ke mobil mengambil kunci rumah. Aku memberikannya kepada istri. Aku kembali ke mobil untuk mengambil oleh-oleh yang tadi sempat kubeli bersama anakku.
Istriku tertegun di depan pintu rumah seperti patung. Dia tidak mengatakan apa pun. Aku mendekatinya lalu bertanya kenapa tidak segera melangkah masuk rumah. Istriku masih terdiam. Kutanya ulang, dia tetap bergeming. Lalu kutepuk pundaknya. Istriku tergeragap.

 

“Ibu, Mas,” katanya singkat.


“Ibu? Bukankah ibu seminggu yang lalu sudah seribu harinya?” tanyaku penasaran.


“Dia di dalam rumah.”


“Sadar, Bu. Ibumu sudah tiada. Tidak mungkin dia pulang kembali.”


“Tapi bau minyak wangi ini milik ibu. Minyak wangi aroma Melati,” bantah istriku yang masih yakin bahwa ibunya berada dalam rumah. Aku menggandeng tangan kanan istriku lalu kuajak masuk rumah.


Saklar lampu teras dan ruang tamu kunyalakan. Istriku duduk di kursi tamu. Wajahnya pucat. Dia seperti orang kebingungan. Istriku masih penasaran dengan minyak wangi aroma melati kesukaan ibunya. Aku duduk di sampingnya. Kudekatkan mulutku ke telinga. Aku membisikkan pesan agar segera mengirim sura Fatihah buat almarhumah ibunya. Sejenak suasana hening. Kulihat mulut istriku berkomat-kamit. Rupanya dia menuruti pesanku agar mendoakan almarhumah ibunya.


​​​​​​​Nuansa mistis malam Jumat masih melekat di hati istriku. Dia tidak berani beranjak menuju ruang belakang. Istriku masih menghendaki aku mendampinginya berjalan menuju ruang belakang. 


​​​​​​​Ruang belakang rumah hampa. Tak ada bekas-bekas doa yang menyibak remang rumahku. Mungkin karena seharian kami tidak di rumah sehingga salah satu dari kami tidak melaksanakan salat di rumah. Kulirik mata istriku yang terpaku menatap meja makan. Meja yang selama hidup ibunya digunakan sebagai tempat makan. Di bawah guci tempat galon air minum, terdapat serpihan kaca gelas yang terjatuh tadi. Kelopak mata istriku menatap serpihan gelas kaca tersebut dengan sangat dalam. Perlahan-lahan kornea mata istriku berkaca-kaca. Tak lama kemudian butiran air mata berjatuhan di lantai ruang makan.


​​​​​​​Aku mengerti istriku sedang dilanda kerinduan pada ibu. Aku mencoba menasihatinya agar selalu mendoakan ibu. 


“Sudah, Pak. Setiap hari usai melaksanakan salat lima waktu, aku selalu mengirim doa padanya,” kata istriku.


“Lalu kenapa kau masih menangis seperti ini?”


“Aku merasa bersalah. Galon air dan bakul nasi kosong semua. Ruh ibu marah hingga membanting gelas. Mungkin saat ruh ibu akan minum, tak setetes pun air yang keluar dari galon. Piring-piring di meja makan itu juga berantakan. Ruh ibu marah karena saat akan makan tidak ada sesuap nasi pun di dalam bakul,” katanya dengan suara yang berat lantaran dikuasai rasa bersalah.

 

Astaghfirullah, istriku lupa. Apakah gegara dia kecapekan setelah menempuh perjalanan jauh pergi-pulang Lamongan-Kediri sehingga emosinya terguncang? Atau hal mistis malam Jumat masih tersemat kuat dalam pikirannya hingga membentuk fosil dan sulit dilepaskan dari pikirannya? Aku harus bersabar. Aku tidak boleh egois dengan serta-merta menyalahkan istriku dengan nada suara tinggi. Meksipun aku sudah berulang-ulang memberi nasihat bahwa orang yang meninggal dunia tidak akan kembali ke rumah setiap malam Jumat lalu butuh makan nasi dan minum air. Itu keyakinan yang konyol. Yang pernah aku dengar setiap malam Jumat kita dianjurkan membaca surat Yasin, membaca doa-doa permohanan ampunan kepada Allah buat ahli kubur.  Bukan menyediakan nasi dan air minum. Yang bisa ke langit dunia lalu berdiri di sekitar rumah itu ruh, bukan jasadnya. Ruh butuh kiriman doa dari yang masih hidup. Jasadnya tidak butuh makan minum karena sudah hancur dan menyatu dengan tanah. 


​​​​​​​Istriku masih berdiri di ruang makan. Dia kurangkul pelan lalu kupapah berjalan menuju kamar agar bisa beristirahat meskipun sejenak. Kutenangkan pikirannya agar tidak berlarut-larut dalam rasa bersalah. 

 

“Kamu kecapekan. Beristirahatlah sejenak. Setelah itu, segera bersihkan badan, wudlu, lalu kita salat isyak berjamaah denganku. Tadi dalam perjalanan kita tidak sempat mampir masjid untuk menunaikannya,” pintaku.


​​​​​​​Malam Jumat kian larut. Suasana malam itu benar-benar hening sehingga suara dengkur istriku terdengar nyaring sekali. Ia lelap lantaran kecapekan dalam perjalanan. 


“Ibu, ibu, ibu!” suara istriku tiba-tiba. Dia kemudian terbangun dengan napas terengah-engah seperti habis lari jarak jauh. Bola matanya berputar kencang. Mencari sesuatu di sudut-sudut kamar. Istriku berdiri lalu berjalan cepat menuju kamar ibu yang sejak meninggal dunia tanpa penghuni.

 

“Astaghfirullah, aku bermpimpi bertemu ibu,” imbuhnya.


​​​​​​​Begitu kuat ikatan batin seorang anak dan ibu. Meskipun sudah hampir tiga tahun berpisah alam, istriku seakan belum bisa menerima takdir ini dengan sempurna. Setiap kali melihat atau menjumpai benda yang ada di rumah ini yang ada hubungannya dengan ibu, istriku selalu menangis. 


​​​​​​​Pernah aku berkehendak membuang atau melenyapkan benda-benda itu. Namun,  istriku selalu menolak dengan keras. Niatku baik. Siapa tahu dengan melenyapkan benda-benda itu istriku tidak berhalusinasi lagi tentang ibu. Ibu juga akan merasa tenang di alam kubur lantaran tidak ada lagi suara ratapan istriku.


​​​​​​​Apa boleh buat. Niatku terbentur dinding kokoh ikatan batin seorang anak dan ibu. Aku tidak mampu berbuat apa-apa. Dia tetap merawat benda-benda yang identik dengan ibu. Bahkan, kebaya yang sering dikenakan ibu, selalu dipakainya. Sampai-sampai terkadang aku kaget melihatnya. Kukira ibu kembali hidup.  


Malam Jumat belum sampai ke titik pagi. Auranya masih tergantung di lampu kamar yang semakin temaram. Aku berusaha menyadarkan istriku agar dia tidur lagi. Jarum jam masih berlabuh di pukul 2 dini hari. 


“Tidak bisa tidur lagi, Pak. Aroma melati masih menyengat. Ibu berada di sekitarku,” katanya lirih.

 

Aku menggeleng-gelengkan kepala. Dia tetap yakin ibunya benar-benar ada di rumah. Sedangkan malam Jumat yang tinggal sepertiga akhir ini akan segera berganti pagi. Aku berbisik di telinga istri untuk menyampaikan saran. 


“Daripada tidak bisa tidur, lebih baik gunakan salat malam. Ini akan lebih bermanfaat daripada digunakan berhalusinasi dengan peristiwa yang tidak jelas,” saranku.
Istriku bergeming. Dia tidak merespon saranku. Dia tetap telentang sambil memiringkan tubuhnya membelakangiku. Terdengar sedu tangisnya menyesak dada. Air mata kerinduan pada ibu mengalir dan membasahi bantal yang sarungnya baru dicuci kemarin. 


​​​​​​​Tiba-tiba istriku duduk. Dia menggeser tubuhnya lalu turun dari ranjang. Kakinya melangkah ke belakang sembari menimbulkan suara suruk yang kian lama kian tak jelas. Aku mendengar gemericik air kran. Sepertinya istriku membasuh muka. Dia menyucikan diri dengan berwudlu. Kemudian kudengar dia mengibas-ngibaskan lipatan mukena yang terlipat di ruang salat. 

 

Aku mulai tenang. Diam-diam istriku memperhatikan saran dan nasihatku. Dia melaksanakan salat malam. Dia bermunajat dan memohon kepada Allah agar dibimbing ke jalan yang benar. Dia juga berdoa semoga ruh ibunya mendapat limpahan kasih sayang dan ampunan dari Allah.


​​​​​​​Udara dini hari menyusup dalam kamar. Dinginnya menyusup melalui angin-angin rumah. Tubuhku menggigil. Gigiku gemeretak. Sarung dan selimut kututupkan di sekujur tubuh. Mataku kian berat. Kelopaknya tak mampu menahan kantuk. Pelan-pelan terpejam. Lambat laun kesadaranku melemah lalu larut dalam dengkur. 

 

Aku terbangun saat merasakan tangan lembut istriku menepuk pelan tubuhku yang tertutup selimut. Dia membangunkanku untuk melaksanakan salat subuh berjamaah. Kutatap sekilas wajah istri. Wajahnya mulai berubah sumringah. Senyumnya berkata agar aku segera bangun, mandi, wudlu, lalu salat subuh bersamanya.


Wanar, 28 Juli 2026


​​​​​​​Ahmad Zaini, cerpenis, ketua Lesbumi PCNU Babat, dan guru di SMKN 1 Lamongan. Saat ini tinggal di Wanar, Pucuk, Lamongan, Jawa Timur. 

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang