Banjir Berulang di Keude Asan, Aktivis Muda Nahdliyin Desak Pemkab Bireuen Segera Normalisasi Drainase
NU Online · Jumat, 8 Mei 2026 | 20:00 WIB
Helmi Abu Bakar
Kontributor
Bireuen, NU Online
Banjir kembali merendam kawasan Keude Asan, Gampong Leung Kuli, Kecamatan Peusangan Selatan, Kabupaten Bireuen, Kamis (7/5/2026) malam. Peristiwa tersebut memicu keresahan warga setelah hujan deras sejak sore menyebabkan debit air di saluran drainase meningkat tajam hingga meluap ke jalan dan permukiman.
Warga menilai banjir itu bukan semata akibat tingginya curah hujan, melainkan juga karena buruknya sistem drainase yang hingga kini belum mendapat penanganan serius dari pemerintah daerah.
Aktivis muda Kota Santri Bireuen, Haris Munandar atau yang akrab disapa Gus Atok, menilai persoalan banjir berulang di kawasan tersebut seharusnya dapat dicegah apabila pemerintah bergerak cepat melakukan normalisasi drainase pasca banjir besar Aceh-Sumatra Utara beberapa bulan lalu.
“Ini bukan banjir pertama. Warga sudah berulang kali menghadapi situasi yang sama, tetapi sampai hari ini belum terlihat langkah konkret dan menyeluruh dari pemerintah daerah,” ujar Gus Atok kepada NU Online, Jumat (8/5/2026).
Mantan Ketua GP Ansor Bireuen itu mengatakan pemerintah tidak boleh hanya hadir ketika bencana terjadi, tetapi juga harus serius melakukan langkah pencegahan agar masyarakat tidak terus-menerus menjadi korban.
Menurutnya, saluran air di kawasan Keude Asan sudah lama mengalami pendangkalan dan penyumbatan akibat lumpur serta sampah yang tidak pernah dibersihkan secara maksimal.
“Drainase yang tersumbat ini harus segera dinormalisasi. Kalau dibiarkan, setiap hujan deras masyarakat akan terus dihantui banjir,” katanya.
Ia menilai kondisi tersebut menjadi bukti perlunya evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola mitigasi bencana di Kabupaten Bireuen, terutama di wilayah rawan genangan.
Gus Atok juga mengingatkan bahwa dampak banjir tidak hanya merusak rumah warga, tetapi juga memukul aktivitas ekonomi masyarakat kecil.
“Ketika air masuk ke rumah dan jalan, aktivitas perdagangan lumpuh. Pedagang kecil, anak sekolah, hingga warga yang bekerja harian ikut terdampak,” ujarnya.
Ia berharap Pemerintah Kabupaten Bireuen dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) tidak sekadar melakukan penanganan darurat setiap kali banjir datang, melainkan mulai fokus pada solusi jangka panjang.
Menurutnya, pengerukan drainase, perbaikan saluran air, serta pemetaan kawasan rawan banjir harus segera dilakukan secara serius dan berkelanjutan.
“Jangan tunggu banjir besar baru bergerak. Pemerintah harus menjadikan ini sebagai alarm bahwa infrastruktur drainase kita memang membutuhkan perhatian serius,” tegasnya.
Meski demikian, Gus Atok mengajak masyarakat tetap menjaga semangat gotong royong dan tidak hanya bergantung pada pemerintah. Ia mendorong warga ikut menjaga kebersihan lingkungan dan tidak membuang sampah ke saluran air.
“Penanganan banjir memang tugas pemerintah, tetapi masyarakat juga harus ikut menjaga lingkungan. Kesadaran bersama sangat penting agar saluran air tidak semakin parah,” katanya.
Sebelumnya diberitakan, hujan deras yang mengguyur kawasan Peusangan Selatan menyebabkan banjir kembali melanda Keude Asan di Gampong Leung Kuli. Warga menyebut drainase yang tersumbat menjadi penyebab utama meluapnya air ke permukiman.
Hingga kini, warga masih berharap adanya langkah nyata dari pemerintah daerah agar persoalan banjir berulang tersebut tidak terus terjadi setiap musim hujan tiba.
Terpopuler
1
Innalillahi, Pengasuh Pesantren Tambakberas KH M Fadlullah Malik Wafat, Sosoknya Dikenal Organisatoris
2
PBNU Tetapkan Panitia Munas-Konbes dan Muktamar Ke-35 NU
3
Wapres Gibran Ajak Santri Teladani Mbah Wahab, Gerakkan Persatuan
4
Rentetan Pembubaran Nobar Film 'Pesta Babi' Picu Kritik dan Perdebatan Publik
5
Kunuzur Rohman Karya Katib Syuriyah PBNU Gus Awis Menyingkap Pesan Al-Qur’an untuk Kehidupan ModernÂ
6
Soroti Penilaian Juri LCC di Kalbar, KPAI: Mental dan Kepentingan Anak Harus Diutamakan dalam Kompetisi
Terkini
Lihat Semua