Euforia KH Ahmad Siddiq Harus Diikuti Sosialisasi Pemikirannya
NU Online · Rabu, 12 Juni 2019 | 07:00 WIB
Jember, NU Online
Nama KH Ahmad Siddiq cukup poluler di Jember bahkan di Indonesia. Ini tentu tak lepas dari figur KH Ahmad Siddiq yang dikenal sebagai ulama kharismatik, dalam ilmu agamanya dan luas wawasannya. Keluasan wawasan KH Ahmad Siddiq sering dikait-kaitkan dengan kepiawaiannya menjelaskan hubungan agama dan Pancasila sehingga tak ada keraguan bahwa keduanya tidak bertentangan, bahkan saling menguatkan.
“Itu salah satu jasa KH Ahmad Siddiq yang terus dikenang orang. Yaitu ketika beliau bisa meyakinkan umat Islam dalam forum Munas Alim Ulama di Situbondo (1982). Saya juga merasakan kehebatan beliau karena waktu itu saya masih di situ (nyantri di Pondok Pesantren Salafiyah-Syafi’iyah, Situbondo),” ujar Ketua Lembaga Dakwah Mahdlatul Ulama-PBNU, H Badri Hamidi kepada NU Online saat berkunjung ke kediaman keluarga KH Ahmad Siddiq, Selasa (11/6).
Menurutnya, yang membuat nama KH Ahmad Siddiq semakin sering menjadi perbincangan di ruang-ruang publik akhir-akhir ini adalah karena dua hal, yaitu beliau sedang diusulkan sebagai palawan nasional, dan pada saat yang sama nama beliau juga diusulkan sebagai nama IAIN Jember (jika sudah berubah jadi UIN).
“Dua usaha sama-sama mengusung nama KH Ahmad Siddiq. Pengusulnya beda, obyeknya sama. Dan sudah sama-sama mau gol. Kita tidak tahu yang mana yang lebih dulu gol,” lanjutnya.
Namun bendahara Yayasan Said Aqil Siroj itu mengingatkan bahwa euforia dalam mengusung nama KH Ahmad Siddiq tidak serta merta memberikan dampak bagi pola pikir masyarakat terkait dengan pemikiran cemerlang beliau. Untuk itu, katanya, memang dibutuhkan usaha yang sungguh-sungguh dari pihak-pihak terkait agar tak henti-hentinya melakukan sosialiasi gagasan KH Ahmad Siddiq di tengah-tengah masyarakat.
“Target yang juga penting adalah menyebarkan pemikiran KH Ahmad Siddiq tentang hubungan Pancasila dan agama. Sehingga masyarakat betul-betul paham bahwa Pancasila itu justru menguatkan agama, bukan sebaliknya, melemahkan. Ini yang pelu terus ditebarkan. Kalau gelar pahlawan, kalau sudah didapat, ya selesai. Nama IAIN, kalau sudah jadi, ya selesai. Yang perlu terus disosialisasikan, kan gagasannya,” urainya. (Aryudi AR).
Terpopuler
1
RAPBN 2027 untuk Program MBG Capai Rp240 Triliun, Setara 29 Persen dari Anggaran Pendidikan
2
Gus Ipul Targetkan DPT Muktamar Ke-35 NU Rampung 17 Agustus 2026, Sebut Progres SK 95 Persen
3
Kompensasi kepada Pemilih dengan Dalih Transportasi atau Ongkos Kerja untuk Memengaruhi Pilihan adalah Haram dan Suap
4
Jusuf Kalla Buka Suara soal Kerusuhan di Aceh: Konflik Internal, Bukan ke Pemerintah Pusat
5
Enam Ruko di Lokasi Pembukaan Muktamar Ke-35 NU Dibongkar, Pedagang Dapat Kompensasi
6
Jusuf Kalla Imbau Masyarakat Aceh Jaga Kondusivitas usai Kerusuhan dan Pengibaran Bendera GAM Sabtu
Terkini
Lihat Semua