Jembatan Putus di Pante Kera, Warga Kesulitan Akses
NU Online · Kamis, 16 April 2026 | 08:00 WIB
Potret jembatan putus di Desa Pante Kera, Kecamatan Simpang Jernih, Kabupaten Aceh Timur. (Foto: NU Online/Helmi)
Helmi Abu Bakar
Kontributor
Aceh Timur, NU Online
Warga Desa Pante Kera, Kecamatan Simpang Jernih, Kabupaten Aceh Timur, hingga kini masih mengalami kesulitan akses setelah jembatan penghubung antara Dusun Aluer Merbo dan Dusun Pante Cermin putus akibat diterjang banjir pada akhir 2025 lalu.
Jembatan yang selama ini menjadi jalur utama aktivitas masyarakat itu belum juga dapat difungsikan. Akibatnya, warga terpaksa menggunakan rakit atau getek bantuan BNPB untuk menyeberangi aliran sungai. Namun, sarana darurat tersebut tidak dapat digunakan saat arus sungai deras dan juga tidak mampu mengangkut beban berat, termasuk hasil panen warga.
Kepala Desa Pante Kera Sabilah menjelaskan bahwa jembatan tersebut memiliki panjang sekitar 120 meter dan dibangun menggunakan dana desa pada 2017. Menurutnya, jembatan itu sangat vital karena menjadi penghubung utama mobilitas warga antar-dusun maupun menuju pusat desa.
“Pasca banjir masyarakat yang ingin melintasi Dusun Pante Cermin terpaksa menggunakan rakit atau getek yang diberikan BNPB, dan itu tidak bisa digunakan jika kondisi arus sungai sedang deras,” ujar Sabilah, Rabu (15/4/2026).
Ia mengatakan, kondisi tersebut membuat aktivitas masyarakat sangat terbatas. Warga harus menunggu kondisi sungai aman untuk melintas. Selain itu, hasil panen dalam jumlah besar juga tidak dapat diangkut secara maksimal karena keterbatasan daya angkut rakit yang tersedia.
Sabilah berharap pemerintah segera menghadirkan solusi darurat berupa jembatan Bailey agar akses masyarakat dapat kembali normal. Menurutnya, kebutuhan tersebut sudah sangat mendesak mengingat jalur itu menjadi penopang aktivitas ekonomi dan sosial warga.
“Ini harapan masyarakat, semoga cepat adanya jembatan Bailey, karena kami sangat membutuhkan,” katanya.
Sementara itu, Ketua PCNU Aceh Timur Tgk Safwan turut memberi perhatian terhadap kondisi infrastruktur yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat di pedalaman. Kehadiran akses penghubung yang layak dinilai penting agar aktivitas warga, terutama dalam bidang ekonomi, pendidikan, dan kebutuhan harian, tidak terus terganggu.
Saat ini, warga Dusun Pante Cermin yang hendak keluar dusun atau menuju pusat desa harus melewati aliran sungai yang bersumber dari Sungai Lokop. Untuk sampai ke tujuan, mereka membutuhkan waktu sekitar lima hingga sepuluh menit, bergantung pada kondisi arus dan sarana penyeberangan yang tersedia.
Terpopuler
1
Kader NasDem Demo, Redaksi Tempo Tegaskan Pemberitaan Sesuai Kode Etik
2
UI Investigasi Dugaan Pelecehan Seksual yang Libatkan 16 Mahasiswa Fakultas Hukum
3
Tanya Jawab Imam Asy’ari dan Kalangan Muktazilah soal Siksa Kubur
4
Perundingan AS-Iran Gagal, Ketum PBNU dan Paus Leo XIV Ajak Seluruh Umat Wujudkan Perdamaian
5
Khutbah Jumat: Menata Niat dalam Bekerja agar Bernilai Ibadah di Sisi Allah
6
PBNU Resmikan 27 SPPG di Pesantren Lirboyo
Terkini
Lihat Semua