Kancakona Kopi, Bukan Sekadar Kedai Kopi Biasa
NU Online · Ahad, 17 Februari 2019 | 01:00 WIB
Jember, NU Online
Sebuah kedai kopi yang cukup representatif telah berdiri kokoh di Jember, Jawa Timur. Tepatnya di Jalan Basuki Rahmat Nomor 230, Muktisari, Kelurahan Tegalbesar, Kecamatan Kaliwates, sekitar 4 kilometer ke arah selatan alun-alun kota Jember. Namanya Kancakona Kopi.
Dari namanya, mudah ditebak bahwa kedai tersebut ‘berdarah’ Madura. Kancakona memang diambil dari Bahasa Madura. Kanca berarti teman, dan kona bermakna kuna atau lawas. Kancakona Kopi secara bebas bisa diartikan teman lawas ngopi, atau ngopi bareng kawan lama.
Kancakona Kopi didirikan oleh Ikatan Alumni Annuqayah (IAA) Kabupaten Jember. Sebuah organisasi yang beranggotakan alumni Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep. Oleh karena itu, dari sisi makna, Kancakona menggambarkan adanya keinginan revitalisasi perkawanan atau persahabatan sebagaimana terjalin sewaktu masih di pesantren.
“Dengan Kancakona Kopi, kami ingin terus menjalin tali silaturahim dengan sesama alumni dan terus berkhidmat untuk para kiai dan Pesantren Annuqayah,” kata Ketua IAA Kabupaten Jember, Muhammad Muslim kepada NU Online, Sabtu (16/2).
Kancakona Kopi bukan sekadar kedai kopi biasa. Sebab, selain melayani pelanggan dengan penyajian kopi aneka rasa, di situ juga digelar berbagai kegiatan keagamaan, misalnya pelajaran Qiroatil Quran setiap pekan (untuk anak-anak) dan seminar keagamaan yang diselenggarakan temporal. Walaupun demikian, pengunjung tak perlu khawatir terganggu. Sebab, gedung Kancakona Kopi cukup luas.
“Ke depan, kita akan menggelar kajian kitab kuning yang langsung diasuh oleh salah satu pengasuh pesantren (Annuqayah),” tambah Muslim.
Bukan hanya dari sisi kegiatan, dari sisi pelayanan hingga penataan ruangan, Kancakona Kopi memang menggambarkan karakter usaha yang di baliknya ada sentuhan halus tangan-tangan santri.
Begitu pengujung memasuki ruangan kedai yang didominasi warna putih dan hitam itu, tulisan kaligrafi dan terjemahannya, dapat dijumpai di beberapa sudut. Selain itu, juga terdapat perpustakaan mini, yang disiapkan bagi pengunjung untuk menambah wawasan keagamaannya.
Kendati demikian, Kancakona Kopi terbuka untuk siapapun dan dari manapun. Kedai yang diluncurkan 9 September 2018 tesebut, dikelola secara profesional dengan manajemen modern. Pelayanan yang santun, penyediaan kopi dengan banyak pilihan rasa, dan peralatan yang higienis, menjadi jaminan pengunjung betah berlama-lama di kedai tersebut.
“Tapi untuk live music, kami sepakat ditiadakan,” pungkas Muslim (Red: Aryudi AR)
Terpopuler
1
PWNU dan PCNU Se-DIY Tolak Politik Uang dalam Proses Muktamar NU
2
Lima Kelompok Ini Perlu Jadi Perhatian NU dalam Putusan Muktamar Ke-35 di Tambakberas
3
Kompensasi kepada Pemilih dengan Dalih Transportasi atau Ongkos Kerja untuk Memengaruhi Pilihan adalah Haram dan Suap
4
RAPBN 2027 Dana Pendidikan Rp240 Triliun untuk MBG, JPPI: Jangan Pelintir Putusan MK
5
Data Terbaru Gempa M7,7 NTT: 54 Meninggal Dunia, 199 Luka-Luka, 9 Ribu Warga Mengungsi
6
Jusuf Kalla Buka Suara soal Kerusuhan di Aceh: Konflik Internal, Bukan ke Pemerintah Pusat
Terkini
Lihat Semua