Ketua PWNU Sulsel Tekankan Akhlak dan Ilmu sebagai Bekal Santri Putri
NU Online · Sabtu, 24 Oktober 2026 | 16:00 WIB
Ketua PWNU Sulawesi Selatan AGH Prof Hamzah Harun Al-Rasyid menyampaikan kajian tentang pentingnya akhlak dan penguasaan ilmu pengetahuan bagi pelajar putri di kediamannya di Makassar, Kamis (22/10/2026). (Dok. PW IPPNU Sulsel)
Sahyul Pahmi
Kontributor
Makassar, NU Online
Penguatan akhlak dan penguasaan ilmu pengetahuan menjadi bekal penting bagi santri putri untuk menghadapi tantangan zaman tanpa kehilangan identitas keislaman. Pendidikan pesantren tidak hanya berorientasi pada pemahaman agama, tetapi juga pembentukan karakter dan kemampuan menjawab persoalan masyarakat.
Ketua Pimpinan Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Sulawesi Selatan, AGH Prof Hamzah Harun Al-Rasyid, menekankan pentingnya keseimbangan antara akhlak mulia dan penguasaan ilmu pengetahuan bagi pelajar putri Nahdlatul Ulama (NU).
Pesan tersebut disampaikan dalam Kajian Spesial Peringatan Hari Santri Nasional 2026 yang diselenggarakan Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (PW IPPNU) Sulawesi Selatan di kediaman Ketua PWNU Sulawesi Selatan, Makassar, Kamis (22/10/2026).
Penekanan tersebut menempatkan akhlak sebagai fondasi pembentukan pribadi santri, sementara ilmu pengetahuan menjadi bekal untuk memahami perubahan sosial dan mengambil peran dalam kehidupan masyarakat. Keduanya perlu berjalan beriringan agar pelajar tidak hanya memiliki pengetahuan keagamaan, tetapi juga mampu menerapkannya secara bijaksana.
Dalam konteks kaderisasi pelajar putri, penguatan karakter dan kapasitas keilmuan juga berkaitan dengan upaya menjaga tradisi Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah. Tradisi keagamaan tidak cukup dipertahankan sebagai warisan, tetapi perlu dipahami dan diamalkan melalui perilaku, proses belajar, serta pengabdian sosial.
Sementara itu, Ketua PW IPPNU Sulawesi Selatan, Mardania, menyampaikan bahwa penguatan pemahaman ideologis penting untuk membekali kader dalam menghadapi tantangan moral di era modern. Menurutnya, kader perlu memiliki pegangan nilai yang kuat agar mampu menyikapi perubahan zaman tanpa kehilangan arah.
“Penguatan ideologi penting agar kader IPPNU memiliki pegangan nilai yang kuat, menjaga akhlak, dan mampu menghadapi tantangan zaman tanpa kehilangan identitas sebagai pelajar Nahdlatul Ulama,” ungkapnya.
Penguatan ideologi, dengan demikian, tidak berhenti pada pemahaman terhadap nilai-nilai organisasi. Hal itu juga perlu tercermin dalam pembentukan akhlak, kesungguhan menuntut ilmu, dan tanggung jawab kader dalam kehidupan sehari-hari.
Tema “Merawat Tradisi dan Menguatkan Khidmat Pelajar Nahdlatul Ulama” yang diangkat dalam kajian tersebut sejalan dengan kebutuhan membangun generasi pelajar putri yang mampu memadukan warisan keilmuan pesantren dengan tantangan kehidupan kontemporer.
Bagi IPPNU, khidmat dapat diwujudkan melalui keteladanan, pengembangan kapasitas diri, kepedulian terhadap lingkungan, dan keterlibatan dalam menjawab kebutuhan masyarakat. Dengan bekal akhlak dan ilmu, pelajar putri diharapkan tidak hanya menjadi penjaga tradisi, tetapi juga berperan aktif dalam membangun peradaban dari Sulawesi Selatan.
Terpopuler
1
PBNU Rilis Twibbon Hari Santri 2026, Unduh Linknya di Sini
2
Rais Aam PBNU Sempatkan Ngaji Al-Hikam Sebelum Berangkat Rapat Koordinasi ke Jakarta
3
Khutbah Jumat: 6 Teladan Nabi Yahya bagi Generasi Muda
4
Khutbah Jumat: Krisis Integritas, Ketika Dosa Dianggap Biasa
5
Khutbah Jumat: Menjaga Makanan Halal, Menjaga Keberkahan Hidup
6
Khutbah Jumat: Absennya Tokoh Agama dari Isu Karhutla
Terkini
Lihat Semua