Pontianak, NU Online
Komunitas rumah binaan Khatulistiwa Berbagi dikunjungi aktivis dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Institut Agama Islam Negeri atau IAIN Pontianak Raya dan Komunitas Seangle.Ā
Mereka tergerak dalam dalam agenda Green Charity In Ramadhan yang beralamat di jalan UntongSuropati, Veteran, Pontianak, Kalimantan Barat, Sabtu (25/5).
Rumah binaan Khatulistiwa Berbagi ini berdirisejak tahun 2014 yang dilatar belakangi tergeraknya hati pendiri komunitas ini bernama Anggita Anggraini dan Jimmy. Keduanya prihatin melihat sejumlah anak yang berada di kawasan Waduk Permai kehilangan semangat untuk sekolah. Bagi mereka, sekolah dan cita-cita hingga mimpi hanya dimiliki kalangan orang kaya.
āKomunitas ini memang ditujukan untuk menumbuhkan semangat dan motivasi anak-anak Waduk Permai yang berasal dari kalangan menengah ke bawah,ā kata Anggita, Ahad (26/5)
Menurutnya, sebagian anak-anak di kawasan tersebut beraktifitas menjadi pemulung, pengemis dan pengamen usai jam sekolah. āSehingga ada dari mereka yang tidak naik kelas sampai dua kali,ā kenangnya
Tentu saja perjalanan yang tidak mudah untuk bisa sampai di titik ini. āAwal terbentuknya komunitas mengalami banyak halangan lantaran kegiatan belajar mengajar yang hanya dilakukan dari rumah ke rumah mereka,ā jelasnya.
Hal ini ternyata bermasalah di kemudian hari. āLantaran proses belajar digelar di rumah peserta, dan tidak sedikit warga yang mengusir,ā ungkapnya.
Hingga pada akhirnya dengan proses yang cukup rumit, komunitas mendapatkan rumah khusus untuk proses pembelajaran. āAlhamdulillah hingga kini semakin banyak donatur yang melirik dengan memberi bantuan,ā bangganya.Ā Ā
Salah seorang peserta didik di kawasan ini mengemukakan banyak merasakan perubahan setelah bergabung. āAwalnya yang ada di pikiran saya bahwa cita-cita dimiliki oleh kalangan orang kaya saja,ā ujarnya.Ā
Namun dengan belajar di sini, dirinya yang dulunya sebagai pengemis sudah bisa menyelesaikan pendidikan SMK. ābahkan menjadi staf di salahsatu hotel di Pontianak dan mengabdikan diri di komunitas ini mejadi tenaga pengajar,ā akunya.
Kepekaan masyarakat sekitar terhadap lingkungan dan kehidupan sosial mesti meluas seperti apa yang telah dilakukan penghuni komunitas Khatulistiwa Berbagi.Ā
āSangat miris ketika mendengar langsung pernyataan mengenai kalangan menengah ke bawah tidak berhak memiliki cita-cita,ā kata Anggita.Ā
Baginya, dengan mengunjungi Khatulistiwa Berbagi akan menjadi cambuk bagi mahasiswa yang disebut sebagai agen of change. āAgar mampu menjadi jembatan mewujudkan cita-cita dan menumbuhkan kepercayaan bahwa cita-cita adalah hak semua orang,ā pungkas Anggita. (Lina/Ibnu Nawawi)