NU Demak Selenggarakan Pendidikan Da’i Densus 26
NU Online · Selasa, 30 April 2013 | 09:00 WIB
Demak, NU Online
Nahdlatul Ulama sebagai penerus da’wah Walisongo dan para ulama terdahulu telah meletakkan dasar dasar kehidupan agama yang kuat dan menyatu dengan budaya masyarakat sekitar.
<>
Dengan cara seperti inilah Islam bisa berkembang secara massif dan menjadi agama yang dipeluk oleh mayoritas warga Indonesia. Sayangnya, di awal abad 20 Wahabi masuk di Indonesia dengan dalih modernisasi Islam mulai mengusik dengan membid’ahkan, tahayyul, dan khurofat terhadap amaliah Aswaja yang pada waktu itu dianut masyarakat.
“Wahabi masuk ke Indonesia dengan dalih modernisasi Islam berani mengusik dan mengganggu amaliah ahlussunnah wal jamaah yang selama ini sudah mengakar dan berjalan ratusan tahun dengan kedamaian dan dinamika keislaman dan kebangsaan,” demikian disampaikan pengurus pusat LAZISNU H Fathan Subchi pada acara Pendidikan Khusus Da’i Ahlussunnah wal Jama’ah 26 (Densus 26) Sabtu 27/4 di gedung IHM NU Demunggalan Demak yang diselenggarakan oleh PCNU Demak dengan PP LAZISNU.
Fathan menjelaskan pelaksanaan pendidikan ini menghadirkan narasumber yang sudah ditunjuk oleh PBNU sekaligus kitab yang dijadikan rujukan yaitu Al-Muqtathafat li Ahli Bidayaat.
“Kita menghadirkan KH Marzuki Mustamar karena beliau yang ditunjuk oleh PBNU dengan kitab karangannya Al-Muqtathafat li Ahli Bidayaat,” jelas Fathan.
Dalam pengarahannya dihadapan 400-an kiai, pengurus NU Cabang hingga Ranting serta santri ketua PCNU Demak KH Musyadad Syarif mengatakan pelaksanaan Densus 26 dengan cara ngaji bareng tersebut dimaksudkan untuk menjelaskan amaliah-amaliah Aswaja yang menjadi jantungnya NU dikarenakan menjadi keprihatinan dimana besarnya jumlah warga NU, namun sedikit dalam pemahaman ajaran NU itu sendiri.
“Ngaji Aswaja ini untuk memahami jantungnya NU, dikarenakan banyak orang NU tapi sedikit sekali yang memahami inti ajaran NU itu sendiri.”
Lebih lanjut ketua NU tersebut menambahkan NU didirikan untuk menguatkan Aswaja yang terkait dalam sistem kenegaraan dikarenakan selama ini selalu merujuk pada Piagam Madinah, yaitu konsep yang termaktub dalam hidup kebersamaan dengan penuh toleransi, menghormati antar sesama.
“Piagam Madinah itu kan rahmatan lil alamin. Jika ini terjadi dan berjalan terus maka akan terjadi negara yang kokoh dikarenakan ideologi faham aswaja,” tambah Musyadad
Redaktur : Mukafi Niam
Kontributor : A.Shiddiq Sugiarto
Terpopuler
1
Ini Lafal Doa Akhir dan Awal Tahun Hijriah
2
PBNU Tetapkan Pesantren Al-Falah Ploso Kediri sebagai Lokasi Pembukaan Munas-Konbes NU 2026
3
LF PBNU Umumkan 1 Muharram 1448 H Jatuh pada Rabu, 17 Juni 2026
4
LF PBNU Instruksikan Rukyatul Hilal Awal Muharram 1448 H Sore Ini
5
Koalisi Masyarakat Sipil Soroti Pengerahan TNI dan Komcad dalam Aksi Indonesia Bangkrut
6
Data Hilal Rukyatul Hilal Awal Muharram 1448 H
Terkini
Lihat Semua